Kompas.com - 12/05/2021, 16:09 WIB
Foto in menunjukkan ledakan akibat serangan udara di Jalur Gaza yang dikontrol Hamas, pada Senin (10/5/2021). Israel melancarkan serangan udara di Gaza untuk membalas serangan roket dari Hamas, dalam bentrokan terbaru di Masjid Al-Aqsa Palestina. AFP PHOTO/MAHMUD HAMSFoto in menunjukkan ledakan akibat serangan udara di Jalur Gaza yang dikontrol Hamas, pada Senin (10/5/2021). Israel melancarkan serangan udara di Gaza untuk membalas serangan roket dari Hamas, dalam bentrokan terbaru di Masjid Al-Aqsa Palestina.

GAZA, KOMPAS.com - Konflik antara Palestina dan Israel kembali memanas. Saling serang antara berbagai milisi di Jalur Gaza, terutama Hamas dan Jihad Islam, dengan Israel memuncak pada Senin (10/5/2021), sebagai kelanjutan dari bentrokan yang beberapa kali terjadi di dalam kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem Timur, Palestina.

Menanggapi perkembangan terbaru ini, Direktur Timur Tengah Kementerian Luar Negeri Bagus Hendraning Kobarsyih kepada VOA, Selasa (11/5/2021) menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia mengecam keputusan pengadilan Israel yang memerintahkan pengusiran paksa enam keluarga Palestina dari tempat tinggal mereka di kawasan Syekh Jarrah, Yerusalem Timur.

Baca juga: Israel Kerahkan 5.000 Tentara Cadangan di Tengah Konflik dengan Militan Gaza

Indonesia juga mengecam kekerasan yang dilakukan aparat keamanan Israel terhadap warga sipil Palestina yang terjadi dalam sejumlah bentrokan di kompleks Masjid Al-Aqsa.

Semua ini, lanjut Bagus, telah melukai perasaan umat Islam dan paling berbahaya bisa menciptakan ketidakstabilan di kawasan, seperti yang dilansir dari VOA Indonesia pada Rabu (12/5/2021). 

Karena itu, Indonesia mendesak masyarakat internasional untuk segera bertindak buat menghentikan tindakan Israel mengusir warga sipil Palestina dan kekerasan yang mereka lakukan terhadap orang Palestina.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bagus menambahkan Indonesia akan terus menyuarakan isu Palestina dalam berbagai forum, baik itu di level bilateral, regional, atau multilateral hingga Palestina menjadi negara merdeka dan berdaulat dengan ibu kota Yerusalem Timur.

Baca juga: 35 Tewas dalam Serangan Udara Israel, Gaza Terancam Dilanda Perang

 

Selain itu, Indonesia juga menggalang dukungan dengan kelompok kwartet, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Amerika Serikat, Rusia, dan Uni Eropa, serta negara-negara yang mempunyai peran penting, yakni Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Turki.

"Jadi, kita mengupayakan agar kekerasan yang sekarang terjadi segera dihentikan karena terjadi di wilayah pendudukan Palestina, di Kota Yerusalem, yang menjadi simbol tiga agama besar. Jadi, tidak bisa berlaku kekerasan di tempat itu. Tidak hanya di Yerusalem, tapi di semua wilayah Palestina," kata Bagus.

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Yon Machmudi sependapat, bahwa Indonesia perlu berbicara kepada kelompok kwartet, yakni PBB, Amerika Serikat, Rusia, dan Uni Eropa untuk mendesak Israel segera menghentikan kekerasan dan kembali ke meja perundingan.

Baca juga: Sejak Senin, Milisi Jalur Gaza Tembakkan 1.000 Roket ke Israel

Di samping itu, kelompok kwartet harus mendesak Israel menghentikan pembangunan permukiman baru Yahudi di Yerusalem Timur, yang memang ilegal menurut hukum internasional.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Covid-19 Varian Delta Bisa Sebabkan 90 Persen Kasus di Eropa

Covid-19 Varian Delta Bisa Sebabkan 90 Persen Kasus di Eropa

Global
Korea Utara Enggan Berkontak dengan AS, Dianggap Buang-buang Waktu

Korea Utara Enggan Berkontak dengan AS, Dianggap Buang-buang Waktu

Global
Sepak Terjang John McAfee, Raja Antivirus Penuh Kontroversi yang Tewas Mengenaskan

Sepak Terjang John McAfee, Raja Antivirus Penuh Kontroversi yang Tewas Mengenaskan

Global
Baru Dibentuk, Milisi Anti-junta Bentrok dengan Tentara Myanmar

Baru Dibentuk, Milisi Anti-junta Bentrok dengan Tentara Myanmar

Global
Pendiri Antivirus McAfee Tewas Bunuh Diri di Penjara

Pendiri Antivirus McAfee Tewas Bunuh Diri di Penjara

Global
Perempuan Berdaya: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Bernilai 1.000 Prajurit

Perempuan Berdaya: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Bernilai 1.000 Prajurit

Internasional
Iran Gagal Luncurkan Satelit ke Ruang Angkasa

Iran Gagal Luncurkan Satelit ke Ruang Angkasa

Global
POPULER GLOBAL: India Laporkan Varian Covid-19 Delta Plus | China Murka Kapal Perusak AS Berlayar di Selat Taiwan

POPULER GLOBAL: India Laporkan Varian Covid-19 Delta Plus | China Murka Kapal Perusak AS Berlayar di Selat Taiwan

Global
Iran Klaim Gagalkan “Serangan Sabotase” pada Fasilitas Nuklirnya

Iran Klaim Gagalkan “Serangan Sabotase” pada Fasilitas Nuklirnya

Global
Ngobrol Langsung dengan Awak China di Luar Angkasa, Xi Jinping Puja-puji Astronotnya

Ngobrol Langsung dengan Awak China di Luar Angkasa, Xi Jinping Puja-puji Astronotnya

Global
Bintang TikTok Mesir Ini Divonis Penjara 10 Tahun, Dituding Memperdagangkan Manusia

Bintang TikTok Mesir Ini Divonis Penjara 10 Tahun, Dituding Memperdagangkan Manusia

Global
Faksi Gaza Ancam Israel: Tunda Bantuan Bisa Nyalakan Lagi Pertempuran

Faksi Gaza Ancam Israel: Tunda Bantuan Bisa Nyalakan Lagi Pertempuran

Global
Rusia Jatuhkan Bom dan Tembakan Peringatan ke Kapal Perang Inggris

Rusia Jatuhkan Bom dan Tembakan Peringatan ke Kapal Perang Inggris

Global
Red Light District Amsterdam: Kawasan Prostitusi Legal Paling Berkelas

Red Light District Amsterdam: Kawasan Prostitusi Legal Paling Berkelas

Global
Serba-serbi Museum CPC: 'Rumah Spiritual' Partai Komunis China

Serba-serbi Museum CPC: "Rumah Spiritual" Partai Komunis China

Global
komentar
Close Ads X