Kompas.com - 13/06/2021, 15:37 WIB
Para pemimpin G7 berpose untuk foto bersama dengan latar belakang pantai di Carbis Bay Hotel di Carbis Bay, St Ives, Cornwall, Inggris, pada 11 Juni 2021. Dari kiri ke kanan: Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Presiden Perancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Kanselir Jerman Angela Merkel. AP PHOTO/Patrick SemanskyPara pemimpin G7 berpose untuk foto bersama dengan latar belakang pantai di Carbis Bay Hotel di Carbis Bay, St Ives, Cornwall, Inggris, pada 11 Juni 2021. Dari kiri ke kanan: Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau, Presiden Dewan Eropa Charles Michel, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Perdana Menteri Italia Mario Draghi, Presiden Perancis Emmanuel Macron, Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, dan Kanselir Jerman Angela Merkel.

CORNWALL, KOMPAS.com - Para pemimpin G7 membahas rencana membantu negara miskin dan berkembang, sebagai cara menyaingi China.

Presiden AS Joe Biden menerangkan, rencana Build Back Better World (B3W) akan menjadi alternatif berkualitas dibandingkan milik Beijing.

Dia merujuk kepada Inisiatif Sabuk dan Jalan (BRI) milik "Negeri Panda", yang sudah membantu membangun jalan, pelabuhan, dan rel kereta di negara lain.

Baca juga: Makin Ekspansif, Investasi China di Indonesia Melonjak Dua Kali Lipat pada 2019

Namun, inisiatif itu juga menuai kritikan karena membuat banyak negara terjebak dalam utang besar.

Dalam pertemuan di Cornwall, Inggris, para pemimpin G7 menawarkan sistem kerja sama "berbasis nilai, transparan, dan berkualitas tinggi".

Meski begitu, belum dijelaskan secara gamblang bagaimana bentuk pembiayaan ketujuh negara kaya dunia itu di rencana B3W.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kanselir Jerman Angela Merkel mengakui, mereka belum sampai pada tahap pembahasan finansial secara detil.

Dilansir BBC Sabtu (12/6/2021), AS mengkritik China karena terus melakukan "diplomasi utang" kepada negara berkembang dan miskin.

Jon Sopel, Editor BBC untuk Amerika Utara mengatakan, pertemuan tersebut adalah upaya G7 menahan pengaruh Beijing yang makin meroket.

Baca juga: Investasi China ke Arab Saudi Melonjak 100 Persen pada Semester I 2019

Dalam pandangan anggotanya, inisiatif BRI itu harus ditekan oleh demokrasi yang dibawa negara Barat.

Halaman:

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X