Covid-19 Nepal Makin Mengkhawatirkan, China Hentikan Pendakian ke Gunung Everest

Kompas.com - 17/05/2021, 14:18 WIB
Dalam foto file 12 November 2015 ini, Puncak Gunung Everest terlihat dari jalan menuju Kalapatthar di Nepal. AP PHOTO/TASHI SHERPADalam foto file 12 November 2015 ini, Puncak Gunung Everest terlihat dari jalan menuju Kalapatthar di Nepal.

BEIJING, KOMPAS.com - China menghentikan pendakian ke Gunung Everest dari wilayahnya menuju puncak tertinggi di dunia itu, karena kekhawatiran adanya impor kasus Covid-19 dari negara tetangga Nepal.

Penutupan itu dikonfirmasi dalam pemberitahuan Jumat (14/5/2021) dari Administrasi Umum Olahraga China, kata Kantor Berita resmi Xinhua.

Baca juga: Covid-19 Nepal, Pendaki Gunung Everest Didesak Bawa Turun Tabung Oksigen Bekas

Langkah tersebut memperlihatkan tingginya kewaspadaan “Negeri Tirai Bambu” dalam menangani pandemi.

Hal itu mengingat Nepal mengalami lonjakan dengan rekor jumlah infeksi dan kematian baru. Sementara China sebagian besar telah mengekang penularan virus corona secara domestik.

China mengeluarkan izin kepada 38 orang, semuanya warga negara China, untuk mendaki gunung setinggi 8.849 meter (29.032 kaki) musim semi ini, sebelum penutupan ditetapkan.

Sementara Nepal memberikan izin kepada 408 orang. Pendakian tidak diizinkan dari kedua sisi tahun lalu karena pandemi.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Di Nepal, beberapa pendaki melaporkan dinyatakan positif Covid-19, setelah mereka turun dari base camp Everest.

Bulan Mei biasanya memiliki cuaca terbaik untuk mendaki Everest. Banyak pendaki telah mencapai puncak minggu ini, dan lebih banyak diharapkan untuk mencoba akhir bulan ini setelah cuaca membaik.

Tapi dua pendaki tewas di sisi Nepal, satu dari Swiss dan satu dari Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Kasus Covid-19 Nepal Melonjak 2.500 Persen Sebulan, PMI Khawatir Akan Ada Kematian Massal

China sebelumnya mengatakan akan membuat garis pemisah di puncaknya dan melarang orang-orang di sisinya untuk melakukan kontak dengan siapa pun di pihak Nepal. Tapi tidak jelas bagaimana itu akan dilakukan.

Seorang ahli pemandu pendakian, Lukas Furtenbach dari Austria, mengatakan dia membatalkan pendakian ke Everest saat ini. Timnya, yang terdiri lebih dari selusin pendaki dari sisi Nepal, khawatir akan penyebaran virus.

"Kami mengakhiri ekspedisi kami hari ini karena masalah keamanan dengan wabah Covid-19," kata Furtenbach dalam pesan dari basecamp kepada AP pada Minggu (16/5/2021).

"Kami tidak ingin mengirim orang atau Sherpa, mereka (bisa) sakit di atas sana dan mati."

Sebelum meninggalkan gunung itu, dia memperingatkan virus dapat menyebar di antara ratusan pendaki, pemandu, dan penolong lainnya, yang sekarang berkemah di pangkalan Everest. Apalagi jika semuanya tidak segera diperiksa dan tindakan pengamanan tidak diambil.

Baca juga: Nepal Alami Situasi Covid-19 seperti di India, Rumah Sakit Kehabisan Oksigen

Baca tentang

Sumber AP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Israel Akhirnya Buka Ekspor Terbatas untuk Produk Pertanian dari Jalur Gaza

Israel Akhirnya Buka Ekspor Terbatas untuk Produk Pertanian dari Jalur Gaza

Global
Banyak Tentara Jadi Korban Lawan Taliban, Presiden Afghanistan Copot Menhan dan Mendagri

Banyak Tentara Jadi Korban Lawan Taliban, Presiden Afghanistan Copot Menhan dan Mendagri

Global
Utusan AS untuk Korea Utara Harap Pyongyang Beri Tanggapan Positif

Utusan AS untuk Korea Utara Harap Pyongyang Beri Tanggapan Positif

Global
Festival Daging Anjing di China Bakal Digelar, 5.000 Ekor Dibunuh dalam 10 Hari

Festival Daging Anjing di China Bakal Digelar, 5.000 Ekor Dibunuh dalam 10 Hari

Global
Ditemukan Kasus Covid-19 Pertama di Kalangan Atlet Olimpiade Tokyo

Ditemukan Kasus Covid-19 Pertama di Kalangan Atlet Olimpiade Tokyo

Global
“Armada Hantu” Iran Jual Minyak Pasar Gelap ke China untuk Biayai Program Nuklir Rahasianya

“Armada Hantu” Iran Jual Minyak Pasar Gelap ke China untuk Biayai Program Nuklir Rahasianya

Global
Korban Meninggal Covid-19 Capai 500.000 Orang, Presiden Brasil Dituntut Mundur

Korban Meninggal Covid-19 Capai 500.000 Orang, Presiden Brasil Dituntut Mundur

Global
Ibu Kota Rusia Catat Kasus Covid-19 Baru Tertinggi, Tuan Rumah Euro 2020 Jadi Hotspot

Ibu Kota Rusia Catat Kasus Covid-19 Baru Tertinggi, Tuan Rumah Euro 2020 Jadi Hotspot

Global
Korban Meninggal Covid-19 di Brasil Capai 500.000 Orang, Presiden Tetap Tolak Pembatasan Sosial

Korban Meninggal Covid-19 di Brasil Capai 500.000 Orang, Presiden Tetap Tolak Pembatasan Sosial

Global
Pemimpin Junta Militer Myanmar ke Moskwa, Diundang Rusia Hadiri Konferensi Keamanan

Pemimpin Junta Militer Myanmar ke Moskwa, Diundang Rusia Hadiri Konferensi Keamanan

Global
KABAR DUNIA SEPEKAN: Dua Pemimpin Baru Timur Tengah | China Sindir Barat

KABAR DUNIA SEPEKAN: Dua Pemimpin Baru Timur Tengah | China Sindir Barat

Global
Nasib Lukisan Asli Abad Ke-17 yang Dibuang di Tempat Sampah

Nasib Lukisan Asli Abad Ke-17 yang Dibuang di Tempat Sampah

Global
Pendeta Yahudi Ini Akan Jadi yang Pertama Bergabung dalam Militer Jerman Setelah Era Nazi

Pendeta Yahudi Ini Akan Jadi yang Pertama Bergabung dalam Militer Jerman Setelah Era Nazi

Global
Tabrakan Beruntun di Tol Alabama AS, 9 Anak-anak Tewas

Tabrakan Beruntun di Tol Alabama AS, 9 Anak-anak Tewas

Global
Hilang 4 Hari, Jasad Mahasiswi AS Ditemukan di Rusia

Hilang 4 Hari, Jasad Mahasiswi AS Ditemukan di Rusia

Global
komentar
Close Ads X