AS Keluarkan Sanksi Baru untuk 22 Orang Termasuk 4 Menteri Myanmar

Kompas.com - 03/07/2021, 21:11 WIB
Pedemo Myanmar mengacungkan salam 3 jari dalam demo menentang kudeta dan menyerukan Spring Revolution di Taunggyi, negara bagian Shan, pada Minggu (2/5/2021). STR/AFPPedemo Myanmar mengacungkan salam 3 jari dalam demo menentang kudeta dan menyerukan Spring Revolution di Taunggyi, negara bagian Shan, pada Minggu (2/5/2021).

NAYPIYDAW, KOMPAS.com - Amerika Serikat (AS) pada Jumat (2/7/2021) memberlakukan sanksi baru kepada 22 orang termasuk 4 menteri Myanmar, karena terlibat dalam kudeta militer dan serangan kekerasan terhadap gerakan pro-demokrasi rakyat.

Dalam aksi 2 arah, Kementerian Keuangan dan Perdagangan AS mengumumkan hukuman sebagai respons lanjutan Washington terhadap penggulingan Aung San Suu Kyi, pemerintah terpilih.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengatakan bahwa sanksi baru dikenakan "dalam merespons kekerasan brutal yang dilakukan oleh rezim militer Burma dan untuk melanjutkan pengenaan biaya sehubungan dengan kudeta militer".

Baca juga: Min Aung Hlaing Berulang Tahun, Warga Myanmar Rayakan dengan Acara Pemakaman

Sanksi tidak ditujukan kepada rakyat Myanmar, tetapi ditujukan untuk menekan junta militer untuk "segera mengembalikan demokrasi Burma", ujar Blinken seperti yang dilansir dari AFP pada Sabtu (3/7/2021).

Sanski baru AS menargetkan Menteri Informasi Myanmar Chit Naing, Menteri Investasi Aung Naing O, Menteri Tenaga Kerja dan Imigrasi Myint Kyaing, dan Menteri Kesejahteraan Sosial, Bantuan, dan Pemukiman Kembali Thet Thet Khine.

Tiga anggota Dewan Administratif Negara yang kuat juga terkena sanksi, serta 15 pasangan dan anak-anak pejabat yang sudah dewasa, dalam perluasan hukuman AS yang dijatuhkan pada Februari, Maret dan Mei setelah kudeta.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Lepaskan 2.000 Tahanan, Tindakan Militer Myanmar Dituding Cuma Rekayasa

Di bawah sanksi AS, semua warga Amerika atau orang-orang di Amerika Serikat dilarang melakukan transaksi apa pun dengan pihak junta militer Myanmar.

Andrea Gacki, Direktur Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan, mengatakan bahwa sanksi terbaru AS menunjukkan Washington

"akan terus membebankan biaya yang meningkat pada militer Burma dan mempromosikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas kudeta militer dan kekerasan yang sedang berlangsung."

Baca juga: Gelar Doa Bersama, 3 Pastor Ditangkap Junta Militer Myanmar

Korban tewas

Departemen Perdagangan AS juga menjatuhkan sanksi pada 4 entitas bisnis, yaitu King Royal Technologies Co, yang menyediakan layanan komunikasi satelit yang mendukung militer.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kematian di AS karena Covid-19 telah Melampaui Pandemi Flu Spanyol 1918

Kematian di AS karena Covid-19 telah Melampaui Pandemi Flu Spanyol 1918

Global
PM Australia Hubungi Presiden Jokowi, Berusaha Tenangkan Indonesia soal Kapal Selam Nuklir

PM Australia Hubungi Presiden Jokowi, Berusaha Tenangkan Indonesia soal Kapal Selam Nuklir

Global
Akademisi Terkemuka China: Australia Akan Jadi Target Perang Nuklir

Akademisi Terkemuka China: Australia Akan Jadi Target Perang Nuklir

Global
Trump Klaim Mendengar Kabar Ada Kantong Mayat di Lab Wuhan sebelum China Umumkan Kasus Covid-19

Trump Klaim Mendengar Kabar Ada Kantong Mayat di Lab Wuhan sebelum China Umumkan Kasus Covid-19

Global
Taliban Umumkan Pejabat Pemerintahannya, Lagi-lagi Tak Ada Perempuan

Taliban Umumkan Pejabat Pemerintahannya, Lagi-lagi Tak Ada Perempuan

Global
Tiga Ton Heroin dari Afghanistan Disita India setelah Taliban Berkuasa, Nilainya Puluhan Triliun

Tiga Ton Heroin dari Afghanistan Disita India setelah Taliban Berkuasa, Nilainya Puluhan Triliun

Global
Duduki Punggung Orang Saat Menunggu Kereta, Gadis Ini Dihujani Kritik Netizen

Duduki Punggung Orang Saat Menunggu Kereta, Gadis Ini Dihujani Kritik Netizen

Global
Seorang Pria Mengaku Unggah Foto Istrinya Berhubungan Seks dengan Atasannya di Facebook

Seorang Pria Mengaku Unggah Foto Istrinya Berhubungan Seks dengan Atasannya di Facebook

Global
PBB Peringatkan Korea Utara Memulai Kembali Program Nuklir dengan Kecepatan Penuh

PBB Peringatkan Korea Utara Memulai Kembali Program Nuklir dengan Kecepatan Penuh

Global
Beli Sperma dari Aplikasi, Ibu Ini Lahirkan 'Bayi Online'

Beli Sperma dari Aplikasi, Ibu Ini Lahirkan "Bayi Online"

Global
Pegawai Afghanistan Berbulan-bulan Tak Gajian, Ini Janji Taliban

Pegawai Afghanistan Berbulan-bulan Tak Gajian, Ini Janji Taliban

Global
Isian di Dagangannya Sedikit, Penjual Kue Tradisional Jepang Ini Minta Maaf

Isian di Dagangannya Sedikit, Penjual Kue Tradisional Jepang Ini Minta Maaf

Global
Dilarang Masuk Restoran karena Belum Vaksin, Presiden Brasil Kepergok Makan Berdiri di Pinggir Jalan AS

Dilarang Masuk Restoran karena Belum Vaksin, Presiden Brasil Kepergok Makan Berdiri di Pinggir Jalan AS

Global
Dikira Dicakar Kucing, Pria Ini Ternyata Ditembak saat Tidur

Dikira Dicakar Kucing, Pria Ini Ternyata Ditembak saat Tidur

Global
Taliban Berjanji Perempuan Bakal Kembali ke Sekolah Secepatnya

Taliban Berjanji Perempuan Bakal Kembali ke Sekolah Secepatnya

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.