Mengenal Nakba, Tragedi Pengusiran Warga Palestina Setelah Israel Berdiri

Kompas.com - 15/05/2021, 15:34 WIB
Warga Palestina berkumpul saat aksi protes memperingati 71 tahun 'Nakba', atau malapetaka, ketika ratusan ribu mereka dipaksa meninggalkan rumah di tengah perang yang mengelilingi kemerdekaan Israel pada 1948, dekat perbatasan Israel-Gaza, bagian timur Kota Gaza, Rabu (15/5/2019). ANTARA FOTO/REUTERS/Mohammed SalemWarga Palestina berkumpul saat aksi protes memperingati 71 tahun 'Nakba', atau malapetaka, ketika ratusan ribu mereka dipaksa meninggalkan rumah di tengah perang yang mengelilingi kemerdekaan Israel pada 1948, dekat perbatasan Israel-Gaza, bagian timur Kota Gaza, Rabu (15/5/2019).

RAMALLAH, KOMPAS.com – Ketika David Ben-Gurion mendeklarasikan berdirinya Israel pada 14 Mei 1948, sekitar 700.000 warga Palestina terusir dari rumah mereka.

Pengusiran warga Palestina akibat deklarasi tersebut menciptakan krisis pengungsi yang masih belum terselesaikan hingga saat ini.

Baca juga: Yasser Arafat: Tokoh Perjanjian Damai untuk Tanah Palestina atas Konflik dengan Israel

Orang-orang Palestina menyebut penggusuran massal kala itu sebagai Nakba, bahasa Arab untuk "malapetaka".

Warisan ini menjadi salah satu masalah yang paling sulit diselesaikan dalam negosiasi perdamaian yang sedang berlangsung.

Orang Palestina dan Israel mengingat kelahiran krisis tersebut dengan sudut pandang yang sangat berbeda sebagaimana dilansir Vox.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Orang-orang Palestina menganggap penggusuran tersebut merupakan titik kulminasi dari kampanye Yahudi selama bertahun-tahun yang terencana untuk menyikat Palestina.

Baca juga: Kenapa Palestina Tidak Punya Tentara?

Sementara orang Israel cenderung menyalahkan orang Arab yang melarikan diri secara spontan, tentara Arab, atau akibat masa perang yang tidak menguntungkan.

Kini, ada lebih dari 7 juta pengungsi Palestina yang didefinisikan sebagai orang-orang yang mengungsi pada 1948 dan keturunannya.

Tuntutan inti Palestina dalam negosiasi perdamaian dengan Israel adalah semacam keadilan bagi para pengungsi ini.

Mereka paling sering menuntut supaya warga Palestina memiliki hak untuk kembali ke rumah yang ditinggalkan keluarga mereka pada 1948.

Baca juga: China Tuduh AS Abaikan Penderitaan Palestina dengan Blokir Pertemuan DK PBB

Halaman:

Sumber Vox
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X