Kompas.com - 27/09/2021, 08:39 WIB
Perdana Menteri Israel yang baru, Naftali Bennett, saat memimpin rapat kabinet pertama di Yerusalem, Minggu (13/6/2021). Parlemen Israel sepakat memilih koalisi baru yang mengakhiri 12 tahun kepemimpinan Benjamin Netanyahu, PM Israel terlama sepanjang sejarah. Bennett sendiri adalah mantan sekutu Netanyahu. AP PHOTO/ARIEL SCHALITPerdana Menteri Israel yang baru, Naftali Bennett, saat memimpin rapat kabinet pertama di Yerusalem, Minggu (13/6/2021). Parlemen Israel sepakat memilih koalisi baru yang mengakhiri 12 tahun kepemimpinan Benjamin Netanyahu, PM Israel terlama sepanjang sejarah. Bennett sendiri adalah mantan sekutu Netanyahu.

NEW YORK, KOMPAS.com – Israel mengungkapkan keinginannya untuk memperkuat hubungan dengan Uni Emirat Arab (UEA) dan Bahrain di semua bidang.

Pernyataan tersebut disampaikan Perdana Menteri Israel Naftali Bennett di sela-sela Sidang Umum PBB di New York, AS, Minggu (26/9/2021).

Dia mengatakan hal tersebut ketika mengadakan pertemuan tiga arah dengan Menteri Luar Negeri Bahrain Abdullatif bin Rashid Alzayani dan Menteri Luar Negeri di UEA Khalifa Shaheen Almarar.

Baca juga: Proses Perbaikan Gaza Pasca Serangan 11 Hari Israel Akan Dimulai Oktober, Ini Rinciannya

Ketiganya menandai peringatan satu tahun Kesepakatan Abraham yang menormalisasi hubungan diplomatik antara Israel dengan kedua negara yang berlangsung bulan ini.

Bennett juga berharap supaya lebih banyak negara di kawasan itu ikut menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya sangat senang bertemu dengan Anda. Penting bagi kita untuk bertemu untuk menandai ulang tahun Perjanjian Abraham, yang sangat penting bagi kita," kata Bennett sebagaimana dilansir Arutz Sheva.

Baca juga: Mengenal Deklarasi Balfour, Pemicu Utama Konflik Israel-Palestina

Bennet menambahkan, dia juga ingin bertemu dengan Raja Yordania dan Presiden Mesir.

Untuk diketahui, Yordania dan Mesir sudah lebih dahulu menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel berpuluh-puluh tahun lalu.

“Mereka tentu saja senang dengan hubungan antara negara kita, dan saya ingin memastikan mereka terus berlanjut,” tambah Bennet.

“Kami stabil, dan kami percaya pada hubungan ini. Dan kami ingin memperluasnya sebanyak mungkin,” kata Bennet.

Baca juga: Palestina Ultimatum Israel untuk Keluar dari Wilayah Pendudukan dalam Waktu Satu Tahun

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Sumber Arutzsheva
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.