Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ribuan Pekerja Kesehatan di Perancis Diberhentikan Tanpa Gaji karena Tolak Vaksin Covid-19

Kompas.com - 17/09/2021, 18:27 WIB

PARIS, KOMPAS.com - Ribuan pekerja kesehatan seluruh Perancis diberhentikan tanpa bayaran setelah menolak untuk vaksin Covid-19 pada pekan ini.

Menteri Kesehatan Olivier Veran pada Kamis (16/9/2021) mengatakan bahwa pemberhentian tersebut dilakukan setelah sejumlah dokter dan pekerja kesehatan melakukan aksi protes melawan mandat aturan vaksin Covid-19.

Kewajiban tersebut dianggap sebagai serangan terahadap kebabasan sipil mereka.

Baca juga: Gerak Cepat, 50 Persen Lebih Penduduk Jepang Terima Vaksin Covid-19 Penuh, November Akan Longgarkan Pembatasan

Melansir Daily Mail pada Kamis (16/9/2021), badan kesehatan masyarakat nasional Perancis memperkirakan pada pekan lalu bahwa sekitar 12 persen staf rumah sakit dan sekitar 6 persen dokter di praktik swasta belum vaksin Covid-19.

Sebagai akibatnya, Kementerian Kesehatan menghentikan 3.000 orang pekerja kesehatan dari pekerjaan mereka.

Presiden Perancis Emmanuel Macron memberi ultimatum kepada staf rumah sakit, pekerja panti jompo, dan petugas pemadam kebakaran pada Juli suntik vaksin Covid-19 setidaknya satu dosis pada 15 September. Jika tidak, akan menghadapi pemberhentian tanpa gaji.

"Diberitahukan sekitar 3.000 pekerja di pusat kesehatan dan klinik yang belum vaksin Covid-19 diberhentikan kemarin (15 September 2021)," ujar Veran kepada radio RTL.

Dia menambahkan bahwa "beberapa puluh pekerja" telah menyerahkan pengunduran diri mereka dari pada mendaftar untuk vaksin Covid-19.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Baca juga: POPULER GLOBAL: Mantan Bintang Sepak Bola Meninggal Setelah 39 Tahun Koma | Dokter Putuskan Tolak Rawat Pasien Tidak Vaksin Covid-19

"Kita bicara tentang 2,7 juta petugas (kesehatan nasional Perancis)," katanya besikeras melanjutkan, "Kelanjutan perawatan nasional sudah dipastikan...pemberhentian ini hanya sementara."

Veran mengatakan bahwa di antara pekerja yang menolak vaksin Covid-19, hanya "sedikit" yang merupakan petugas kesehatan sebenarnya. Sebagian besar dari mereka disebut Veran hanya "staf pendukung".

Halaman:
Sumber Daily Mail
Video rekomendasi
Video lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Peringatan Valentine Unik, Nama Mantan Ditulis di Kotak Pasir Tempat Kotoran Kucing

Peringatan Valentine Unik, Nama Mantan Ditulis di Kotak Pasir Tempat Kotoran Kucing

Global
China: Rasa Saling Percaya dengan Rusia Kian Meningkat

China: Rasa Saling Percaya dengan Rusia Kian Meningkat

Global
PM Jepang Kishida Tegur Keras Sekretarisnya Terkait Komentar Anti-LGBT

PM Jepang Kishida Tegur Keras Sekretarisnya Terkait Komentar Anti-LGBT

Global
Indonesia Minta Negara-negara Besar Tak Gunakan ASEAN sebagai Proksi

Indonesia Minta Negara-negara Besar Tak Gunakan ASEAN sebagai Proksi

Global
India Akan Terbangkan Roket ke Matahari untuk Penelitian

India Akan Terbangkan Roket ke Matahari untuk Penelitian

Global
G7 dan Eropa Sepakat Batasi Harga Solar Rusia

G7 dan Eropa Sepakat Batasi Harga Solar Rusia

Global
Dugaan Kenapa China Terbangkan Balon Mata-mata di AS, padahal Punya Satelit

Dugaan Kenapa China Terbangkan Balon Mata-mata di AS, padahal Punya Satelit

Global
1.800 Pria Ditangkap Terkait Pernikahan Anak di Bawah Umur India

1.800 Pria Ditangkap Terkait Pernikahan Anak di Bawah Umur India

Global
Peneliti Temukan Fakta Mengejutkan, Bahan Balsem Mumi Mesir Kuno Berasal dari Asia Tenggara

Peneliti Temukan Fakta Mengejutkan, Bahan Balsem Mumi Mesir Kuno Berasal dari Asia Tenggara

Global
Berbulan-bulan Mengambang di Laut, Kapal Induk Brasil Akhirnya Ditenggelamkan

Berbulan-bulan Mengambang di Laut, Kapal Induk Brasil Akhirnya Ditenggelamkan

Global
Bikin Video TikTok di Tebing, Pria AS Tewas Terjatuh dari Ketinggian 21 Meter

Bikin Video TikTok di Tebing, Pria AS Tewas Terjatuh dari Ketinggian 21 Meter

Global
Kehadiran Balon Mata-mata Berbuntut Panjang, Menlu AS Tunda Kunjungan ke China

Kehadiran Balon Mata-mata Berbuntut Panjang, Menlu AS Tunda Kunjungan ke China

Global
Polemik Keanggotaan NATO Berlanjut, Anggota Kongres AS Ancam Tak Izinkan Jual F-16 ke Turkiye

Polemik Keanggotaan NATO Berlanjut, Anggota Kongres AS Ancam Tak Izinkan Jual F-16 ke Turkiye

Global
Rangkuman Hari Ke-345 Serangan Rusia ke Ukraina: Para Pemimpin Uni Eropa Kunjungi Kyiv, Sirene Serangan Udara Meraung

Rangkuman Hari Ke-345 Serangan Rusia ke Ukraina: Para Pemimpin Uni Eropa Kunjungi Kyiv, Sirene Serangan Udara Meraung

Global
[POPULER GLOBAL] Balon Mata-mata China Terbang di AS | Hong Kong Rayu Wisatawan

[POPULER GLOBAL] Balon Mata-mata China Terbang di AS | Hong Kong Rayu Wisatawan

Global
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+