Malaysia Panggil Duta Besar China Perkara Zona Ekonomi Eksklusif di Laut China Selatan

Kompas.com - 05/10/2021, 11:28 WIB
Salah satu kapal angkatan laut China ReutersSalah satu kapal angkatan laut China

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com - Malaysia memanggil duta besar China untuk memprotes aktivitas kapal-kapal militernya di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Kuala Lumpur di Laut China Selatan di lepas pulau Kalimantan.

Kapal-kapal China meliputi kapal survei, beroperasi di lepas pantai dekat Sabah dan Sarawak, negara bagian Malaysia, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Selasa (5/10/2021).

Kementerian Luar Negeri Malaysia pada Senin (4/10/2021) mengatakan bahwa aktivitas angkatan laut China tersebut telah melanggar Konvensi PBB tentang Hukum Laut 1982.

Baca juga: Filipina Bersumpah Abaikan Hukum Maritim China yang Baru di Laut China Selatan

Kementerian Luar Negeri Malaysia sejauh ini tidak merinci jumlah kapal yang dideteksi beraktivitas di ZEE

"Posisi dan tindakan Malaysia yang konsisten didasarkan pada hukum internasional, dalam membela kedaulatan dan hak berdaulat kami di perairan kami," kata pernyataan itu.

“Malaysia juga telah memprotes gangguan sebelumnya oleh kapal asing lainnya di perairan kami,” terang instansi tersebut.

Malaysia, Filipina, Vietnam, dan Brunei mengklaim sebagian wilayah Laut China Selatan di lepas pantai mereka.

Sementara China, mengklaim hampir semua wilayah Laut China Selatan adalah miliknya, mengacu pada sembilan garis putus-putus yang diputuskan pengadilan internasional tanpa dasar pada 2016.

Baca juga: China Buat Aturan Sendiri di Laut China Selatan, Kapal Masuk Harus Lapor

Dalam beberapa tahun terakhir, Beijing telah meningkatkan aktivitasnya di Laut China Selatan, membangun pulau-pulau buatan, mendirikan sejumlah pos militer terdepan, dan mengerahkan armada kapal dari milisi maritimnya,

Pada 2020, Malaysia dan China terlibat dalam sengket selama berbulan-bulan terkait laut lepas Sarawak, di mana Petronas, perusahaan minyak nasional Malaysia, sedang mengeksplorasi minyak dan gas.

China saat itu mengirimkan kapal survei ke daerah itu, sehingga memicu ketegangan dengan Malaysia.

Menurut Inisiatif Transparansi Maritim Asia, China memiliki 27 pos terdepan di Laut China Selatan dan juga mengendalikan Scarborough Shoal, yang direbutnya dari Filipina pada 2012.

Baca juga: Wapres AS: China Gunakan Intimidasi untuk Klaim Laut China Selatan

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Dilema Kim Jong Un Hadapi Covid-19: Terima Bantuan atau Teguh Mandiri

Dilema Kim Jong Un Hadapi Covid-19: Terima Bantuan atau Teguh Mandiri

Global
Dapat BLT “Nyasar” Rp 5,2 Miliar, Pria Ini Pakai Uang Warga untuk Judi Sampai Habis Tak Bersisa

Dapat BLT “Nyasar” Rp 5,2 Miliar, Pria Ini Pakai Uang Warga untuk Judi Sampai Habis Tak Bersisa

Global
CDC Khawatir Wabah Cacar Monyet Menyebar ke Luar Inggris

CDC Khawatir Wabah Cacar Monyet Menyebar ke Luar Inggris

Global
Pejabat Keuangan Nigeria Ditangkap karena Pencucian Uang Hingga Jutaan Dollar

Pejabat Keuangan Nigeria Ditangkap karena Pencucian Uang Hingga Jutaan Dollar

Global
Kremlin Marah Barat Berencana Rebut Aset Rusia lalu Dibelanjakan untuk Kepentingan Ukraina

Kremlin Marah Barat Berencana Rebut Aset Rusia lalu Dibelanjakan untuk Kepentingan Ukraina

Global
Para Ahli Sebut Korea Utara Berada di Ambang Bencana Covid-19

Para Ahli Sebut Korea Utara Berada di Ambang Bencana Covid-19

Global
Ukraina Siap Lakukan Segala Hal demi Selamatkan Pejuang Mariupol

Ukraina Siap Lakukan Segala Hal demi Selamatkan Pejuang Mariupol

Global
Situasi Genting Sri Lanka, Bagaimana Nasib Turis dan Pariwisata?

Situasi Genting Sri Lanka, Bagaimana Nasib Turis dan Pariwisata?

Global
Finlandia dan Swedia Daftar NATO, Arsitektur Keamanan Eropa Berubah

Finlandia dan Swedia Daftar NATO, Arsitektur Keamanan Eropa Berubah

Global
AS Beri Kelonggaran Sanksi ke Kuba, Ubah Kebijakan Era Trump

AS Beri Kelonggaran Sanksi ke Kuba, Ubah Kebijakan Era Trump

Global
Nasib Pasukan Ukraina yang Menyerah dari Mariupol Tidak Jelas, Bisa Jadi Tawanan Rusia?

Nasib Pasukan Ukraina yang Menyerah dari Mariupol Tidak Jelas, Bisa Jadi Tawanan Rusia?

Global
Putin: Embargo Minyak Rusia oleh Uni Eropa Sama Saja Bunuh Diri

Putin: Embargo Minyak Rusia oleh Uni Eropa Sama Saja Bunuh Diri

Global
Parlemen Finlandia Bilang 'Ya' untuk Gabung NATO

Parlemen Finlandia Bilang "Ya" untuk Gabung NATO

Global
Terus Dihantui Mimpi Buruk, Komplotan Pencuri Mengembalikan Patung Jarahannya ke Kuil Kuno

Terus Dihantui Mimpi Buruk, Komplotan Pencuri Mengembalikan Patung Jarahannya ke Kuil Kuno

Global
Hari-hari Pamungkas McDonald's di Rusia, Antre Panjang untuk Big Mac Terakhir, Rela Berkendara 250 Km

Hari-hari Pamungkas McDonald's di Rusia, Antre Panjang untuk Big Mac Terakhir, Rela Berkendara 250 Km

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.