Kompas.com - 04/09/2021, 06:32 WIB
Presiden Amerika Serikat Joe Biden saat menghadiri rapat penanganan dampak Badai Ida di St John Parish Emergency Operations Center, LaPlace, negara bagian Louisiana, Jumat (3/9/2021). AP PHOTO/EVAN VUCCIPresiden Amerika Serikat Joe Biden saat menghadiri rapat penanganan dampak Badai Ida di St John Parish Emergency Operations Center, LaPlace, negara bagian Louisiana, Jumat (3/9/2021).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden pada Jumat (3/9/2021) memerintahkan deklasifikasi dokumen rahasia serangan 9/11 selama enam bulan ke depan.

Dokumen rahasia tragedi 9/11 ini berisi penyelidikan pemerintah atas serangan teroris itu.

Biden melakukannya untuk memenuhi permintaan keluarga dari sekitar 3.000 korban tewas akibat serangan Al Qaeda pada 11 September 2001.

Baca juga: Dokumen Rahasia Serangan 9/11 Akan Dipublikasi AS

Mereka sejak lama berargumen bahwa dokumen rahasia mungkin berisi bukti bahwa Pemerintah Arab Saudi, sekutu dekat AS, memiliki hubungan dengan para pembajak yang terbang ke World Trade Center dan Pentagon.

Komisi 9/11 resmi, yang dibentuk oleh Kongres, mengatakan bahwa tidak ada bukti Pemerintah Saudi sebagai lembaga atau pejabat senior secara individual mendanai Al Qaeda.

Beberapa orang merasa pernyataan itu menunjukkan perannya mungkin dimainkan tokoh-tokoh Saudi non-pemerintah atau berpangkat lebih rendah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Hari ini, saya menandatangani perintah eksekutif yang mengarahkan Kementerian Kehakiman dan lembaga terkait lainnya untuk mengawasi peninjauan deklasifikasi dokumen yang terkait dengan investigasi Biro Investigasi Federal pada 11 September," kata Biden dalam sebuah pernyataan.

Deklasifikasi harus dilakukan selama enam bulan ke depan, tambahnya.

Baca juga: Keluarga Korban Tragedi 9/11 Tak Ingin Biden Datang, Kecuali...

"Kita tidak boleh melupakan rasa sakit abadi dari keluarga dan orang-orang terkasih dari 2.977 orang tak berdosa yang tewas dalam serangan teroris terburuk di Amerika dalam sejarah kita," ujar presiden ke-46 AS tersebut dikutip dari AFP.

Keputusan Biden dibuat menjelang peringatan 20 tahun serangan 9/11, yang mendorong presiden saat itu, George W Bush, segera memerintahkan invasi ke Afghanistan, di mana Taliban melindungi kepemimpinan Al Qaeda.

Biden menarik pasukan AS terakhir dari Afghanistan minggu ini, menyelesaikan evakuasi menegangkan dari bandara Kabul setelah Taliban kuasai Afghanistan lagi.

Namun, beberapa investigasi mungkin masih dianggap terlalu sensitif untuk dirilis.

Baca juga: DPR AS Rencana Bentuk Komisi Tipe 9/11 untuk Selidiki Serangan Gedung Capitol

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Minta Parlemen Didik Taliban agar Tidak Terlihat sebagai Teroris, Politisi Malaysia Tuai Hujatan

Minta Parlemen Didik Taliban agar Tidak Terlihat sebagai Teroris, Politisi Malaysia Tuai Hujatan

Global
Mantan Perdana Menteri Lesotho Didakwa atas Pembunuhan Istrinya

Mantan Perdana Menteri Lesotho Didakwa atas Pembunuhan Istrinya

Global
Apa Pentingnya Senjata Hipersonik?

Apa Pentingnya Senjata Hipersonik?

Global
Naik Motor Bebek Sampai ke Paris, Video Perjalanan Pasangan Malaysia Ini Jadi Viral

Naik Motor Bebek Sampai ke Paris, Video Perjalanan Pasangan Malaysia Ini Jadi Viral

Global
China “Memburu” Warga Negara Taiwan Melalui Deportasi Paksa, Menurut Laporan Safeguard Defenders

China “Memburu” Warga Negara Taiwan Melalui Deportasi Paksa, Menurut Laporan Safeguard Defenders

Global
Masuk Rumah Tiba-Tiba Menari Telanjang di Depan Lansia, Seorang Wanita Dituntut Pelecehan Seksual

Masuk Rumah Tiba-Tiba Menari Telanjang di Depan Lansia, Seorang Wanita Dituntut Pelecehan Seksual

Global
Bumi Bisa Punya “Cincin” seperti Planet Saturnus gara-gara Sampah Luar Angkasa

Bumi Bisa Punya “Cincin” seperti Planet Saturnus gara-gara Sampah Luar Angkasa

Global
Bagikan Trik Pandangan Mata yang Bisa Buat Orang Jatuh Cinta, Video Wanita Ini Viral

Bagikan Trik Pandangan Mata yang Bisa Buat Orang Jatuh Cinta, Video Wanita Ini Viral

Global
Kisah Unik Dr Robert Liston, Ahli Bedah Tercepat Abad Ke-19

Kisah Unik Dr Robert Liston, Ahli Bedah Tercepat Abad Ke-19

Global
Presiden Lukashenko Tawarkan Belarus Jadi Tuan Rumah untuk Senjata Nuklir Rusia

Presiden Lukashenko Tawarkan Belarus Jadi Tuan Rumah untuk Senjata Nuklir Rusia

Global
Kepala Dinas Rahasia Inggris MI6: 'Ancaman China Jadi Fokus Terbesar Kami'

Kepala Dinas Rahasia Inggris MI6: "Ancaman China Jadi Fokus Terbesar Kami"

Global
Orang Kepercayaan Duterte Mundur Jadi Calon Presiden Filipina

Orang Kepercayaan Duterte Mundur Jadi Calon Presiden Filipina

Global
Saingi China, AS Perbaiki Fasilitas Militer di Australia

Saingi China, AS Perbaiki Fasilitas Militer di Australia

Global
10 Diplomat Paling Berpengaruh dalam Peristiwa Diplomasi Bersejarah

10 Diplomat Paling Berpengaruh dalam Peristiwa Diplomasi Bersejarah

Internasional
Transisi Energi di Eropa Terhambat Minimnya Bahan Baku

Transisi Energi di Eropa Terhambat Minimnya Bahan Baku

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.