Kompas.com - 25/06/2021, 10:33 WIB
Foto dari video yang memperlihatkan seorang korban diduga akibat serangan udara Etiopia, tiba dengan ambulans di Rumah Sakit Rujukan Ayder, Mekele, region Tigray pada Rabu (23/6/2021). AP PHOTOFoto dari video yang memperlihatkan seorang korban diduga akibat serangan udara Etiopia, tiba dengan ambulans di Rumah Sakit Rujukan Ayder, Mekele, region Tigray pada Rabu (23/6/2021).

TOGOGA, KOMPAS.com - Sedikitnya 64 orang tewas dan 180 luka-luka akibat serangan udara Etiopia di pasar wilayah Tigray yang dilanda perang, kata petugas kesehatan setempat kepada AFP, Kamis (24/6/2021).

“Serangan udara terjadi di area pasar, sehingga banyak, banyak orang terluka,” kata Mulu Atsbaha, penasihat kesehatan ibu dan anak pemerintah daerah Tigray.

Sebelumnya, serangan pada Selasa (22/6/2021) di kota Togoga juga menyebabkan 180 orang terluka, tambah Mulu.

Baca juga: Konflik Etiopia, Kasus Pemerkosaan Mengerikan Dilaporkan di Tigray

Dia mengatakan, jumlah korban dikumpulkan dari penduduk kota Togoga, 30 kilometer barat laut ibu kota regional Mekele, dan dikonfirmasi dengan para pemimpin lokal.

Juru bicara militer Etiopia pada Kamis berkata, mereka melakukan serangan di Togoga, tetapi menyebut sasarannya adalah milisi pemberontak.

"Kami tidak setuju bahwa operasi ini menargetkan warga sipil," kata Kolonel Getnet Adane kepada AFP, bersikeras bahwa mereka yang terluka atau tewas adalah milisi berpakaian sipil.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Para penyintas dan petugas kesehatan menggambarkan ledakan udara yang menghantam pasar saat sedang ramai, menewaskan dan melukai puluhan, termasuk anak-anak.

Baca juga: Etiopia Masuk 5 Besar Negara Eksportir Bunga Potong Terbesar di Dunia


PBB menyerukan penyelidikan mendesak atas serangan itu.

Serangan udara terjadi saat penghitungan suara sedang berlangsung setelah pemilihan nasional pada Senin (21/6/2021) di Etiopia.

Namun, konflik di Tigray berarti tidak ada pemungutan suara di sana, dan wilayah tersebut mengalami eskalasi pertempuran beberapa hari terakhir.

Perdana Menteri Abiy Ahmed mengirim pasukan ke Tigray pada November untuk menggulingkan pemimpin regional yang membangkang, dan menjanjikan kemenangan cepat.

Akan tetapi hampir delapan bulan kemudian pertempuran masih berlanjut, yang memicu krisis kemanusiaan dengan peringatan PBB bahwa 350.000 orang berada di ambang kelaparan.

Baca juga: Dokumen PBB: 350.000 Orang di Tigray Etiopia Kelaparan


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kekurangan Warga, Kota Ini Tawarkan Rumah Gratis dan Pekerjaan agar Orang Mau Datang

Kekurangan Warga, Kota Ini Tawarkan Rumah Gratis dan Pekerjaan agar Orang Mau Datang

Global
Anak Kembar Usia 5 Tahun Dinikahkan, Orangtuanya Percaya Mereka Reinkarnasi Sepasang Kekasih

Anak Kembar Usia 5 Tahun Dinikahkan, Orangtuanya Percaya Mereka Reinkarnasi Sepasang Kekasih

Global
Tergantungnya Warga AS pada AC: Makin Dingin Ruangan, Makin Panas Bumi

Tergantungnya Warga AS pada AC: Makin Dingin Ruangan, Makin Panas Bumi

Global
SpaceX Menangkan Kontrak NASA, Akan Jalankan Misi ke Bulan Jupiter

SpaceX Menangkan Kontrak NASA, Akan Jalankan Misi ke Bulan Jupiter

Global
Wanita Influencer China Meninggal Usai Sedot Lemak, Kliniknya Dituduh Malpraktik

Wanita Influencer China Meninggal Usai Sedot Lemak, Kliniknya Dituduh Malpraktik

Global
Reporter Berita di Rochester AS Dilecehkan Pria saat Laporan Langsung

Reporter Berita di Rochester AS Dilecehkan Pria saat Laporan Langsung

Global
Covid-19: Apakah AS Mendanai Penelitian Virus Paling Berbahaya di Wuhan?

Covid-19: Apakah AS Mendanai Penelitian Virus Paling Berbahaya di Wuhan?

Global
Seorang Eks Profesor Disidang karena Kirim Surat Ancaman ke Dirinya Sendiri

Seorang Eks Profesor Disidang karena Kirim Surat Ancaman ke Dirinya Sendiri

Global
Kongres Gagal Ganti Biaya Pengamanan Capitol, Garda Nasional Batalkan Pelatihan

Kongres Gagal Ganti Biaya Pengamanan Capitol, Garda Nasional Batalkan Pelatihan

Global
Kisah Teori Konspirasi Vaksinasi Covid-19 AS yang Pengaruhi Keutuhan Rumah Tangga

Kisah Teori Konspirasi Vaksinasi Covid-19 AS yang Pengaruhi Keutuhan Rumah Tangga

Global
Menunggu Jadwal Hukuman Mati, Pembunuh Berantai Ini Meninggal di Rumah Sakit

Menunggu Jadwal Hukuman Mati, Pembunuh Berantai Ini Meninggal di Rumah Sakit

Global
Sejumlah Pejabat Inggris Yakini Kentut Juga dapat Sebarkan Covid-19

Sejumlah Pejabat Inggris Yakini Kentut Juga dapat Sebarkan Covid-19

Global
Viral Video Cara Unik Dokter Suntik Balita Tanpa Buat Mereka Menangis

Viral Video Cara Unik Dokter Suntik Balita Tanpa Buat Mereka Menangis

Global
Dianggap Tak Becus Tangani Covid-19, Presiden Brasil Didemo dan Dituntut Mundur

Dianggap Tak Becus Tangani Covid-19, Presiden Brasil Didemo dan Dituntut Mundur

Global
Polisi Australia Buru Ribuan Demonstran Anti-Lockdown

Polisi Australia Buru Ribuan Demonstran Anti-Lockdown

Global
komentar
Close Ads X