Ditahan Setelah Sebut Kotoran Sapi Bukan Obat Covid-19, Aktivis India Akhirnya Dibebaskan

Kompas.com - 20/07/2021, 08:52 WIB
Perang kotoran sapi di Desa Gummatapura, India, setelah perayaan Diwali. Oddity CentralPerang kotoran sapi di Desa Gummatapura, India, setelah perayaan Diwali.

NEW DELHI, KOMPAS.com - Pengadilan tinggi India pada Senin (19/7/2021), memerintahkan pembebasan seorang aktivis yang ditangkap atas tuduhan penghasutan dua bulan lalu, karena unggahan Facebook yang mengatakan kotoran sapi bukan obat Covid-19.

Erendro Leichombam (40 tahun), membuat komentar pada Mei setelah kematian seorang politisi negara bagian Manipur dari Partai Bharatiya Janata (BJP), partai nasionalis Hindu pimpinan Perdana Menteri India Narendra Modi.

Baca juga: POPULER GLOBAL: Cara India Redakan Tsunami Covid-19 | Klaster Karaoke Plus-plus Singapura

Sapi disakralkan dalam agama Hindu, dan ada beberapa contoh politisi BJP yang mendukung penggunaan urine dan kotoran sapi untuk obat mencegah dan menyembuhkan Covid-19 dan penyakit lainnya.

"Obat Covid-19 bukanlah kotoran sapi dan urine sapi. Obatnya adalah sains dan akal sehat," tulis Leichombam di Facebook.

Dia ditangkap tak lama setelah unggahan itu, bersama dengan seorang jurnalis lokal, atas tuduhan "menghina sentimen agama" anggota keluarga dan pekerja BJP, menyusul pengaduan oleh politisi BJP lokal lainnya.

Dia kemudian didakwa atas penghasutan di bawah Undang-Undang (UU) Keamanan Nasional (NSA) yang kontroversial, di mana terdakwa dapat dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

AFP melaporkan pada Senin (19/7/2021), Mahkamah Agung memerintahkan pembebasan Leichombam, dengan mengatakan penahanannya yang berkelanjutan melanggar hak asasi manusia (HAM).

Tapi, wartawan lokal yang ditangkap pada saat yang sama, Kishorechandra Wangkhem, tetap berada di balik jeruji besi.

Baca juga: Pasien Covid-19 Pertama India Terinfeksi Virus Corona Lagi

Di bawah Modi, beberapa ribu orang telah ditangkap di bawah undang-undang hasutan dan anti-terorisme, termasuk jurnalis, aktivis hak asasi manusia dan lainnya.

Bulan ini, pendeta dan aktivis hak suku berusia 84 tahun Stan Swamy, yang didakwa melakukan pelanggaran terorisme, meninggal setelah sembilan bulan ditahan.

Hal itu memicu kemarahan internasional termasuk dari Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia.

Pekan lalu, pengadilan India menyesalkan "penyalahgunaan" undang-undang hasutan era kolonial India, dan bertanya kepada pemerintah Modi mengapa undang-undang itu tidak boleh dibatalkan.

Namun, Pemerintah India di bawah PM India Modi tidak menanggapi.

Baca juga: Indonesia Melampaui India, Bersiap Jadi Episentrum Baru Covid-19 Asia

Baca tentang

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Terakhir Kampanye Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Sindir Pesaingnya

Hari Terakhir Kampanye Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Sindir Pesaingnya

Global
TNI AL Bakal Punya Dua Fregat Arrowhead 140 Baru, Dibangun PT PAL

TNI AL Bakal Punya Dua Fregat Arrowhead 140 Baru, Dibangun PT PAL

Global
Ilmuwan Singapura Ubah Kulit Durian Jadi Perban Anti-bakteri

Ilmuwan Singapura Ubah Kulit Durian Jadi Perban Anti-bakteri

Global
Ini PLTS Terbesar di Dunia, Lebih Luas daripada Jakarta Pusat

Ini PLTS Terbesar di Dunia, Lebih Luas daripada Jakarta Pusat

Global
Heboh Ada Rambut Keluar dari Kuburan Tua 100 Tahun, Ini Dugaan Penyebabnya

Heboh Ada Rambut Keluar dari Kuburan Tua 100 Tahun, Ini Dugaan Penyebabnya

Global
10.000 Migran Haiti yang Berlindung di Bawah Jembatan Texas Akan Dideportasi AS

10.000 Migran Haiti yang Berlindung di Bawah Jembatan Texas Akan Dideportasi AS

Global
4 Tokoh Sejarah Dunia Penyebab Kerugian Ekonomi Terbesar, Salah Satunya Mansa Musa I

4 Tokoh Sejarah Dunia Penyebab Kerugian Ekonomi Terbesar, Salah Satunya Mansa Musa I

Internasional
Taliban Perintahkan Karyawan Wanita di Ibu Kota Afghanistan Tetap di Rumah

Taliban Perintahkan Karyawan Wanita di Ibu Kota Afghanistan Tetap di Rumah

Global
Preview Pemilu Kanada: Bisakah PM Justin Trudeau Menangi Periode Ketiga?

Preview Pemilu Kanada: Bisakah PM Justin Trudeau Menangi Periode Ketiga?

Global
Heboh di AS, Misteri Hilangnya Selebgram Gabby Petito, Pacarnya Mencurigakan

Heboh di AS, Misteri Hilangnya Selebgram Gabby Petito, Pacarnya Mencurigakan

Global
Legenda Tinju Manny Pacquiao Maju Jadi Calon Presiden Filipina, Kebijakan di Laut China Selatan Mungkin Berubah

Legenda Tinju Manny Pacquiao Maju Jadi Calon Presiden Filipina, Kebijakan di Laut China Selatan Mungkin Berubah

Global
Gunung Berapi Meletus di Pulau Atlantik, Pertama Kali dalam 50 Tahun

Gunung Berapi Meletus di Pulau Atlantik, Pertama Kali dalam 50 Tahun

Global
Pesawat AL AS Jatuh di Permukiman, 2 Pilot Dilarikan ke RS

Pesawat AL AS Jatuh di Permukiman, 2 Pilot Dilarikan ke RS

Global
KABAR DUNIA SEPEKAN: Di Ethiopia Masih Tahun 2014 | Sebulan Taliban Kuasai Afghanistan

KABAR DUNIA SEPEKAN: Di Ethiopia Masih Tahun 2014 | Sebulan Taliban Kuasai Afghanistan

Global
Mehdi Rajabian, Musisi Iran yang Rela Masuk Penjara Demi Album Baru

Mehdi Rajabian, Musisi Iran yang Rela Masuk Penjara Demi Album Baru

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.