Pakai Bahasa Gaul Korea Selatan di Korea Utara Kini Bisa Dihukum Penjara hingga Eksekusi

Kompas.com - 19/07/2021, 09:50 WIB
Foto dari pemerintah Korea Utara, tampak Kim Jong Un berpidato dalam pertemuan Partai Buruh Korea di Pyongyang, 15 Juni 2021. Kim memperingatkan adanya kemungkinan kekurangan pangan dan menyerukan supaya warga bersiap dengan perpanjangan aturan penanganan Covid-19. KCNA via APFoto dari pemerintah Korea Utara, tampak Kim Jong Un berpidato dalam pertemuan Partai Buruh Korea di Pyongyang, 15 Juni 2021. Kim memperingatkan adanya kemungkinan kekurangan pangan dan menyerukan supaya warga bersiap dengan perpanjangan aturan penanganan Covid-19.

PYONGYANG, KOMPAS.com - Media pemerintah Korea Utara mendesak kaum mudanya agar tidak menggunakan bahasa gaul dari Korea Selatan, dan menyuruh mereka berbicara dalam bahasa standar Korea Utara.

Ada juga peringatan baru di surat kabar resmi Korea Utara agar tidak mengadopsi mode, gaya rambut, dan musik Korea Selatan.

Baca juga: Setia kepada Kim Jong Un, Band Korea Utara Ini Hidup Mewah

Hukum Korea Utara ini adalah bagian dari undang-undang baru yang berusaha untuk membasmi segala jenis pengaruh asing, dengan hukuman yang keras.

Mereka yang ditemukan melanggar hukum dapat menghadapi hukuman penjara atau bahkan eksekusi.

Surat kabar Rodong Sinmun memperingatkan kaum milenial tentang bahaya mengikuti budaya pop Korea Selatan.

"Penetrasi ideologis dan budaya di bawah papan warna-warni borjuis bahkan lebih berbahaya daripada musuh yang mengambil senjata," tulis artikel itu melansir BBC pada Minggu (18/7/2021) .

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Peringatan itu juga menekankan bahwa bahasa Korea berdasarkan dialek Pyongyang lebih unggul, dan bahwa kaum muda harus menggunakannya dengan benar.

Baca juga: Kim Jong Un “Bersantai” di Kapal Mewahnya saat Rakyat Korea Utara Kelaparan

Korea Utara baru-baru ini berusaha menghilangkan bahasa gaul Korea Selatan, misalnya seorang wanita memanggil suaminya "oppa", yang berarti "kakak laki-laki" tetapi sering digunakan untuk menyebut pacar.

Pengaruh asing dipandang sebagai ancaman bagi rezim komunis Korea Utara, dan itu adalah cengkeraman Pemimpin Tertinggi Kim Jong-un pada kekuasaan.

Dia baru-baru ini menyebut K-pop sebagai "kanker ganas" yang merusak kaum muda Korea Utara, menurut New York Times.

Halaman:

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.