Jelang Pemilu Jerman, Turki Sangat Kehilangan Angela Merkel Sang Pelindung

Kompas.com - 26/09/2021, 21:41 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Kanselir Jerman Angela Merkel tampil bersama dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Turki, pada 24 Januari 2020. REUTERS/UMIT BEKTAS via VOA INDONESIAPresiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Kanselir Jerman Angela Merkel tampil bersama dalam sebuah konferensi pers di Istanbul, Turki, pada 24 Januari 2020.

ANKARA, KOMPAS.com - Para pemimpin Turki akan mengamati dengan seksama pemilu Jerman pada 26 September, yang menandai berakhirnya masa jabatan panjang Kanselir Angela Merkel.

Merkel mempunyai jalinan kerja yang kuat dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, ketika hubungannya dengan para pemimpin Barat lainnya tegang karena berbagai masalah termasuk mengenai isu migrasi.

Pemekaran universitas Turki-Jerman di Istanbul dengan cepat adalah salah satu tanda yang paling tampak dari hubungan baik yang terjalin antara pemimpin kedua negara tersebut.

Baca juga: Preview Pemilu Jerman: Siapa Kanselir Baru Pengganti Angela Merkel?

“Mereka menjalin hubungan, itu bagian yang terpenting, karena tidak mudah menjalin hubungan dengan Erdogan, dan mereka melakukannya."

"Menurut saya, itu hubungan kerja terbaik yang dijalin Turki dalam hubungan luar negerinya saat ini,” kata Sezin Oney, Kolumnis untuk media Turki Duvar News Portal, dikutip Kompas.com dari VOA Indonesia.

Kerja sama itu berupa kesepakatan pengungsi 2016 antara Ankara dan Uni Eropa yang membuat Turki menampung jutaan pengungsi Suriah dengan imbalan bantuan miliaran dollar AS, sehingga menyatukan Erdogan dan Merkel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Sangat jelas Merkel adalah orang yang benar-benar akan maju dan berbicara dengan Erdogan. Jadi, faktor tersebut sangat menentukan," kata Zeynep Alemdar dari Universitas Okan Istanbul.

Tetapi para pengkritik menyebut perjanjian pengungsi itu sebagai kesepakatan yang kotor. Mereka menuduh tekad Merkel untuk mempertahankan perjanjian itu merupakan bagian dari upaya untuk meredam kritik terhadap catatan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) Turki yang memburuk.

Berlin menyatakan, pihaknya terus mengangkat masalah HAM dengan Turki, tetapi hal itu dilakukannya di belakang layar.

Dengan diadakannya pemilu Jerman untuk mengakhiri kekuasaan Merkel, para analis memperkirakan, Turki akan kehilangan kanselir Jerman itu yang dilihat oleh banyak orang di sini sebagai pelindungnya di Uni Eropa.

Baca juga: Jelang Lengsernya Kanselir Jerman Angela Merkel, Akankah Muncul Instabilitas Politik dan Ekonomi Dunia?

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.