Menteri Pertahanan Inggris Salahkan Trump atas Memburuknya Kondisi Afghanistan

Kompas.com - 14/08/2021, 14:21 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan meninggalkan Gedung Putih, Sabtu (12/12/2020) AFPPresiden Amerika Serikat Donald Trump berjalan meninggalkan Gedung Putih, Sabtu (12/12/2020)

LONDON, KOMPAS.com - Menteri pertahanan Inggris menyalahkan buruknya kesepakatan antara pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Taliban yang menggerakkan penarikan pasukan AS dan NATO dari Afghanistan.

"Pada saat Trump berurusan dengan, tentu saja, Taliban, saya merasa bahwa itu adalah kesalahan untuk melakukannya dengan cara itu," kata Menteri Pertahanan Inggris Ben Wallace, kepada Sky News, melansir Insider pada Jumat (13/8/2021)

Baca juga: Pentagon Sebut Taliban Berusaha Mengisolasi Ibu Kota Afghanistan

"Kita semua, sebagai komunitas internasional, mungkin akan membayar konsekuensi dari itu (kesepakatan pemerintahan Trump-Taliban)."

Menurutnya, kesepakatan Doha antara Taliban dan AS di bawah pemerintahan Trump adalah kesepakatan yang bobrok. Pasalnya dengan itu, Taliban yang tidak menang merasa bahwa mereka menang, dan itu merusak pemerintah Afghanistan.

“Sekarang kita berada dalam posisi di mana Taliban jelas memiliki momentum di seluruh negeri (Afghanistan)."

Wallace juga menyatakan keprihatinan Al Qaeda akan kembali. Munculnya “negara-negara gagal” di seluruh dunia ini disebut menyebabkan ketidakstabilan dan menimbulkan ancaman keamanan dan kepentingan dunia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Saya benar-benar khawatir bahwa negara-negara yang gagal adalah tempat berkembang biak bagi kelompok-kelompok (ekstremis) seperti itu," katanya.

"Tentu saja saya khawatir. Itu sebabnya saya mengatakan bahwa saya merasa ini bukan waktu atau keputusan yang tepat (menarik pasukan), karena, tentu saja, Al Qaeda mungkin akan kembali."

Pada Februari 2020, pemerintahan Trump merundingkan kesepakatan dengan Taliban di Doha. Tujuannya untuk mendorong pembicaraan damai antara pemberontak dan pemerintah Afghanistan, sambil memfasilitasi penarikan pasukan AS dan NATO.

Baca juga: Menerka Taktik Taliban dan Mengapa Militer Afghanistan Tak Berdaya?

Pemerintahan AS di bawah Joe Biden menjunjung tinggi kesepakatan itu, mengambil tanggung jawabnya dan bergerak maju dengan rencana menarik pasukan AS dan mengakhiri perang dua dekade di Afghanistan, konflik terpanjang AS.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.