Kompas.com - 19/10/2021, 09:20 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berbicara kepada wartawan selama konferensi pers selama sesi ke-76 Majelis Umum PBB, Sabtu, 25 September 2021 di markas besar PBB. AP PHOTO/MARY ALTAFFERMenteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov berbicara kepada wartawan selama konferensi pers selama sesi ke-76 Majelis Umum PBB, Sabtu, 25 September 2021 di markas besar PBB.

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia menghentikan aktivitas misi diplomasi dan kantor aliansi dengan NATO, setelah 8 delegasinya diusir dari Brussels karena dituduh sebagai mata-mata.  

Langkah tersebut diumumkan pada Senin (18/10/2021) oleh Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, dan akan efektif diberlakukan pada awal November.

“Mengikuti langkah-langkah tertentu yang diambil oleh NATO, kondisi dasar untuk kerja bersama tidak ada lagi,” kata Lavrov kepada wartawan di Moskow, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Senin (18/10/2021).

Baca juga: NATO Usir 8 Delegasi Rusia dari Brussels karena Terlibat Spionase

Hal itu menandai keretakan hubungan yang semakin lebar antara Rusia dan NATO.

“Menanggapi kegiatan NATO, kami menghentikan pekerjaan misi diplomasi permanen kami di NATO, termasuk pekerjaan kepala perwakilan militer, mulai 1 November atau akan memakan waktu beberapa hari lagi,” terangnya.

Lavrov juga mengumumkan bahwa kantor penghubung dan informasi militer NATO di Moskwa akan ditutup, dengan mengatakan akreditasi akan ditarik kembali pada awal November.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menteri Luar Negeri Rusia tersebut mengatakan bahwa kontak antara aliansi Barat dan Moskwa dapat dilakukan melalui kedutaan Rusia di Belgia.

NATO mengatakan telah memperhatikan komentar Lavrov, tetapi badan tersebut tidak menerima komunikasi resmi tentang masalah yang terjadi oleh Rusia.

Baca juga: Diam-diam Bekerja sebagai Perwira Intelijen, Delapan Anggota Misi Rusia untuk NATO Diusir

Mata-mata Rusia

Pada awal Oktober, NATO mengusir 8 anggota misi Rusia untuk aliansi transatalntik itu. Namun, NATO menyebut mereka sebagai "perwira intelijen Rusia yang tidak diumumkan" atau dengan kata lain adalah mata-mata.

Rusia mengatakan pada saat itu bahwa pengusiran merusak harapan bahwa hubungannya dengan aliansi yang dipimpin Amerika Serikat dapat menjadi normal.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.