JAKARTA, KOMPAS.com – ASEAN tidak boleh diam saja melihat rivalitas antara Amerika Serikat (AS) dan China di seluruh dunia, terutama di Selat Taiwan dan Asia Tenggara.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Pakar Hukum Internasional sekaligus Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani Hikmahanto Juwana.
Hikmahanto mengatakan ASEAN harus berbuat sesuatu untuk mencegah rivalitas kedua negara menjadi semakin panas karena bisa saja memicu perang.
Baca juga: Indonesia Dorong ASEAN-Italia Perkuat Kerja Sama Pembangunan Berkelanjutan
“Dari perspektif ASEAN, kita harus melakukan sesuatu. Masalahnya adalah, apakah ASEAN punya sumber daya,” kata Hikmahanto dalam webinar bertajuk Talking ASEAN on Preserving Peace and Stability in the Taiwan Strait yang digelar The Habibie Center, Kamis (22/7/2021).
Dia menjelaskan bahwa sumber daya merupakan sektor vital untuk memengaruhi rivalitas antara “Negeri Paman Sam” dan “Negeri Panda”.
Apalagi, kedua negara sedang bersitegang mengenai masalah Laut China Selatan dan di Selat Taiwan.
“Kedua, apakah kita bisa berkonsentrasi ke isu internasional ketika kita masih bergulat dengan isu nasional,” sambung Hikmahanto.
Baca juga: Rusia Nyatakan Dukungan kepada ASEAN untuk Penyelesaian Krisis Myanmar
Pasalnya, saat ini negara-negara anggota ASEAN memiliki isu nasional masing-masing, terutama saat ini menghadapi pandemi Covid-19.
Selain itu, meski ASEAN mengeklaim sebagai sebuah kesatuan, masing-masing negara anggota sebenarnya memiliki perbedaan pandangan dan kebijakan terhadap China dan AS.
Hikmahanto mencontontohkan, saat ini Vietnam bersitegang dengan Beijing atas klaim Laut China Selatan. Maka, Vietnam bisa memanfaatkan pengaruh dari AS.
Sementara itu, Laos dan Kamboja memiliki hubungan yang dekat dengan China.
Baca juga: Pertemuan dengan AS Tak Jadi, ASEAN Beralih ke China soal Vaksin Covid-19
“Jadi, melihat situasi tersebut, sangat sulit bagi ASEAN untuk menyepakati satu suara,” tutur Hikmahanto.
Kendati demikian, ASEAN harus tetap berbuat sesuatu mengenai rivalitas kedua negara tersebut, terutama di Asia tenggara dan Selat Taiwan.
“Jika kedua negara, katakanlah, dalam mode ‘perang dingin’, maka jangan sampai bisa pecah menjadi perang sesungguhnya,” ujar Hikmahanto.
Pasalnya, jika pertempuran benar-benar pecah, itu tak hanya memengaruhi hubungan AS dan China, tapi juga berpengaruh ke seluruh dunia.
“ASEAN tidak boleh menjadi korban rivalitas antara AS dan China,” kata Hikmahanto.
Baca juga: Perwakilan ASEAN Dikabarkan Segera Menemui Junta Militer Myanmar
Sementara itu, Rektor Universitas Pertahanan RI Laksamana Madya TNI Amarulla Octavian mengatakan, dinamika Selat Taiwan juga menjadi diksusi domestik di antara beberapa negara anggota ASEAN.
Diskusi tersebut meliputi pencegahan konflik melalui kooperasi kebijakan dan keamanan.
“Saat ini ada beberapa agenda yang dilakukan ASEAN yang terkait dengan pembahasan Selat Taiwan. Indonesia memandang bahwa agenda tersebut penting mencapai keberhasilan,” kata Octavian.
Meski demikian, dia juga mengakui bahwa dinamika di Selat Taiwan bisa saja memicu gesekan di antara anggota-anggota ASEAN.
Pasalnya, ada beberapa anggota ASEAN yang memiliki kedekatan secara tradisional dengan China, dan ada pula yang berselisih mengenai batasan teritorial dengan China.
Baca juga: 9 Negara Asean Termasuk Indonesia Tolak Embargo Senjata untuk Myanmar
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & Ketentuan
Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.
Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.