AS Akan Evakuasi Penerjemah di Afghanistan, Antisipasi Balasan Taliban

Kompas.com - 28/05/2021, 18:09 WIB
Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS), Jenderal Mark Milley. Xinhua/Ting ShenKepala Staf Gabungan Amerika Serikat (AS), Jenderal Mark Milley.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Pemerintah AS segera merumuskan rencana evakuasi bagi ribuan penerjemah yang bekerja untuk pasukan koalisi di Afghanistan, Kamis (27/5/2021).

Dilansir AFP, sekitar 18 ribu penerjemah sudah bekerja selama dua dekade terakhir. Pemerintah AS menyatakan, keselamatan mereka jadi yang utama. Menghindari risiko serangan pembalasan oleh kelompok Taliban.

Baca juga: ISIS Klaim Bom Shalat Jumat di Afghanistan yang Tewaskan 12 Orang

"Kami mengakui ada sejumlah besar warga Afghanistan yang mendukung Amerika Serikat dan koalisi ini. Jadi, risiko apapun bisa terjadi. Termasuk serangan balasan," kata Mark Milley, Chairman Kepala Staf Gabungan AS.

"Kami memastikan bahwa kami tetap setia pada mereka, akan melakukan apapun yang diperlukan untuk memastikan perlindungan. Dan jika perlu, mengeluarkan mereka dari Afghanistan," tambahnya.

Para penerjemah itu, sejauh ini sangat mendukung langkah cepat AS, sembari menunggu keputusan tentang visa untuk segera bermigrasi ke negaranya.

Selama ini, mereka sudah bekerja dengan keras di tengah medan perang. Membantu pasukan AS melawan Taliban, Al-Qaeda, dan ekstremis ISIS yang menentang pemerintah di Kabul.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di sisi lain, para veteran militer perang dan anggota Kongres AS menyatakan keprihatinan mendalam karena menilai pemerintah AS tidak bekerja cukup keras mengeluarkan warga AS yang masih bekerja di Afghanistan.

Ini sesudah rencana Joe Biden Presiden AS untuk menarik sekitar 2.500 tentara AS dan 16.000 kontraktor AS, kemungkinan akan terealisasi September mendatang.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri AS juga masih belum menyelesaikan pekerjaan pemberian visa besar-besaran.

Jadi, warga AS yang bekerja di tengah konflik Afghanistan, termasuk penerjemah, kemungkinan hanya bisa dipindahkan ke negara dunia ketiga, atau setidaknya wilayah AS di Guam.

Menanggapi hal ini, Lloyd Austin Menteri Pertahanan AS, masih dilansir AFP, mengatakan dalam sidang Kongres bahwa penarikan kemungkinan bisa "sedikit" lebih cepat dari jadwal.

"Kami akan beralih ke hubungan bilateral baru dengan mitra Afghanistan kami, yang terus membantu memenuhi tanggung jawab pada warga negara AS," ujar Austin.

Baca juga: Bom Meledak di Masjid Afghanistan saat Shalat Jumat, 12 Orang Tewas


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.