Kompas.com - 07/05/2021, 21:08 WIB
Seorang pria menyaksikan dari layar televisi di stasiun kereta Suseo, Seoul, pada 26 Maret, berisi tayangan uji coba rudal balistik terbaru Korea Utara. AFP PHOTO/JUNG YEON-JESeorang pria menyaksikan dari layar televisi di stasiun kereta Suseo, Seoul, pada 26 Maret, berisi tayangan uji coba rudal balistik terbaru Korea Utara.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Korea Utara diyakini mau menyerahkan seluruh pasokan senjata nuklirnya, namun tidak dengan “harga” yang murah.

Hal itu diungkapkan oleh mantan Direktur CIA Asia Timur Joseph DeTrani sebagaimana dilansir Daily Star, Rabu (5/5/2021).

Dalam sebuah konferensi online, DeTrani meyakini bahwa Korea Utara sebenarnya mau untuk melucuti senjata nuklirnya.

Baca juga: AS, Korsel, dan Jepang Bertemu di Sela-sela Rapat G7 untuk Bicarakan Korea Utara

“Dengan asumsi mereka mendapatkan jaminan keamanan yang mereka inginkan dan tentu saja mereka butuhkan karena mereka khawatir tentang perubahan rezim, dan mereka menyadari bahwa senjata nuklir memang pencegah,” tutur DeTrani.

DeTrani, yang kini menjabat sebagai Presiden Intelijen dan Aliansi Keamanan Nasional, mengatakan Korea Utara menginginkan hubungan yang normal dengan AS.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Namun, mereka menginginkannya sesuai dengan persyaratan mereka,” ujar DeTrani.

Dia menyebutkan, Pemimpin Tertinggi Korea Utara Kim Jong Un ingin tahu apa yang akan ditawarkan Presiden AS Biden sebagai imbalan atas pelucutan senjata nuklirnya.

Baca juga: Tonton Drakor Diam-diam, 10.000 Murid Korea Utara Menyerahkan Diri

"Mereka perlu mendengar apa yang diminta dari mereka ketika kita berbicara tentang denuklirisasi yang komprehensif dan dapat diverifikasi, dan mereka perlu mendengar dari kita,” sambung ujar DeTrani.

“Tetapi, kita juga perlu mendengar dari mereka ketika mereka berbicara tentang jaminan keamanan, bantuan pembangunan ekonomi,” imbuh DeTrani.

DeTrani yakin perjanjian 2018 di Singapura yang ditandatangani oleh Kim dan mantan Presiden AS Donald Trump masih bisa menjadi dasar hubungan yang lebih bersahabat antara Washington dan Pyongyang.

"Saya pikir pernyataan bersama di Singapura adalah dokumen yang sangat, sangat efektif. Sangat ringkas tapi sangat efektif,” tambah DeTrani.

Baca juga: Disebut Joe Biden Ancaman Keamanan, Korea Utara Sangat Marah

Dia menambahkan, perjanjian tersebut berbicara mengenai transformasi hubungan AS-Korea Utara yang sebenarnya diinginkan oleh Pyongyang.

Seorang diplomat veteran AS, Christopher R Hill, menyetujui bahwa retorika Korea Utara yang suka berperang tidak semestinya ditelan mentah-mentah.

Hill pernah menjadi Duta Besar AS untuk Korea Selatan selama masa pemerintahan mantan Presiden AS George Bush.

Baca juga: Korea Utara Luncurkan Senjata Baru untuk Menargetkan Barat


Sumber Daily Star
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X