Kompas.com - 03/06/2021, 16:17 WIB
Ibu dari Yazan Al-zaharna, 9, menghiburnya saat dia beristirahat di rumah sakit Shifa di Kota Gaza, Kamis, (13/5/2021), di mana dia menerima perawatan untuk luka yang disebabkan oleh serangan Israel 10 Mei di dekat rumahnya di kota Jabaliya. AP PHOTO/KHALIL HAMRAIbu dari Yazan Al-zaharna, 9, menghiburnya saat dia beristirahat di rumah sakit Shifa di Kota Gaza, Kamis, (13/5/2021), di mana dia menerima perawatan untuk luka yang disebabkan oleh serangan Israel 10 Mei di dekat rumahnya di kota Jabaliya.

GAZA, KOMPAS.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Rabu (2/6/2021) mengungkapkan bahwa sekitar 200.000 orang Palestina dalam krisis kesehatan dan membutuhkan bantuan kesehatan segera.

"Lebih dari 77.000 orang mengungsi dan sekitar 30 fasilitas kesehatan rusak," kata pejabat WHO tentang dampak dari 11 hari bentrokan mematikan antara pasukan Israel dan Hamas, seperti yang dilansir dari Al Jazeera pada Rabu (2/6/2021).

Baca juga: Sejumlah Pemuda Lakukan Aksi Protes Sembur Api di Puing-puing Gaza

WHO mengatakan pihaknya perlu "meningkatkan tanggapan untuk memberikan bantuan kesehatan bagi hampir 200.000 orang yang membutuhkan" di seluruh wilayah Palestina yang diduduki, termasuk di Tepi Barat.

"Situasinya bergejolak. WHO khawatir...dan meminta akses tanpa hambatan untuk petugas dan pasokan bantuan kemanusiaan dan pembangunan ke Gaza," ujar Rik Peeperkorn dari WHO.

Peeperkorn juga menyerukan untuk semua pasien rujukan dapat keluar dari Gaza kapan pun diperlukan untuk mendapatkan perawatan lebih memadahi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Menlu Israel Bahas Gencatan Senjata Permanen Gaza di Mesir

Sementara itu, kepala Komite Palang Merah Internasional (ICRC) meminta lebih dari 16 juta dollar AS (Rp 228,6 miliar) untuk membantu kebutuhan kesehatan orang-orang di Gaza.

"Takut, cemas, dan stres adalah kata-kata kunci yang saya dengar berulang kali hari ini," kepala ICRC Robert Mardini kepada Al Jazeera setelah mengunjungi wilayah Gaza yang dihancurkan oleh pemboman Israel.

"Jika eskalasi lebih pendek saja, rekonstruksi tetap membutuhkan waktu bertahun-tahun," imbuh Mardini.

Baca juga: New York Times Pajang Foto Anak Korban Konflik Gaza di Halaman Utama

Ia kemudian menyerukan untuk semua pihak kooperatif mencapai "solusi politik yang berarti untuk (mengakhiri) konflik yang sudah berlangsung lama ini" antara Palestina dan Israel.

“Sementara itu, kami benar-benar perlu meningkatkan bantuan kemanusiaan lebih besar di Jalur Gaza dalam jangka waktu pendek,” ungkapnya.

Serangan Israel 11 hari ke Gaza menghancurkan 1.800 unit tempat tinggal dan sebagian menghancurkan setidaknya 14.300 bangunan lainnya, termasuk sekitar 74 bangunan umum di daerah-daerah.

Baca juga: Kepala HAM PBB: Serangan Israel di Gaza Mungkin Termasuk Kejahatan Perang

Kehancuran itu memaksa puluhan ribu warga Palestina untuk berlindung di sekolah-sekolah yang dikelola PBB.

Otoritas kesehatan Gaza mencatat ada sedikitnya 254 warga Palestina, termasuk 66 anak yang tewas dalam pertempuran 11 hari antara Israel dan Hamas.

Sedangkan otoritas Israel melaporkan setidaknya 12 orang termasuk 2 anak-anak yang tewas di Israel.

Baca juga: Usai Gencatan Senjata Israel-Hamas, Bagaimana Nasib Gaza Palestina Selanjutnya?


Sumber Al Jazeera
Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hari Ke-7 Kebakaran Hutan Turki, Pembangkit Listrik Terancam Kobaran Api Tak Terkendali

Hari Ke-7 Kebakaran Hutan Turki, Pembangkit Listrik Terancam Kobaran Api Tak Terkendali

Global
Usaha Daging Wagyu di Australia Bangkit Cepat dari Pandemi Covid-19

Usaha Daging Wagyu di Australia Bangkit Cepat dari Pandemi Covid-19

Global
Lengser sebagai Presiden Iran, Hassan Rouhani Mengaku Pemerintah Tak Selalu Jujur

Lengser sebagai Presiden Iran, Hassan Rouhani Mengaku Pemerintah Tak Selalu Jujur

Global
Sejumlah Orang Anti-vaksin Covid-19 telah Berubah Pikiran, Ini Alasannya...

Sejumlah Orang Anti-vaksin Covid-19 telah Berubah Pikiran, Ini Alasannya...

Global
Covid-19 Kembali ke Wuhan, Warga Pun 'Panic Buying'

Covid-19 Kembali ke Wuhan, Warga Pun "Panic Buying"

Global
Jenazah yang Dibedah Ternyata Temannya, Mahasiswa Kedokteran Ini Menangis

Jenazah yang Dibedah Ternyata Temannya, Mahasiswa Kedokteran Ini Menangis

Global
Ledakan Beirut Rusak Hajatannya, Dokter Ini Enggan Pasang Foto 'Menyakitkan'

Ledakan Beirut Rusak Hajatannya, Dokter Ini Enggan Pasang Foto "Menyakitkan"

Global
Jepang Mulai Permalukan Warganya di Depan Umum terkait Pelanggaran Covid-19

Jepang Mulai Permalukan Warganya di Depan Umum terkait Pelanggaran Covid-19

Global
Heiden, Desa Swiss yang Menjadi Kelahiran Penjajah Indonesia

Heiden, Desa Swiss yang Menjadi Kelahiran Penjajah Indonesia

Global
Pakar Sejarah Sebut Swiss Terlibat Penjajahan di Indonesia

Pakar Sejarah Sebut Swiss Terlibat Penjajahan di Indonesia

Global
Dibesarkan Orangtuanya yang Anggota ISIS, Gadis AS Ini Dikeluarkan dari Suriah

Dibesarkan Orangtuanya yang Anggota ISIS, Gadis AS Ini Dikeluarkan dari Suriah

Global
Ratusan Petugas Kesehatan di Australia Jalani Isoman di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Ratusan Petugas Kesehatan di Australia Jalani Isoman di Tengah Lonjakan Kasus Covid-19

Global
Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Bergabung dengan Negara Barat Lawan China

Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan, Bergabung dengan Negara Barat Lawan China

Global
Kontroversi Monumen Satu Tahun Ledakan Beirut, Keluarga Masih Berduka Tak Ada yang Bertanggung Jawab

Kontroversi Monumen Satu Tahun Ledakan Beirut, Keluarga Masih Berduka Tak Ada yang Bertanggung Jawab

Global
Momen Haru Atlet Qatar dan Italia Sepakat Berbagi Emas Olimpiade Setelah Bersaing Sengit

Momen Haru Atlet Qatar dan Italia Sepakat Berbagi Emas Olimpiade Setelah Bersaing Sengit

Global
komentar
Close Ads X