Perangi “Terorisme Sperma”, Politisi Korsel Tuntut Perubahan Hukum Kejahatan Seksual

Kompas.com - 12/08/2021, 19:56 WIB
Perempuan mengenakan pita di rambut dengan tulisan #METOO pada aksi damai peringatan Women's Day di Roma, Italia, pada 8 Maret 2018. AFP/ALBERTO PIZZOLIPerempuan mengenakan pita di rambut dengan tulisan #METOO pada aksi damai peringatan Women's Day di Roma, Italia, pada 8 Maret 2018.

 

SEOUL, KOMPAS.com - Politisi Korea Selatan berusaha mengamendemen undang-undang yang ada untuk membuat “terorisme sperma” sebagai kejahatan seksual yang dapat dihukum.

Langkah itu dilakukan setelah serangkaian putusan kontroversial pengadilan di “Negeri Gingseng”, terkait kasus sejumlah pria yang diam-diam berejakulasi ke barang-barang wanita.

Alih-alih menghukum mereka atas perilaku kriminal seksual, pengadilan Korea Selatan hanya menjerat pria-pria dalam kasus itu atas "kerusakan properti".

Baca juga: Gubernur New York Mengundurkan Diri karena Tersandung Kasus Pelecehan Seksual

Putusan pengadilan yang lunak dan sikap masyarakat terhadap kejahatan seksual di Korea Selatan terus mendapat kecaman selama beberapa tahun terakhir dan sehubungan dengan gerakan #MeToo global.

Tindakan menodai atau melumuri air mani ke orang lain secara diam-diam, juga dikenal secara lokal sebagai “terorisme air mani”, kini telah menjadi kasus sorotan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Aktivis lokal menyoroti kurangnya kerangka hukum yang memadai untuk menghukum apa yang mereka anggap jelas sebagai jenis kejahatan kelamin.

Pada 2019, seorang pria yang merendam sepatu wanita dengan air mani didenda 500.000 won (Rp 6 juta). Polisi mengatakan penyelidikan dilakukan atas tuduhan "kerusakan properti", karena tidak ada ketentuan hukum untuk menerapkan tuduhan kejahatan seksual.

Pada tahun yang sama, seorang pria dijatuhi hukuman tiga tahun penjara karena "percobaan melukai" di antara tuduhan lain, setelah membubuhi kopi seorang wanita dengan obat pencahar dan afrodisiak sebagai upaya balas dendam karena cintanya ditolak.

Pelaku dalam kasus itu juga dilaporkan menambahkan air mani dan dahaknya ke barang-barang lainnya sebanyak 54 kali. Namun, kejahatan itu tidak diakui sebagai kejahatan seksual, karena tidak ada kekerasan seksual paksa yang dilakukan.

Baca juga: Pangeran Andrew Terjerat Kasus Pelecehan Seksual Gadis 17 Tahun di New York

Selain itu pada Mei 2021, seorang pegawai negeri sipil pria dijatuhi hukuman denda sebesar 3 juta won (Rp 37 juta) atas tuduhan “kerusakan properti”, karena melakukan ejakulasi di dalam gelas kopi rekan wanitanya enam kali selama setengah tahun.

Halaman:

Video Pilihan

Sumber Guardian
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengapa Socrates Membenci Demokrasi?

Mengapa Socrates Membenci Demokrasi?

Global
Sealand, Negara Terkecil di Dunia, Wilayahnya Seperti Kilang Minyak

Sealand, Negara Terkecil di Dunia, Wilayahnya Seperti Kilang Minyak

Global
Anechoic Chamber, Ruang Paling Sunyi di Dunia yang Bisa Membuat Gila

Anechoic Chamber, Ruang Paling Sunyi di Dunia yang Bisa Membuat Gila

Global
Jika Mau Tegas, ASEAN Harusnya Mengakui NUG Myanmar Bukan Junta Militer

Jika Mau Tegas, ASEAN Harusnya Mengakui NUG Myanmar Bukan Junta Militer

Global
Kasus Nur Sajat, Kenapa Buron di Malaysia dan Pindah ke Australia

Kasus Nur Sajat, Kenapa Buron di Malaysia dan Pindah ke Australia

Global
Tali Pengamannya Dipotong Seseorang, Dua Tukang Cat Tergantung Setinggi 26 Lantai di Luar Gedung

Tali Pengamannya Dipotong Seseorang, Dua Tukang Cat Tergantung Setinggi 26 Lantai di Luar Gedung

Global
Biden Salah Ucap soal Taiwan, Timbulkan Kekhawatiran di China dan Asia

Biden Salah Ucap soal Taiwan, Timbulkan Kekhawatiran di China dan Asia

Global
Sekitar 180.000 Nakes di Dunia Meninggal akibat Covid-19, 2.000 dari Indonesia

Sekitar 180.000 Nakes di Dunia Meninggal akibat Covid-19, 2.000 dari Indonesia

Global
Iran Desak Taliban Agar Lebih Ramah Terhadap Negara Tetangga Afghanistan

Iran Desak Taliban Agar Lebih Ramah Terhadap Negara Tetangga Afghanistan

Global
Carina Joe Ilmuwan Indonesia di Balik Vaksin AstraZeneca, Akan Wakili Tim Raih Penghargaan Pride of Britain

Carina Joe Ilmuwan Indonesia di Balik Vaksin AstraZeneca, Akan Wakili Tim Raih Penghargaan Pride of Britain

Global
Merck Lepas Paten Pil Covid-19 Miliknya, Izinkan Pembuat Obat Lain Produksi Molnupiravir

Merck Lepas Paten Pil Covid-19 Miliknya, Izinkan Pembuat Obat Lain Produksi Molnupiravir

Global
Anna is Sad, Situs Misterius di Dark Web yang Penuh Hal Ganjil

Anna is Sad, Situs Misterius di Dark Web yang Penuh Hal Ganjil

Global
Sejarah Kemeja Flanel, dari Kelas Pekerja hingga Anak Grunge 90an

Sejarah Kemeja Flanel, dari Kelas Pekerja hingga Anak Grunge 90an

Global
WHO: Eropa Kembali Catat Sebagian Besar Kasus dan Kematian Covid-19 Dunia Pekan Lalu

WHO: Eropa Kembali Catat Sebagian Besar Kasus dan Kematian Covid-19 Dunia Pekan Lalu

Global
Video Rayakan Kemenangan Pakistan Viral, Ratusan Pelajar Kashmir Dituntut UU Teror India

Video Rayakan Kemenangan Pakistan Viral, Ratusan Pelajar Kashmir Dituntut UU Teror India

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.