Indonesia Pertama Kali "Vote No" di R2P Pencegahan Genosida, Apa Artinya?

Kompas.com - 07/06/2021, 14:24 WIB
Para demonstran memegang tanda bertuliskan R2P atau Responsibility to Protect dalam demo menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 12 April 2021. R2P adalah prinsip dan kesepakatan internasional yang bertujuan mencegah genosida, kejahatan perang, pemusnahan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya. STR/AFPPara demonstran memegang tanda bertuliskan R2P atau Responsibility to Protect dalam demo menentang kudeta militer di Yangon, Myanmar, 12 April 2021. R2P adalah prinsip dan kesepakatan internasional yang bertujuan mencegah genosida, kejahatan perang, pemusnahan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya.

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya Indonesia vote no dalam resolusi Responsibility to Protect (R2P) di Sidang Umum PBB, Selasa (18/5/2021).

Keputusan Indonesia itu menjadi kontroversi, lantaran R2P adalah prinsip dan kesepakatan internasional, yang bertujuan mencegah genosida, kejahatan perang, pemusnahan etnis, dan kejahatan terhadap kemanusiaan lainnya.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Teuku Faizasyah dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com sempat menerangkan, ada tiga pertimbangan Indonesia melakukan penolakan.

Baca juga: Indonesia Tolak Resolusi Pencegahan Genosida dalam Sidang Umum PBB

  1. Tidak perlu membentuk mata agenda baru, karena selama ini pembahasan R2P di UNGA (Sidang Majelis Umum/SMU PBB) sudah berjalan dan penyusunan laporan Sekjen selalu dapat dilaksanakan.
  2. Pembahasan R2P oleh SMU PBB selalu dapat dilaksanakan dan sudah ada mata agendanya yaitu follow up to outcome of millenium summit.
  3. Konsep R2P juga sudah jelas tertulis di Resolusi 60/1 (2005 World Summit Outcome Document), paragraf 138-139.

Namun Centre for Strategic and International Studies atau CSIS Indonesia merasa, pandangan demikian harus diluruskan.

"Dari penjelasan teman-teman di Kemlu adalah ada tiga hal, yang pertama ini dikatakan vote no terhadap procedural resolution. Itu pandangan mereka pertama," ujar CSIS dalam press briefing kepada Kompas.com, Senin (7/6/2021).

Dengan demikian, CSIS menambahkan, Indonesia vote no terhadap hal yang sifatnya prosedural.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ini dianggap satu hal yang tidak perlu, karena Indonesia juga sudah aktif di dalam pertemuan-pertemuan yang sifatnya informal di GA (Sidang Umum) yang membahas R2P."

Baca juga: 3 Pertimbangan Indonesia Tolak R2P dan Pencegahan Genosida di Sidang Umum PBB

"Yang kedua adalah penjelasan bahwa Indonesia punya keengganan tersendiri untuk menjadikan R2P sebagai permanent agenda, karena dianggap R2P ini masih immature. Jadi ada semacam kekhawatiran atau cautiousness dari Indonesia sendiri."

"Yang ketiga, justifikasinya adalah ini digadang sebagai perwujudan atau manifestasi dari free and active policy-nya Indonesia."

CSIS kemudian merasa pandangan demikian harus diluruskan, sebab ini baru pertama kalinya Indonesia berkata tidak pada R2P. Biasanya posisinya adalah abstain.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Surat Wasiat Pangeran Philip Dirahasiakan Selama 90 Tahun, Ini Sebabnya...

Surat Wasiat Pangeran Philip Dirahasiakan Selama 90 Tahun, Ini Sebabnya...

Global
71 Persen Populasi China Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Penuh

71 Persen Populasi China Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Penuh

Global
Pemilu Kanada 2021: Profil Erin O'Toole, Pemula yang Berpeluang Kalahkan PM Justin Trudeau

Pemilu Kanada 2021: Profil Erin O'Toole, Pemula yang Berpeluang Kalahkan PM Justin Trudeau

Global
Taliban Larang Staf Wanita Masuk Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan

Taliban Larang Staf Wanita Masuk Kementerian Urusan Perempuan Afghanistan

Global
Kali Pertama dalam 30 Tahun, Pasukan Jepang Gelar Latihan Skala Besar

Kali Pertama dalam 30 Tahun, Pasukan Jepang Gelar Latihan Skala Besar

Global
Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Terancam Kalah dari Pemula

Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Terancam Kalah dari Pemula

Global
Rusia: India Berminat Borong Sistem Pertahanan S-500

Rusia: India Berminat Borong Sistem Pertahanan S-500

Global
10 Pemimpin Terlama dalam Sejarah Pemerintahan Manusia

10 Pemimpin Terlama dalam Sejarah Pemerintahan Manusia

Internasional
Penanganan Evakuasi dari Afghanistan Tak Maksimal, Menlu Belanda Mundur

Penanganan Evakuasi dari Afghanistan Tak Maksimal, Menlu Belanda Mundur

Global
Bantu Australia Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir, AS: Tak Cari Konflik dengan China

Bantu Australia Bangun Kapal Selam Bertenaga Nuklir, AS: Tak Cari Konflik dengan China

Global
POPULER GLOBAL: Taliban Usir Ribuan Warga dari Rumahnya Tanpa Alasan | Warga El Salvador Demo Tolak Bitcoin

POPULER GLOBAL: Taliban Usir Ribuan Warga dari Rumahnya Tanpa Alasan | Warga El Salvador Demo Tolak Bitcoin

Global
Kisah Misteri Pandemi 1916, Penyakit Tidur yang Buat Banyak Orang Mati dalam Lelap

Kisah Misteri Pandemi 1916, Penyakit Tidur yang Buat Banyak Orang Mati dalam Lelap

Global
Kisah Lorena Bobbitt, Potong Alat Kelamin Suaminya dan Dilempar dari Mobil karena Alami KDRT

Kisah Lorena Bobbitt, Potong Alat Kelamin Suaminya dan Dilempar dari Mobil karena Alami KDRT

Global
Maut di Bandara Tenerife 1977, Tabrakan Pesawat Korbankan Ratusan Nyawa

Maut di Bandara Tenerife 1977, Tabrakan Pesawat Korbankan Ratusan Nyawa

Global
Hanyut di Laut Setelah Kapal Karam, Ibu Selamatkan Anak-anaknya dengan Menyusui hingga Meninggal

Hanyut di Laut Setelah Kapal Karam, Ibu Selamatkan Anak-anaknya dengan Menyusui hingga Meninggal

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.