Kompas.com - 23/06/2021, 16:16 WIB
Calon presiden Iran Ebrahim Raisi melambai ke media setelah memberikan suaranya di tempat pemungutan suara di Teheran, Iran, Jumat (18/6/2021). Iran menggelar pemungutan suara dalam pemilihan presiden pada Jumat. AP PHOTO/EBRAHIM NOROOZICalon presiden Iran Ebrahim Raisi melambai ke media setelah memberikan suaranya di tempat pemungutan suara di Teheran, Iran, Jumat (18/6/2021). Iran menggelar pemungutan suara dalam pemilihan presiden pada Jumat.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - PBB didesak untuk membuka penyelidikan terhadap kasus pembunuhan ribuan tahanan politik pada 1980-an yang melibatkan Presiden baru Iran Ebrahim Raisi.

Raisi yang memenangkan pemilihan presiden Iran pada pekan ini memiliki catatan masa lalu di mana ia terlibat dalam tindakan eksekusi massal pada 1980-an.

Lebih dari 150 mantan pejabat PBB, otoritas HAM dan pakar hukum telah menuntut agar PBB membuka penyelidikan atas pembunuhan yang dianggap "mungkin merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan", seperti yang dilansir dari Daily Mail pada Rabu (23/6/2021). 

Baca juga: Presiden Terpilih Iran Tolak Bertemu Joe Biden

Diperkirakan 4.000 hingga 30.000 orang dijatuhi hukuman mati pada 1988 oleh pemimpin tertinggi saat itu, Ruhollah Khomeini.

Tahar Boumedra dari Keadilan bagi Korban Pembantaian pada 1988 di Iran mengatakan, "Pembantaian adalah kejahatan berkelanjutan terhadap kemanusiaan. Keluarga korban terus menerima hukuman berat hanya karena bertanya kepada pihak berwenang di mana orang yang mereka cintai dimakamkan. Sudah waktunya PBB melakukan penyelidikan atas eksekusi massal itu."

"Naiknya Ebrahim Raisi ke kursi kepresidenan, bukannya diselidiki atas kejahatan pembunuhan, penghilangan paksa, dan penyiksaan, adalah pengingat suram bahwa impunitas berkuasa di Iran," ujar Agnes Callamard dari Amnesty International.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setelah menjadi presiden, Raisi ditanya soal peristiwa eksekusi 1988 itu dan dia menjawab, "Jika seorang hakim, seorang jaksa, telah membela keamanan rakyat, dia harus dipuji. Saya bangga telah membela hak asasi manusia di setiap posisi yang saya pegang sejauh ini."

Baca juga: Terkait Nuklir, PM Baru Israel Sebut Presiden Baru Iran Algojo Brutal

Pria yang berusia 60 tahun memainkan peran kunci pada 1980-an dalam membersihkan setiap pembangkang yang berani memprotes kediktatoran Ayatollah Khomeini.

Orang-orang yang selamat dari pembersihan ini menuduh bahwa Raisi memerintahkan untuk beberapa tahanan politik itu dilempar dari tebing.

Mereka mengatakan bahwa pria yang saat itu berusia 28 tahun, mengawasi langsung penyiksaan untuk mendapatkan pengakuan dan bahkan wanita hamil dipukuli untuk mendapatkan materi yang memberatkan suami dan anggota keluarga mereka sendiri.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X