Kompas.com - 09/07/2021, 15:17 WIB
Foto yang dirilis situs web kepresidenan Iran pada 8 April 2008, menunjukkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengunjungi fasilitas nuklir Iran di Natanz, sekitar 300 km di selatan ibu kota Teheran. AFP PHOTOFoto yang dirilis situs web kepresidenan Iran pada 8 April 2008, menunjukkan Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengunjungi fasilitas nuklir Iran di Natanz, sekitar 300 km di selatan ibu kota Teheran.

RIYADH, KOMPAS.com – Arab Saudi mengaku khawatir dengan peningkatan aktivitas nuklir Iran yang dianggap mengancam keamanan regional.

Pernyatan tersebut diungkapkan oleh seorang pejabat kementerian luar negeri Arab Saudi sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (9/7/2021).

Sebelumnya, badan pengawas tenaga atom PBB, IAEA, melaporkan bahwa Iran telah memulai proses pengayaan uraniumnya.

Baca juga: Kesepakatan Nuklir Terancam, Iran Tingkatkan Nilai Tambah Logam Uranium Produksinya

Upaya Iran untuk memperkaya uranium tersebut dapat membantu negara tersebut mengembangkan senjata nuklir.

Di sisi lain, Iran mengatakan langkahnya tersebut bertujuan untuk mengembangkan bahan bakar untuk reaktor riset, bukan untuk memproduksi senjata nuklir.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Langkah terbaru Iran tersebut dikritik oleh Amerika Serikat (AS) dan Eropa. Washington dan Eropa melihatnya sebagai ancaman bagi upanya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

“Sangat prihatin dengan peningkatan kegiatan nuklir Iran dan pengembangan kemampuan yang tidak konsisten dengan tujuan damai," kata pejabat Arab Saudi menanggapi laporan IAEA.

Baca juga: Pemerintah Afghanistan Bakal Bertemu Taliban di Iran

Pejabat itu menuturkan, langkah Iran untuk memproduksi uranium yang diperkaya hingga 60 persen bisa dianggap sebagai ancaman terhadap keamanan regional dan nonproliferasi nuklir.

Pejabat tersebut menambahkan, Iran menghambat upaya menghidupkan kembali kesepakatan nuklir.

Negara-negara yang bersangkutan telah melakukan pembicaraan dengan Teheran sejak awal April untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Baca juga: Unjuk Gigi, Iran Gelar Latihan Militer Skala Besar di Laut Kaspia

AS menarik diri dari kesepakatan itu pada 2018 dan Iran menanggapinya dengan melanggar pembatasan aktivitas nuklirnya secara bertahap.

Arab Saudi, yang bersaing dengan Iran dalam memperebutkan pengaruh regional, menyerukan kesepakatan nuklir yang lebih kuat dengan durasi yang lebih lama.

Riyadh dan Teheran memutuskan hubungan pada 2016. Kedua negara lantas meluncurkan pembicaraan langsung pada April yang bertujuan untuk meredam ketegangan.

Baca juga: Diserang AS, Kelompok Pro-Iran Hashed al-Shaabi Akui Anggotanya Tewas


Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.