Dituding Jadi “Negara Gagal”, Presiden Kuba Serang Balik AS

Kompas.com - 17/07/2021, 11:02 WIB
Presiden Kuba Miguel Diaz Canel (tengah) berjalan bersama para pengikutnya setelah protes anti-pemerintah di San Antonio de los Banos, Kuba, Minggu 11 Juli 2021. AP PHOTO/RAMON ESPINOSAPresiden Kuba Miguel Diaz Canel (tengah) berjalan bersama para pengikutnya setelah protes anti-pemerintah di San Antonio de los Banos, Kuba, Minggu 11 Juli 2021.

HAVANA, KOMPAS.com - Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel pada Jumat (16/7/2021) balik menyerang Amerika Serikat (AS), setelah negaranya disebut sebagai “negara gagal” oleh Presiden AS Joe Biden sehari sebelumnya mengomentari demo Kuba.

Reuters melaporkan pada Jumat (16/7/2021), Diaz-Canel menilai bukan Kuba tapi AS - lah yang seharusnya disebut sebagai “negara gagal”.

Baca juga: Demo Kuba, YouTuber Ditangkap Polisi Saat Siaran Langsung di TV

Sebelumnya Presiden AS Joe Biden menyebut negara yang dikelola Partai Komunis itu sebagai "negara gagal" yang "menekan warganya."

Presiden ke-46 AS juga menuding pemerintah Kuba menghancurkan harapannya untuk bisa mencabut sanksi AS dalam waktu dekat, yang telah berkontribusi pada krisis ekonomi terburuk Kuba dalam beberapa dekade.

Biden (seorang Demokrat), telah bersumpah selama kampanye kepresidenannya untuk meringankan beberapa sanksi terhadap Kuba yang diperketat oleh pendahulunya Donald Trump (seorang Republik).

Tetapi para analis mengatakan demo Kuba, dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya di pulau itu dalam beberapa hari terakhir, telah memperumit kelonggaran politik Biden.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Negara gagal adalah negara yang menyenangkan minoritas reaksioner dan pemeras, (yang) mampu melipatgandakan kesusahan bagi 11 juta manusia (penduduk kuba), mengabaikan kehendak mayoritas Kuba dan komunitas internasional,” kicau Diaz-Canel di Twitter.

Pejabat Kuba dan banyak analis menuduh bahwa kebijakan AS di Kuba didorong oleh komunitas Kuba-Amerika yang antikomunis.

Mereka disebut memiliki pengaruh kuat di negara bagian Florida, tapi bukan membela kepentingan rakyat Kuba.

Baca juga: Pedemo Miami Blokade Jalan, Dukung Demonstrasi di Kuba

Pemerintah Kuba menuduh Amerika Serikat berada di balik demonstrasi yang meletus secara nasional di negara Karibia itu pada Minggu (11/7/2021).

Unjuk rasa besar tersebut tergolong langka, karena perbedaan pendapat publik dibatasi. Sementara ada dugaan kelompok kontra-revolusioner dibiayai untuk menimbulkan kerusuhan.

"Amerika Serikat telah gagal dalam upayanya menghancurkan Kuba meskipun menghabiskan miliaran dollar dalam upayanya untuk melakukannya," kata di utas Twitter-nya.

Pengganti Raul Castro (adik Fidel Castro) juga mengecam Washington atas angka kematian Covid-19 yang tinggi, kekerasan polisi, rasial, dan "catatan perang yang memalukan".

Baca juga: Hancurkan Komunisme! Seruan Orang Kuba-Amerika di Miami dan Washington

 


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Sejumlah Roket Hantam Dekat Kabul, Afghanistan Masih Tegang

Sejumlah Roket Hantam Dekat Kabul, Afghanistan Masih Tegang

Global
Pemimpin ISIS di Afrika yang Dibunuh Perancis Kepalanya Dihargai Rp 71,2 Miliar

Pemimpin ISIS di Afrika yang Dibunuh Perancis Kepalanya Dihargai Rp 71,2 Miliar

Global
Belum Divaksin, Presiden Brasil Ngeyel Bakal Hadir di Sidang Umum PBB

Belum Divaksin, Presiden Brasil Ngeyel Bakal Hadir di Sidang Umum PBB

Global
Misteri Al Naslaa, Batu yang Terbelah dengan Sempurna di Arab Saudi

Misteri Al Naslaa, Batu yang Terbelah dengan Sempurna di Arab Saudi

Global
Surat Wasiat Pangeran Philip Dirahasiakan Selama 90 Tahun, Ini Sebabnya...

Surat Wasiat Pangeran Philip Dirahasiakan Selama 90 Tahun, Ini Sebabnya...

Global
71 Persen Populasi China Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Penuh

71 Persen Populasi China Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Penuh

Global
Pemilu Kanada 2021: Profil Erin O'Toole, Pemula yang Berpeluang Kalahkan PM Justin Trudeau

Pemilu Kanada 2021: Profil Erin O'Toole, Pemula yang Berpeluang Kalahkan PM Justin Trudeau

Global
Taliban Larang Staf Wanita Masuk Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan

Taliban Larang Staf Wanita Masuk Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan

Global
Kali Pertama dalam 30 Tahun, Pasukan Jepang Gelar Latihan Skala Besar

Kali Pertama dalam 30 Tahun, Pasukan Jepang Gelar Latihan Skala Besar

Global
Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Terancam Kalah dari Pemula

Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Terancam Kalah dari Pemula

Global
Rusia: India Berminat Borong Sistem Pertahanan S-500

Rusia: India Berminat Borong Sistem Pertahanan S-500

Global
10 Pemimpin Terlama dalam Sejarah Pemerintahan Manusia

10 Pemimpin Terlama dalam Sejarah Pemerintahan Manusia

Internasional
Penanganan Evakuasi dari Afghanistan Tak Maksimal, Menlu Belanda Mundur

Penanganan Evakuasi dari Afghanistan Tak Maksimal, Menlu Belanda Mundur

Global
Bantu Australia Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir, AS: Tak Cari Konflik dengan China

Bantu Australia Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir, AS: Tak Cari Konflik dengan China

Global
POPULER GLOBAL: Taliban Usir Ribuan Warga dari Rumahnya Tanpa Alasan | Warga El Salvador Demo Tolak Bitcoin

POPULER GLOBAL: Taliban Usir Ribuan Warga dari Rumahnya Tanpa Alasan | Warga El Salvador Demo Tolak Bitcoin

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.