Kompas.com - 13/07/2021, 21:44 WIB
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, berbicara dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Dalam Negeri dan Kesehatan Swiss, Alain Berset (tidak ada di foto), sebelum menandatangani BioHub Initiative di laboratorium Spiez, jelang pembukaan Majelis Kesehatan Dunia ke-74 di markas besar WHO, Jenewa, Swiss, pada Senin (24/5/2021). KEYSTONE/LAURENT GILLIERON via AP PHOTODirektur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, berbicara dalam pertemuan bilateral dengan Menteri Dalam Negeri dan Kesehatan Swiss, Alain Berset (tidak ada di foto), sebelum menandatangani BioHub Initiative di laboratorium Spiez, jelang pembukaan Majelis Kesehatan Dunia ke-74 di markas besar WHO, Jenewa, Swiss, pada Senin (24/5/2021).

JENEWA, KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan negara-negara seharusnya tidak membeli vaksin penguat atau "booster" bagi warga yang sudah divaksinasi, sementara banyak negara lain yang bahkan belum memberikan vaksin dosis pertama untuk warganya.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesu mengatakan tingkat kematian meningkat, varian Delta menjadi varian dominan yang memakan korban jiwa, dan banyak negara belum memiliki persediaan vaksin yang cukup untuk melindungi tenaga kesehatan.

"Varian Delta menjalar ke seluruh dunia, seperti bara api, yang menyebabkan peningkatan kasus dan kematian," kata Dr Tedros.

Baca juga: Diperingatkan WHO soal Campur Vaksin Covid-19, Ini Pembelaan Thailand

Dia mengatakan varian Delta, yang pertama kali ditemukan di India, sekarang sudah ditemukan di 104 negara.

"Kesenjangan global akan pasokan vaksin Covid-19 sangat timpang dan tidak adil," katanya.

"Beberapa negara dan kawasan malah sudah mulai membeli jutaan dosis vaksin penguat atau 'booster', sementara negara lain tidak memiliki pasokan untuk melakukan vaksinasi terhadap pekerja kesehatan dan mereka yang lemah."

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dr Tedros secara tegas menyebut dua perusahaan pembuat vaksin, yaitu Pfizer dan Moderna sebagai perusahaan yang berusaha menyediakan vaksin "booster" ke negara-negara yang sudah memiliki tingkat vaksinasi tinggi.

Ia juga mengatakan dua perusahaan tersebut juga seharusnya memberikan vaksin kepada program COVAX, yakni program vaksin yang dijalankan oleh WHO yang dikhususkan bagi negara-negara miskin dan menengah.

Dr Tedros mengatakan kesenjangan besar dalam kepemilikan vaksin antara negara kaya dan miskin "membuat keputusan untuk tidak memberikan perlindungan kepada mereka yang membutuhkan".

Baca juga: Vaksin Sputnik V Akan Diproduksi 300 Juta Dosis per Tahun di India

Mengapa "booster" dianggap tak dibutuhkan saat ini?

Ilmuwan Kepala WHO, Soumya Swaminathan, mengatakan untuk saat ini belum ada bukti cukup soal perlunya vaksin penguat atau 'booster' bagi mereka yang sudah menerima vaksinasi penuh dua kali.

Halaman:
Baca tentang
Kompas.com Berita Vaksinasi

Kita bisa akhiri pandemi Covid-19 jika kita bersatu melawannya. Sejarah membuktikan, vaksin beberapa kali telah menyelamatkan dunia dari pandemi.

Vaksin adalah salah satu temuan berharga dunia sains. Jangan ragu dan jangan takut ikut vaksinasi. Cek update vaksinasi.

Mari bantu tenaga kesehatan dan sesama kita yang terkena Covid-19. Klik di sini untuk donasi via Kitabisa.

Kita peduli, pandemi berakhir!


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.