Tak Ingin Bermasalah dengan Taliban, Jaringan TV Afghanistan Hapus Siaran Sinetron Turki

Kompas.com - 04/09/2021, 16:08 WIB
Para pejabat Taliban diwawancarai oleh wartawan di dalam Bandara Internasional Hamid Karzai setelah penarikan AS di Kabul, Afghanistan, Selasa, 31 Agustus 2021. AP PHOTO/KATHY GANNONPara pejabat Taliban diwawancarai oleh wartawan di dalam Bandara Internasional Hamid Karzai setelah penarikan AS di Kabul, Afghanistan, Selasa, 31 Agustus 2021.

KABUL, KOMPAS.com - Jaringan televisi swasta paling populer di Afghanistan membuat keputusan untuk menghapus sinetron Turki yang dinilai vulgar dari jadwal siarannya, dan menggantinya dengan program-program yang kemungkinan tidak akan mengecewakan Taliban.

Tolo News secara sukarela menghapus acara musik dan sinetron setelah Taliban mengeluarkan arahan bahwa media Afghanistan tidak boleh bertentangan dengan hukum Islam atau merugikan kepentingan nasional.

Baca juga: Biden Ingin AS Berhenti Jadi Polisi Dunia setelah Keluar dari Afghanistan

Sebagai gantinya, drama tersebut digantikan dengan serial TV Turki di era Ottoman yang menampilkan aktris berpakaian lebih sederhana.

Saad Mohseni, CEO dan ketua Moby Group, yang memiliki Tolo, mengatakan jaringan tersebut membuat keputusan sendiri untuk mengganti acara itu karena "kami tidak berpikir mereka (sinetron turki) akan dapat diterima oleh rezim baru."

Taliban mengizinkan jurnalis masuk ke Afghanistan dari Pakistan, dan mereka mengizinkan media Afghanistan untuk terus beroperasi.

Tetapi media juga berada di bawah pedoman samar yang sama. Media lokal dapat membuat keputusan sensor diri yang serupa dengan Tolo untuk menghindari dampak.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat dunia mengamati dengan saksama bagaimana Taliban akan memerintah, perlakuan mereka terhadap media Afghanistan akan menjadi indikator kunci, bersama dengan kebijakan mereka terhadap perempuan.

Ketika mereka memerintah Afghanistan antara 1996-2001, Taliban memaksakan interpretasinya atas hukum Islam yang keras, melarang anak perempuan dan perempuan dari sekolah dan kehidupan publik, dan secara brutal menekan perbedaan pendapat.

Baca juga: Taliban Segera Umumkan Pemerintahan Baru Afghanistan, Tanpa Perempuan

Setelah kejatuhan Taliban, Afghanistan menyaksikan perkembangan pesat outlet media, dan wanita membuat beberapa kemajuan dalam pembatasan masyarakat yang sangat konservatif.

Sebagai tanda pertama bahwa Taliban sedang mencoba melunakkan reputasi ekstremis mereka, salah satu pejabatnya tiba-tiba masuk ke studio Tolo News hanya dua hari setelah menguasai Kabul pada pertengahan Agustus.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hamas Peringatkan Israel Perang Susulan Tak Bisa Dihindari, Kecuali...

Hamas Peringatkan Israel Perang Susulan Tak Bisa Dihindari, Kecuali...

Global
'Di-cas' saat Kelas Online, Ponsel Meledak dan Bunuh Seorang Bocah

"Di-cas" saat Kelas Online, Ponsel Meledak dan Bunuh Seorang Bocah

Global
Misterius, Mobil Van Terdampar di Atap Halte Bus

Misterius, Mobil Van Terdampar di Atap Halte Bus

Global
Geng Haiti Minta Tebusan Rp 14,1 Miliar Per Orang untuk 17 Misionaris yang Diculik

Geng Haiti Minta Tebusan Rp 14,1 Miliar Per Orang untuk 17 Misionaris yang Diculik

Global
Seorang Wanita Diperkosa di Kereta di AS, Penumpang Malah Merekam

Seorang Wanita Diperkosa di Kereta di AS, Penumpang Malah Merekam

Global
Korea Utara Konfirmasi Telah Berhasil Uji Coba Rudal Balistik di Laut Jepang

Korea Utara Konfirmasi Telah Berhasil Uji Coba Rudal Balistik di Laut Jepang

Global
POPULER GLOBAL: China Kaget Indonesia Juara Piala Thomas | Penemuan Pedang Perang Salib Berusia 900 Tahun

POPULER GLOBAL: China Kaget Indonesia Juara Piala Thomas | Penemuan Pedang Perang Salib Berusia 900 Tahun

Global
Kemenlu: 206 WNI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri

Kemenlu: 206 WNI Terancam Hukuman Mati di Luar Negeri

Global
Sanksi WADA Merembet, Bendera Merah Putih Tak Boleh Berkibar di MotoGP, WorldSBK, hingga F1

Sanksi WADA Merembet, Bendera Merah Putih Tak Boleh Berkibar di MotoGP, WorldSBK, hingga F1

Global
Dari China hingga AS Alami Kekurangan Bahan-bahan Pokok, Apa Penyebabnya?

Dari China hingga AS Alami Kekurangan Bahan-bahan Pokok, Apa Penyebabnya?

Global
Wanita Ini Jadikan Anjingnya Vegetarian Demi Kurangi Emisi Karbon

Wanita Ini Jadikan Anjingnya Vegetarian Demi Kurangi Emisi Karbon

Global
Dinyatakan Tidak Bisa Punya Anak oleh Dokter, Wanita Ini Jadi Ibu di Usia 70 Tahun

Dinyatakan Tidak Bisa Punya Anak oleh Dokter, Wanita Ini Jadi Ibu di Usia 70 Tahun

Global
Dua Menteri Afghanistan Sempat Keliling London dengan Mobil Mahal Sebelum Negaranya Jatuh ke Taliban

Dua Menteri Afghanistan Sempat Keliling London dengan Mobil Mahal Sebelum Negaranya Jatuh ke Taliban

Global
Taliban Izinkan Vaksinasi Polio di Afghanistan Setelah Bertahun-tahun Melarang

Taliban Izinkan Vaksinasi Polio di Afghanistan Setelah Bertahun-tahun Melarang

Global
Bom Perang Dunia I Meledak di Pesta Setelah Pernikahannya, Pengantin Ini Kehilangan Saudaranya

Bom Perang Dunia I Meledak di Pesta Setelah Pernikahannya, Pengantin Ini Kehilangan Saudaranya

Global

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.