Kompas.com - 23/09/2021, 08:10 WIB
Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato utama melalui video untuk upacara pembukaan Konferensi Tahunan Boao Forum for Asia (BFA), di Beijing pada hari Selasa, (20/4/2021). AP PHOTO/JU PENGPresiden China Xi Jinping menyampaikan pidato utama melalui video untuk upacara pembukaan Konferensi Tahunan Boao Forum for Asia (BFA), di Beijing pada hari Selasa, (20/4/2021).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Amerika Serikat (AS) menyambut baik janji China untuk mengakhiri pendanaan proyek-proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara di luar negeri.

Selain itu, Washington berharap agar Beijing, yang merupakan penghasil emisi terbesar di dunia, juga berbuat lebih banyak di dalam negeri untuk melawan perubahan iklim.

Pada Selasa (21/9/2021) Presiden China berpidato dalam video yang ditayangkan di Sidang Umum PBB mengatakan bahwa negaranya tak mau lagi membangun PLTU batu bara baru di luar negeri.

Baca juga: China Tak Mau Lagi Bangun PLTU Batu Bara di Luar Negeri, Banyak Pihak Menyambut Gembira

Meski tidak memberikan rincian lebih lanjut, pernyataan tersebut dapat secara signifikan membatasi investasi PLTU batu bara di negara berkembang.

Seorang pejabat AS menyatakan bahwa Washington gembira dengan keputusan Xi tersebut sebagaimana dilansir AFP.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Kami menyambut baik pengumuman ini tetapi kami juga menyadari bahwa masih banyak yang harus dilakukan,” kata pejabat tersebut kepada wartawan di markas PBB, New York, AS.

Baca juga: Kontes Bangunan Terjelek di China Dimulai, Hotel Boneka Raksasa hingga Gereja Biola Jadi Kandidat

“Kami berharap dapat mendengar lebih banyak tentang langkah-langkah tambahan yang dapat mereka ambil dalam dekade ini untuk lebih mengurangi emisi mereka di dalam negeri,” sambung pejabat itu.

Pejabat itu menambahkan, keputusan China tersebut akan membantu komunitas internasional sesuai jalurnya untuk menahan suhu global melampaui 1,5 derajat Celcius.

Ilmuwan PBB mengatakan, kenaikan suhu global lebih dari 1,5 derajat Celcius di atas tingkat pra-industri adalah ambang batas bagi bumi.

Jika suhu global baik di atas angka tersebut, planet bumi terancam menghadapi kerusakan terburuk akibat perubahan iklim.

Baca juga: Coba Memahami China sebagai Negara Super Power

Halaman:

Sumber Reuters,AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.