Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Protes Anti-Monarki Meningkat, Pemerintah Eswatini Kerahkan Pasukan

Kompas.com - 30/06/2021, 11:57 WIB
Tito Hilmawan Reditya

Penulis

Sumber Guardian

MBABANE, KOMPAS.com - Pasukan pemerintah di kerajaan Eswatini Afrika Selatan, melepaskan tembakan dan gas air mata untuk membubarkan protes yang menyerukan reformasi sistem monarki absolutnya.

Dilansir Guardian, aksi protes yang digelar Selasa (29/6/2021) ini sampai membuat pemerintah berlakukan jam malam, dari senja hingga fajar.

Baca juga: Raja Eswatini Klaim Sembuh Covid-19, Setelah Pakai Obat dari Taiwan

Penjabat Perdana Menteri Eswatini, Themba Masuku, membantah laporan media bahwa Raja Mswati III telah melarikan diri dari aksi protes ke negara tetangga Afrika Selatan.

"Yang Mulia ada di negara ini dan terus memajukan tujuan kerajaan," kata Masuku.

“Kami hanya meminta ketenangan, pengekangan, dan perdamaian," tambahnya.

Selama ini, protes memang jarang terjadi di Eswatini, yang disebut monarki absolut terakhir di Afrika. Ini karena partai politik sudah lama dilarang.

Tapi akhir-akhir ini, demonstrasi anti-monarki yang keras telah meletus di beberapa bagian negara itu.

Kemarahan terhadap Mswati kemungkinan juga sudah ditahan selama bertahun-tahun.

Para aktivis mengatakan, raja secara konsisten menghindari seruan untuk reformasi yang berarti yang akan mendorong Eswatini, yang mengubah namanya dari Swaziland pada 2018, ke arah demokrasi.

Baca juga: 50 Tahun Merdeka, Swaziland Resmi Berganti Nama Jadi eSwatini

Para aktivis juga menuduh raja menggunakan pundi-pundi publik sebagai celengan, mendanai gaya hidup mewah dari uang 1,5 juta rakyatnya, yang kebanyakan bekerja sebagai petani.

Tanggapi aksi ini, pasukan keamanan memasang penghalang jalan untuk mencegah akses oleh beberapa kendaraan ke ibu kota, Mbabane, pada Selasa.

Beberapa bank dan toko mengatakan mereka juga akan tutup sampai kerusuhan--yang dimulai pada akhir pekan dan berubah menjadi kekerasan dalam semalam--mereda.

“Saya bisa mendengar suara tembakan dan mencium bau gas air mata. Saya tidak tahu bagaimana saya akan pulang, tidak ada apa-apa di pangkalan bus, ada polisi anti huru hara dan tentara yang kuat,” kata Vusi Madalane, seorang penjaga toko di Mbabane.

Baca juga: Pemerintah eSwatini Larang Gelaran Kompetisi Sihir dan Dukun

Terkait kerusuhan ini Masuku menambahkan, jam malam telah diberlakukan dari jam 6 sore sampai jam 5 pagi, dan sekolah-sekolah juga sudah diperintahkan untuk ditutup.

Ini bertujuan untuk mengekang hal yang disebutnya “kekerasan di beberapa bagian negara yang dilakukan oleh massa yang tidak patuh”.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya

Terkini Lainnya

Ketika Korea Utara dan Korea Selatan Adu Propaganda dengan Balon...

Ketika Korea Utara dan Korea Selatan Adu Propaganda dengan Balon...

Global
Denmark Tarik Merek Mi Instan dari Korea Selatan karena Terlalu Pedas

Denmark Tarik Merek Mi Instan dari Korea Selatan karena Terlalu Pedas

Global
Asia Catat Jumlah Kematian Dini Tertinggi di Dunia Akibat Polusi Udara

Asia Catat Jumlah Kematian Dini Tertinggi di Dunia Akibat Polusi Udara

Global
 Unik, Buku tentang Pelarangan Buku Dilarang di Sekolah Florida

Unik, Buku tentang Pelarangan Buku Dilarang di Sekolah Florida

Global
Kesal Dipecat, Karyawan Hapus Server Perusahaan Hingga Rugi Rp 11 Miliar

Kesal Dipecat, Karyawan Hapus Server Perusahaan Hingga Rugi Rp 11 Miliar

Global
90 Proyektil Ditembakkan dari Lebanon Usai Israel Tewaskan Komandan Senior Hezbollah

90 Proyektil Ditembakkan dari Lebanon Usai Israel Tewaskan Komandan Senior Hezbollah

Global
Hunter Biden Dinyatakan Bersalah, Apa Dampaknya bagi Joe Biden?

Hunter Biden Dinyatakan Bersalah, Apa Dampaknya bagi Joe Biden?

Internasional
Kebakaran di Gedung Perumahan Pekerja Kuwait, 41 Orang Tewas

Kebakaran di Gedung Perumahan Pekerja Kuwait, 41 Orang Tewas

Global
Skandal AI Sekolah Victoria, 50 Foto Siswi Direkayasa Tak Senonoh

Skandal AI Sekolah Victoria, 50 Foto Siswi Direkayasa Tak Senonoh

Global
AS Evaluasi Respons Hamas yang Minta Penghentian Perang Sepenuhnya

AS Evaluasi Respons Hamas yang Minta Penghentian Perang Sepenuhnya

Global
Ukraina Jatuhkan 24 Drone dan 6 Rudal Rusia, Beberapa Sasar Kyiv

Ukraina Jatuhkan 24 Drone dan 6 Rudal Rusia, Beberapa Sasar Kyiv

Global
Berbagai Cara Rusia Pakai Jalur Rahasia untuk Dapatkan Barang Impor

Berbagai Cara Rusia Pakai Jalur Rahasia untuk Dapatkan Barang Impor

Internasional
Diprotes Tetangga, Apartemen di Jepang Dirobohkan karena Halangi Pemandangan Gunung Fuji

Diprotes Tetangga, Apartemen di Jepang Dirobohkan karena Halangi Pemandangan Gunung Fuji

Global
'Spider-Man' Polandia Ditangkap di Argentina Saat Panjat Gedung 30 Lantai

"Spider-Man" Polandia Ditangkap di Argentina Saat Panjat Gedung 30 Lantai

Global
Bocoran Percakapan yang Diklaim dari Pemimpin Hamas Sebut Kematian Warga Sipil adalah 'Pengorbanan yang Perlu'

Bocoran Percakapan yang Diklaim dari Pemimpin Hamas Sebut Kematian Warga Sipil adalah "Pengorbanan yang Perlu"

Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com