China Buat Aturan Sendiri di Laut China Selatan, Kapal Masuk Harus Lapor

Kompas.com - 03/09/2021, 09:24 WIB

BEIJING, KOMPAS.com - China membuat aturan baru di Laut China Selatan, dengan mewajibkan kapal-kapal tertentu yang masuk klaim teritorialnya untuk melaporkan posisi.

Aturan itu dibuat pada Minggu (29/8/2021) dan berlaku mulai Rabu, 1 September 2021.

Dikutip The Hindu dari Global Times, aturan di Laut China Selatan ini berlaku untuk kapal selam, kapal nuklir, kapal yang membawa bahan radioaktif, bahan kimia, gas curah, dan zat-zat beracun lainnya.

Baca juga: Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Bergabung dengan Negara Barat Lawan China

Setiap kapal yang dianggap membahayakan lalu lintas maritim China juga akan diminta melaporkan datanya, seperti nama, tanda panggilan, posisi sekarang, dan perkiraan waktu kedatangan.

Kapal juga harus memberi informasi tentang sifat barang dan bobot kargo.

"Setelah memasuki Laut Teritorial China, sebuah laporan tindak lanjut tidak diperlukan jika sistem identifikasi otomatis kapal dalam kondisi baik."

"Tetapi jika sistem identifikasi otomatis tidak berfungsi dengan baik, kapal harus melaporkan setiap dua jam sampai meninggalkan laut teritorial," kata pemberitahuan itu yang dikutip The Hindu, Minggu (29/8/2021).

Akan tetapi, masih belum jelas bagaimana dan di mana China bakal menegakkan peraturan barunya yang sepihak ini.

Baca juga: Kapal Perang Asing di Laut China Selatan Bertambah, India Menyusul Kirim Pasukannya

Badan Keamanan Maritim China yang dikutip Global Times berdalih, aturan ini dibuat demi menjaga keamanan nasional China di laut dan meningkatkan kemampuan identifikasi maritim.

Mereka memiliki wewenang menolak masuk kapal di perairan China jika dianggap membahayakan keamanan.

Muatan kargo senilai lebih dari 5 triliun dollar AS (Rp 71,3 kuadriliun) berlayar melewati Laut China Selatan, dan 55 persen di antaranya adalah dari perdagangan India yang juga melintasi Selat Malaka, menurut perkiraan Kementerian Eksternal India (MEA).

Klaim teritorial Laut China Selatan juga diperdebatkan oleh negara-negara Asia Tenggara, termasuk Filipina, Vietnam, Malaysia, dan Indonesia.

Baca juga: China Bangun “Tembok Besar” Baru di Laut China Selatan Dilengkapi Pangkalan Militer Besar

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber The Hindu
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Puluhan Ahli Bahan Peledak Suriah Disebut Bantu Rusia Siapkan Serangan ke Ukraina

Puluhan Ahli Bahan Peledak Suriah Disebut Bantu Rusia Siapkan Serangan ke Ukraina

Global
Mantan Pelatih Lumba-lumba Asal Malaysia Jadi Anggota Parlemen Australia, Kemenangan yang Mengejutkan

Mantan Pelatih Lumba-lumba Asal Malaysia Jadi Anggota Parlemen Australia, Kemenangan yang Mengejutkan

Global
Ukraina Terkini: Wali Kota di Enerhodar yang Ditunjuk Rusia Jadi Korban Ledakan

Ukraina Terkini: Wali Kota di Enerhodar yang Ditunjuk Rusia Jadi Korban Ledakan

Global
Petaka Kebakaran Feri di Filipina, 7 Orang Tewas

Petaka Kebakaran Feri di Filipina, 7 Orang Tewas

Global
Anthony Albanese Dilantik Jadi PM Australia, Langsung Terbang ke Tokyo Hadiri Pertemuan Quad

Anthony Albanese Dilantik Jadi PM Australia, Langsung Terbang ke Tokyo Hadiri Pertemuan Quad

Global
Azerbaijan dan Armenia Sepakat Bahas Perdamaian soal Nagorno-Karabakh

Azerbaijan dan Armenia Sepakat Bahas Perdamaian soal Nagorno-Karabakh

Global
Dilarang Taliban, Warga Dirikan Sekolah Rahasia untuk Anak Perempuan

Dilarang Taliban, Warga Dirikan Sekolah Rahasia untuk Anak Perempuan

Global
Pedoman Cacar Monyet Terbaru dari Inggris: Kontak Erat Harus Isoman 21 Hari

Pedoman Cacar Monyet Terbaru dari Inggris: Kontak Erat Harus Isoman 21 Hari

Global
Nigeria Dilanda Teror, Polisi Temukan Potongan Tubuh Legislator di Taman

Nigeria Dilanda Teror, Polisi Temukan Potongan Tubuh Legislator di Taman

Global
Menlu Pakistan: Setiap Serangan terhadap China Sama Saja Menyerang Pakistan

Menlu Pakistan: Setiap Serangan terhadap China Sama Saja Menyerang Pakistan

Global
Catatan Peristiwa Penting Invasi Rusia di Ukraina Jelang Bulan Keempat

Catatan Peristiwa Penting Invasi Rusia di Ukraina Jelang Bulan Keempat

Global
Rangkuman Hari Ke-88 Serangan Rusia ke Ukraina, Moskwa Gempur Pasukan Kyiv dengan Serangan Udara dan Artileri

Rangkuman Hari Ke-88 Serangan Rusia ke Ukraina, Moskwa Gempur Pasukan Kyiv dengan Serangan Udara dan Artileri

Global
[KABAR DUNIA SEPEKAN] Sri Lanka Kehabisan Bensin | Kemenangan Marcos Jr dan Pengaruh Disinformasi

[KABAR DUNIA SEPEKAN] Sri Lanka Kehabisan Bensin | Kemenangan Marcos Jr dan Pengaruh Disinformasi

Global
Shanghai Cabut Lockdown Bertahap, Transportasi Umum Beroperasi Lagi

Shanghai Cabut Lockdown Bertahap, Transportasi Umum Beroperasi Lagi

Global
Masih Ingat Dao Ming Si di Meteor Garden? 21 Tahun Berlalu Wajahnya Awet Muda

Masih Ingat Dao Ming Si di Meteor Garden? 21 Tahun Berlalu Wajahnya Awet Muda

Global
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.