AS Blokir Ekspor Bahan Bakar Radioaktif ke China, Khawatir Beijing Lipatkan Cadangan Nuklir

Kompas.com - 07/10/2021, 22:22 WIB
Foto yang diambil pada 4 Desember 2013 memerlihatkan Joe Biden, saat itu Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping di Aula Besar Rakyat di Beijing. AFP PHOTO/POOL/LINTAO ZHANGFoto yang diambil pada 4 Desember 2013 memerlihatkan Joe Biden, saat itu Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), berjabat tangan dengan Presiden China Xi Jinping di Aula Besar Rakyat di Beijing.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) telah memblokir bahan bakar radioaktif ke China, karena khawatir Beijing ingin melipatgandakan persediaan nuklirnya.

Pemerintahan Presiden Joe Biden memerintahkan Komisi Pengaturan Nuklir untuk memblokir ekspor ke China dengan alasan "keamanan nasional", menurut laporan The Times.

Baca juga: China: Perang Dunia Ketiga Bisa Terjadi Kapan Saja

Ekspor bahan radioaktif dan deuterium ke perusahaan nuklir milik negara China, China General Nuclear Power Group sekarang dilarang berdasarkan perintah tersebut.

Keputusan itu terjadi setelah media pemerintah China menyerukan peningkatan persenjataan nuklir negara itu hingga tiga kali lipat.

The Global Times, surat kabar Partai Komunis yang berkuasa, menerbitkan editorial yang berapi-api tahun lalu di mana ia menuduh Washington mencoba memicu konflik dengan China.

Para pejabat militer China didesak untuk meningkatkan persediaan nuklir negara itu menjadi 1.000 hulu ledak, lebih dari tiga kali lipat ukuran perkiraan saat ini yang sekitar 300.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Surat kabar, yang sering dilihat sebagai corong tanpa filter dari Beijing, itu menyerukan peningkatan persenjataan diperlukan untuk "mencegah potensi tindakan militer impulsif oleh penghasut perang AS".

Baca juga: China Bangun 110 Silo Rudal Baru, AS Ketar-ketir

Sementara itu China sibuk membangun "setidaknya 250 silo rudal jarak jauh" di tiga lokasi, yang memicu kekhawatiran bahwa perlombaan senjata nuklir baru sedang berlangsung.

Ladang silo rudal China ketiga di daerah terpencil di Mongolia Dalam dilaporkan telah difoto oleh satelit Badan Antariksa Eropa, saat Beijing meluncurkan ekspansi nuklir terbesarnya.

Asosiasi Kontrol Senjata mengatakan pembangunan nuklir Beijing yang cepat dapat secara signifikan memengaruhi Tinjauan Postur Nuklir pemerintahan Presiden Joe Biden, di mana ia memutuskan berapa banyak nuklir yang dibutuhkannya.

Letnan Jenderal Angkatan Udara AS Thomas Buseyre, wakil komandan Komando Strategis AS, memperingatkan China akan menyusul Rusia sebagai ancaman nuklir utama AS.

"Akan ada titik, titik persimpangan, di mana jumlah ancaman yang ditimbulkan oleh China akan melebihi jumlah ancaman yang saat ini dihadirkan Rusia," ujarnya dalam forum online, melansir The Sun pada Rabu (6/10/2021).

China mengecam Inggris dan AS karena "memperburuk perlombaan senjata" setelah negara-negara tersebut mengumumkan pakta keamanan bersejarah untuk membangun kapal selam nuklir untuk Australia, AUKUS.

Baca juga: POPULER GLOBAL: Korban Reynhard Sinaga Buka Suara | Ketegangan Militer China-Taiwan Terburuk dalam 40 Tahun

Juru bicara kedutaan besar rezim komunis di Washington DC Liu Pengyu menuduh negara-negara itu mengadopsi "mentalitas Perang Dingin", seperti perang nuklir yang mengerikan antara AS dan Uni Soviet di abad ke-20.

Pemimpin ketiga negara itu meluncurkan aliansi yang dijuluki AUKUS dalam apa yang dilihat sebagai langkah untuk melawan kekuatan China yang meningkat.

Ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di wilayah yang disengketakan, seperti Laut Cina Selatan dan Taiwan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian mengatakan perjanjian itu "sangat merusak perdamaian dan stabilitas regional dan mengintensifkan perlombaan senjata".

"Ekspor teknologi kapal selam nuklir yang sangat sensitif oleh AS dan Inggris ke Australia sekali lagi membuktikan bahwa mereka menggunakan ekspor nuklir sebagai alat permainan geopolitik dan mengadopsi standar ganda, yang sangat tidak bertanggung jawab," ujarnya.

Dia menambahkan bahwa kesepakatan itu memberi negara-negara kawasan "alasan untuk mempertanyakan ketulusan Australia, dalam mematuhi komitmen non-proliferasi nuklirnya".

Baca juga: China Diprediksi Bisa Menginvasi Penuh Taiwan pada 2025


Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber The Sun
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

WHO: Terlalu Dini Memahami Keparahan Varian Omicron, Begini Respons Sejumlah Negara

WHO: Terlalu Dini Memahami Keparahan Varian Omicron, Begini Respons Sejumlah Negara

Global
Seorang Wanita di Australia Didakwa Bakar Hotel Karantina Covid-19

Seorang Wanita di Australia Didakwa Bakar Hotel Karantina Covid-19

Global
Presiden Afrika Selatan Serukan Cabut Larangan Perjalanan dari Negaranya Terkait Omicron

Presiden Afrika Selatan Serukan Cabut Larangan Perjalanan dari Negaranya Terkait Omicron

Global
China Kirim 27 Pesawat Tempur Masuk Zona Pertahanan Udara Taiwan

China Kirim 27 Pesawat Tempur Masuk Zona Pertahanan Udara Taiwan

Global
Usai Positif Covid-19, Presiden Ceko Lantik Pejabat Tinggi Negara dari Balik Kotak Kaca

Usai Positif Covid-19, Presiden Ceko Lantik Pejabat Tinggi Negara dari Balik Kotak Kaca

Global
WHO Kritik Larangan Bepergian untuk Negara Selatan Afrika karena Varian Omicron

WHO Kritik Larangan Bepergian untuk Negara Selatan Afrika karena Varian Omicron

Global
KABAR DUNIA SEPEKAN: Varian Omicron Lebih Buruk dari Delta | Penerbangan dari Afrika Selatan Diblokir Sejumlah Negara

KABAR DUNIA SEPEKAN: Varian Omicron Lebih Buruk dari Delta | Penerbangan dari Afrika Selatan Diblokir Sejumlah Negara

Global
Pemerintah China Larang Keras Selebritinya Pamer Kekayaan di Media Sosial

Pemerintah China Larang Keras Selebritinya Pamer Kekayaan di Media Sosial

Global
Buku Pertama tentang Polandia dalam Bahasa Indonesia Resmi Diterbitkan

Buku Pertama tentang Polandia dalam Bahasa Indonesia Resmi Diterbitkan

Global
Polisi China Berhasil Tangkap Pelarian Korea Utara yang Kabur dari Penjara

Polisi China Berhasil Tangkap Pelarian Korea Utara yang Kabur dari Penjara

Global
Anggota Parlemen Selandia Baru Bersepeda ke RS untuk Melahirkan

Anggota Parlemen Selandia Baru Bersepeda ke RS untuk Melahirkan

Global
Gempa Kuat M 7,5 di Peru, Hampir Separuh Negara Berguncang

Gempa Kuat M 7,5 di Peru, Hampir Separuh Negara Berguncang

Global
Waspada, Covid-19 Varian Omicron Sudah Masuk Australia

Waspada, Covid-19 Varian Omicron Sudah Masuk Australia

Global
PM Kepulauan Solomon Tolak Tekanan untuk Mengundurkan Diri Setelah Kerusuhan

PM Kepulauan Solomon Tolak Tekanan untuk Mengundurkan Diri Setelah Kerusuhan

Global
Dokter Penemu Covid-19 Varian Omicron Sebut Gejalanya Tidak Biasa tapi Ringan

Dokter Penemu Covid-19 Varian Omicron Sebut Gejalanya Tidak Biasa tapi Ringan

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.