Barat Satukan Suara Desak Taliban Akhiri Serangan Kejam di Afghanistan

Kompas.com - 20/07/2021, 15:14 WIB
Pasukan Taliban di Afghanistan berjalan untuk merayakan gencatan senjata pada hari kedua Idul Fitri di pinggiran Jalalabad pada Sabtu (16/6/2018). (AFP/Noorullah Shirzada) Pasukan Taliban di Afghanistan berjalan untuk merayakan gencatan senjata pada hari kedua Idul Fitri di pinggiran Jalalabad pada Sabtu (16/6/2018). (AFP/Noorullah Shirzada)

KABUL, KOMPAS.com - Lebih dari puluhan misi diplomatik di Afghanistan pada Senin (19/7/2021) menyerukan untuk "diakhirinya" serangan kejam oleh pasukan Taliban, karena bertentangan dengan klaim mereka untuk melanjutkan kesepakatan politik damai.

Desakan diakhirinya kekerasan Taliban ditandatangani oleh Amerika Serikat (AS), Uni Eropa (UE), dan lebih dari puluhan misi lainnya di Kabul, mengikuti pembicaran Taliban yang tidak meyakinkan dengan pemerintah Afghanistan di Doha.

Pembicaraan dua pihak yang berselisih itu diharapkan dapat menjadi solusi damai dari konflik berdarah di tanah Afghanistan.

Baca juga: Tentara AS Tinggalkan Ribuan Kendaraan Tanpa Kunci di Pangkalan Bagram Afghanistan

"Serangan Taliban bertentangan dengan klaim mereka untuk mendukung negosiasi penyelesaian (konflik)," ujar sejumlah negara yang mengirimkan misi diplomatik dalam pernyataannya, seperti yang dilansir dari AFP pada Senin (19/7/2021).

"Itu (konflik) telah mengakibatkan hilangnya nyawa warga Afghanistan yang tidak bersalah, termasuk pembunuhan yang ditargetkan terus-menerus, imigrasi penduduk sipil, penjarahan, dan pembakaran gedung, serta penghancuran infrastruktur vital dan jaringan komunikasi," ungkapnya.

Selama berbulan-bulan kedua belah pihak telah bertemu di dalam dan di luar ibu kota Qatar, tetapi hanya mencapai sedikit yang mencapai sepakat.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Putri Dubes Afghanistan untuk Pakistan Diculik dan Disiksa, Kabul Murka

Disebut juga kesepakatan pemerintah Afghanistan-Taliban itu telah kehilangan momentum untuk dilanjutkan dibangun dengan sejumlah serangan yang dilakukan oleh Taliban membuat keuntungan besar di medan perang di pihaknya.

Sebuah pernyataan bersama yang dirilis pada Minggu (18/7/2021) malam waktu setempat mengatakan bahwa sedikit lebih dari yang mereka sepakati tentang perlunya mencapai "solusi yang adil", dan untuk bertemu lagi minggu depan.

"Kami juga sepakat bahwa tidak boleh ada jeda dalam negosiasi," kata Abdullah Abdullah, delegasi pemerintah Afghanistan, kepada AFP pada Senin (19/7/2021).

Abdullah mencatat bahwa tidak ada pihak yang saat ini mengejar gencatan senjata bersama selama pembicaraan, meskipun ada seruan yang mendesak dari masyarakat sipil Afghanistan dan masyarakat internasional untuk mengakhiri gelombang pertempuran.

Baca juga: Pemimpin Taliban Nyatakan Dukung Penyelesaian Konflik Afghanistan

Halaman:

Video Pilihan

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Terseret Skandal Pandora Papers, Presiden Ekuador Diselidiki

Terseret Skandal Pandora Papers, Presiden Ekuador Diselidiki

Global
Ratu Elizabeth II Menginap di Rumah Sakit, Kali Pertama dalam Beberapa Tahun Terakhir

Ratu Elizabeth II Menginap di Rumah Sakit, Kali Pertama dalam Beberapa Tahun Terakhir

Global
Tak Terima, Erdogan Ancam Usir 10 Duta Besar Asing Termasuk AS

Tak Terima, Erdogan Ancam Usir 10 Duta Besar Asing Termasuk AS

Global
Kali Pertama Sejak Taliban Berkuasa di Afghanistan, Menlu Pakistan Kunjungi Kabul

Kali Pertama Sejak Taliban Berkuasa di Afghanistan, Menlu Pakistan Kunjungi Kabul

Global
POPULER GLOBAL: Covid-19 di China Merebak Lagi | Cerita WNI Shalat di Masjidil Haram Berkapasitas Penuh

POPULER GLOBAL: Covid-19 di China Merebak Lagi | Cerita WNI Shalat di Masjidil Haram Berkapasitas Penuh

Global
Kisah Misteri Eksperimen Kejam Donald dan Gua, yang Buat Bayi Manusia Seperti Simpanse

Kisah Misteri Eksperimen Kejam Donald dan Gua, yang Buat Bayi Manusia Seperti Simpanse

Global
Korsel Luncurkan Roket Luar Angkasa Domestik Pertama, tapi Misinya Gagal

Korsel Luncurkan Roket Luar Angkasa Domestik Pertama, tapi Misinya Gagal

Global
Ketika Seorang Anak Minta Topi Paus Fransiskus Secara Lansung di Panggung Audiensi Umum

Ketika Seorang Anak Minta Topi Paus Fransiskus Secara Lansung di Panggung Audiensi Umum

Global
Pembunuh Anggota Parlemen Inggris David Amess Didakwa Aksi Terorisme

Pembunuh Anggota Parlemen Inggris David Amess Didakwa Aksi Terorisme

Global
Jenazah Ditemukan Dekat Temuan Barang Milik Tunangan Selebgram Gabby Petito, Brian Laundrie

Jenazah Ditemukan Dekat Temuan Barang Milik Tunangan Selebgram Gabby Petito, Brian Laundrie

Global
Pilih Keluar dari Keluarga Kerajaan, Putri Mako dan Pangeran Harry Punya Kemiripan

Pilih Keluar dari Keluarga Kerajaan, Putri Mako dan Pangeran Harry Punya Kemiripan

Global
3 Tokoh Penting dalam Berdirinya PBB

3 Tokoh Penting dalam Berdirinya PBB

Internasional
Jenis Sanksi Internasional dan Contoh Penerapan Terkini

Jenis Sanksi Internasional dan Contoh Penerapan Terkini

Internasional
Isi Piagam PBB dan Sejarah Kesepakatannya

Isi Piagam PBB dan Sejarah Kesepakatannya

Internasional
Sejarah Hak Veto PBB dan Kontroversi di Baliknya

Sejarah Hak Veto PBB dan Kontroversi di Baliknya

Internasional

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.