Kompas.com - 07/08/2021, 13:51 WIB
Tangkapan layar dari video UNTV menunjukkan Duta Besar Myanmar di PBB, Kyaw Moe Tun, mengangkat salam tiga jari sebagai bentuk perlawanan kudeta Myanmar, saat mengakhiri pidatonya di Sidang Umum PBB pada Jumat (26/2/2021). UNTV via APTangkapan layar dari video UNTV menunjukkan Duta Besar Myanmar di PBB, Kyaw Moe Tun, mengangkat salam tiga jari sebagai bentuk perlawanan kudeta Myanmar, saat mengakhiri pidatonya di Sidang Umum PBB pada Jumat (26/2/2021).

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Duta Besar Myanmar untuk PBB Kyaw Moe Tun menjadi target pembunuhan karena vokal mengkritik junta militer di negaranya.

Dua warga Myanmar akhirnya ditangkap polisi di New York, Amerika Serikat (AS) karena membuat rencana pembunuhan terhadap Kyaw.

Melansir Anadolu Agency, kedua warga Myanmar yang ditangkap tersebut masing-masing bernama Phyo Hein Htut dan Ye Hein Zaw.

Baca juga: Utusan Myanmar Peringatan PBB tentang Dugaan Pembantaian oleh Junta Militer

Menurut surat dakwaan di pengadilan federal AS di New York, kedua warga Myamar tersebut ditangkap pada Jumat (6/8/2021).

Surat dakwaan itu mengatakan, kedua tersangka tersebut direkrut untuk mengintimidasi Kyaw agar mau meninggalkan jabatannya atau membunuhnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Surat tersebut tertulis, pihak yang merekrut kedua tersangka merupakan seorang pedagang senjata yang menjual senjata kepada militer Myanmar.

Baca juga: ASEAN Akhirnya Tunjuk Utusan Khusus untuk Myanmar, Bertugas Akhiri Kekerasan di Sana

Kudeta Myanmar genap berusia enam bulan sejak militer negara tersebut menangkap pemimpin de facto Aung San suu Kyi dan mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari.

Selain menangkap Suu Kyi, militer Myanmar juga menahan Presiden Win Myint serta sejumlah tokoh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang berkuasa.

Kudeta tersebut memicu aksi protes besar dan aksi mogok yang berlangsung selama berbulan-bulan.

Baca juga: AS Tolak Rencana Pemilu yang Ditawarkan Junta Militer Myanmar

Sebagai upaya menekan aksi protes, militer Myanmar menerapkan tindakan keras dengan melakukan penangkapan dan bahkan tak segan untuk membunuh.

Menurut Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik, jumlah korban tewas di tangan militer Myanmar sejak kudeta militer berjumlah 946 orang.

Selain itu, sebanyak 5.495 orang masih ditahan militer Myanmar.

Baca juga: Pasca-pertemuan di Jakarta, ASEAN Masih Belum Tunjuk Utusan Khusus untuk Myanmar

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kali Pertama, Rusia Laporkan 1.002 Kematian akibat Covid-19 dalam Sehari

Kali Pertama, Rusia Laporkan 1.002 Kematian akibat Covid-19 dalam Sehari

Global
Maling di Australia Curi Sepeda Motor Pakai Traktor Sawah

Maling di Australia Curi Sepeda Motor Pakai Traktor Sawah

Global
China Uji Rudal Hipersonik Berkemampuan Nuklir, AS Terkejut

China Uji Rudal Hipersonik Berkemampuan Nuklir, AS Terkejut

Global
Iran Tunda Lagi Eksekusi Tahanan yang Dipenjara Sejak Usia 17 Tahun

Iran Tunda Lagi Eksekusi Tahanan yang Dipenjara Sejak Usia 17 Tahun

Global
Shalat Subuh Pertama Tanpa Jaga Jarak, Arab Saudi Izinkan Masjidil Haram Kapasitas Penuh

Shalat Subuh Pertama Tanpa Jaga Jarak, Arab Saudi Izinkan Masjidil Haram Kapasitas Penuh

Global
Diintimidasi Taliban, Maskapai Pakistan Hentikan Operasi ke Kabul

Diintimidasi Taliban, Maskapai Pakistan Hentikan Operasi ke Kabul

Global
Mantan Gubernur dan Beberapa Kroninya di Bank Sentral Iran Dihukum Penjara

Mantan Gubernur dan Beberapa Kroninya di Bank Sentral Iran Dihukum Penjara

Global
Masjid Syiah Terus Jadi Target Serangan, Taliban Berjanji Tingkatkan Keamanan

Masjid Syiah Terus Jadi Target Serangan, Taliban Berjanji Tingkatkan Keamanan

Global
Intelijen AS: Korut Bakal Uji Coba Rudal Balistik Tahun Depan

Intelijen AS: Korut Bakal Uji Coba Rudal Balistik Tahun Depan

Global
Alat Setrum Kelamin dan Kursi Hukuman, Cara China Siksa Tahanan Menurut Mantan Perwiranya

Alat Setrum Kelamin dan Kursi Hukuman, Cara China Siksa Tahanan Menurut Mantan Perwiranya

Global
Jenderal Min Aung Hlaing, Junta Militer Myanmar Dikeluarkan dari KTT ASEAN

Jenderal Min Aung Hlaing, Junta Militer Myanmar Dikeluarkan dari KTT ASEAN

Global
Setelah Unggah Video Mengaku Dapat Ancaman, Wanita Qatar Ini Hilang Secara Misterius

Setelah Unggah Video Mengaku Dapat Ancaman, Wanita Qatar Ini Hilang Secara Misterius

Global
Kemenlu Verifikasi Dugaan Staf KJRI Los Angeles Aniaya ART yang Disorot Media AS

Kemenlu Verifikasi Dugaan Staf KJRI Los Angeles Aniaya ART yang Disorot Media AS

Global
Kematian Harian Covid-19 Rusia Lampaui 1.000 Jiwa untuk Pertama Kalinya

Kematian Harian Covid-19 Rusia Lampaui 1.000 Jiwa untuk Pertama Kalinya

Global
Taliban Akan Umumkan Izin Sekolah Menengah bagi Anak Perempuan Afghanistan

Taliban Akan Umumkan Izin Sekolah Menengah bagi Anak Perempuan Afghanistan

Global

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.