Xi Jinping Janjikan Redistribusi Kekayaan China, Tekan Orang Kaya demi Kurangi Kesenjangan

Kompas.com - 19/08/2021, 08:02 WIB
Presiden China Xi Jinping menyampaikan pidato utama melalui video untuk upacara pembukaan Konferensi Tahunan Boao Forum for Asia (BFA), di Beijing pada hari Selasa, (20/4/2021). AP PHOTO/JU PENGPresiden China Xi Jinping menyampaikan pidato utama melalui video untuk upacara pembukaan Konferensi Tahunan Boao Forum for Asia (BFA), di Beijing pada hari Selasa, (20/4/2021).

HONG KONG, KOMPAS.com - Presiden China Xi Jinping mengeluarkan janji baru yang berani, untuk mendistribusikan kembali kekayaan di negara dengan menambah lebih banyak tekanan pada warga negara dan bisnis terkayanya.

Xi mengatakan kepada para pemimpin tinggi dari Partai Komunis China yang berkuasa, bahwa pemerintah harus membangun sistem untuk mendistribusikan kembali kekayaan demi kepentingan "keadilan sosial," menurut ringkasan pidato yang diterbitkan oleh Xinhua, kantor berita resmi negara pada Selasa (18/8/2021).

Baca juga: Kekhawatiran Rusia hingga China Setelah Kembalinya Taliban di Afghanistan

Menurutnya, China "perlu mengatur pendapatan yang terlalu tinggi secara wajar, dan mendorong orang dan perusahaan berpenghasilan tinggi mengembalikan lebih banyak ke masyarakat."

Artikel Xinhua tidak memasukkan banyak rincian tentang bagaimana Xi berharap untuk mencapai tujuan ini, tetapi mengindikasikan bahwa Beijing dapat mempertimbangkan perpajakan atau cara lain untuk mendistribusikan kembali pendapatan dan kekayaan.

Xi bahkan menyebut perlunya "kemakmuran bersama" di antara orang-orang China sebagai hal penting bagi Partai untuk mempertahankan kekuasaan, dan mengubah negara itu menjadi negara yang "berkembang penuh, kaya dan kuat" pada 2049, peringatan 100 tahun keberadaan Republik Rakyat China (RRC).

"Kemakmuran bersama adalah kemakmuran semua orang. Bukan kemakmuran segelintir orang," kata Xi selama pertemuan pemimpin ekonomi, yang diselenggarakan setiap beberapa bulan untuk menentukan kebijakan melansir CNN pada Rabu (18/8/2021).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Gara-gara Twit Senator AS Ini, China Ancam Perangi Taiwan

Cita-cita kemakmuran bersama

Frasa itu membawa banyak makna sejarah di China, dan penggunaan Xi dalam konteks redistribusi kekayaan mengingatkan kembali penggunaannya pada masa Mao Zedong.

Kebijakan itu juga dilakukan China di pertengahan akhir abad sebelumnya, ketika mantan pemimpin Komunis saat itu menganjurkan reformasi ekonomi yang dramatis, untuk mengambil alih kekuasaan dari tuan tanah dan petani kaya, elite pedesaan.

Mao memerintah “Negeri Tirai Bambu” melalui transformasi dan pergolakan ekonomi dan sosial yang besar. Kematiannya pada 1976 menandai berakhirnya Revolusi Kebudayaan.

Setelah itu, China memulai dekade liberalisasi ekonomi di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber CNN
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.