PM India Dikecam di Tengah Tsunami Covid-19, Dorong Anggaran Rp 25,8 Triliun untuk Bangun Parlemen dan Rumah Dinas

Kompas.com - 07/05/2021, 08:13 WIB
Narendra Modi, perdana menteri sekaligus pemimpin Bharatiya Janata (BJP) partai berkuasa di India saat ini. AFP/STRNarendra Modi, perdana menteri sekaligus pemimpin Bharatiya Janata (BJP) partai berkuasa di India saat ini.

NEW DELHI, KOMPAS.com - Perdana Menteri India Narendra Modi mendorong anggaran 1,8 miliar dollar AS (Rp 25,8 triliun) untuk renovasi gedung parlemen dan pengadaan rumah baru bagi pejabat negara, ketika bangsanya sedang berduka dilanda tsunami Covid-19.

Renovasi mahal pejabat negara itu dikenal sebagai Central Vista Redevelopment Project, yang dikategorikan sebagai "layanan esensial". Sehingga, kontruksi proyek pemerintah itu diizinkan tetap dilanjutkan bahkan ketika sebagian besar proyek pembangunan lainnya dihentikan.

Baca juga: Distribusi Bantuan Covid-19 di India Dicurigai Ditahan Pemerintah


Keputusan proyek di ibu kota untuk pejabat negara itu membuat geram publik dan politisi oposisi, karena menganggap pengeluaran tersebut tidak sesuai dengan kondisi India yang sedang dilanda krisis kesehatan Covid-19, seperti yang dilansir dari CNN pada Kamis (6/5/2021). 

Dua warga yang salah satunya positif Covid-19, mengajukan kasus itu ke Pengadilan Tinggi Delhi pada Rabu (5/5/2021), untuk mencoba menghentikan konstruksi proyek pemerintah yang terus berlanjut bahkan saat ibu kota diisolasi.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Covid-19 di Brasil Justru Lebih Mematikan daripada India, Ini Sebabnya...

Pengacara Nitin Saluja yang mengirimkan petisi khusus penolakan proyek pemerintah, berpendapat bahwa pembangunan gedung parlemen bukan merupakan layanan penting, dan pekerjaan konstruksi bahkan bisa menjadi acara penyebaran super Covid-19.

Ada banyak pekerja yang terus diangkut dari kamp mereka secara paksa menuju lokasi konstruksi proyek pemerintah tersebut, menurut dokumen yang disertai.

Baca juga: [POPULER GLOBAL] 8 Singa Asia di India Positif Covid-19 | Mayra Zulfiqar Dibunuh Pria yang Lamarannya Ditolak

Pengadilan Tinggi India menawarkan untuk diadakan acara dengar pendapat terkait kasus tersebut pada akhir Mei, tapi para pemohon telah membawa ke Mahkamah Agung, dengan alasan pengadilan yang lebih rendah telah "gagal untuk menilai bobot" masalah tersebut.

"Karena ada masalah darurat kesehatan masyarakat, penundaan apa pun bisa merugikan kepentingan publik yang lebih bersa," tulis Saluja kepada Mahkamah Agung.

Baca juga: Akibat Meremehkan, Covid-19 di India Meluas hingga Pedesaan Terpencil

Saluja mengatakan sidang kasus proyek pemerintah ini kemungkinan besar akan disidangkan pada Jumat (7/5/2021).

India melaporkan lebih dari 3.000 kematian karena Covid-19 pada beberapa hari terakhir.

Negara itu menyumbang seperempat dari kematian akibat Covid-19 di dunia selama sepekan terakhir, menurut laporan mingguan Covid-19 Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Baca juga: Tsunami Covid-19 India Belum Usai, Ahli Peringatkan Gelombang Ketiga


Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wabah Covid-19 Menunjukkan Percepatan Infeksi di Brasil, Satu Hari 115.228 Kasus Baru

Wabah Covid-19 Menunjukkan Percepatan Infeksi di Brasil, Satu Hari 115.228 Kasus Baru

Global
Ilmuwan: China Tutupi Pasien Nol dengan Hapus Data Covid-19

Ilmuwan: China Tutupi Pasien Nol dengan Hapus Data Covid-19

Global
Tokoh Oposisi AS Sebut Kartel Narkoba dan Taliban 'Menang' Saat Biden Menjabat

Tokoh Oposisi AS Sebut Kartel Narkoba dan Taliban "Menang" Saat Biden Menjabat

Global
Covid-19 Varian Delta Bisa Sebabkan 90 Persen Kasus di Eropa

Covid-19 Varian Delta Bisa Sebabkan 90 Persen Kasus di Eropa

Global
Korea Utara Enggan Berkontak dengan AS, Dianggap Buang-buang Waktu

Korea Utara Enggan Berkontak dengan AS, Dianggap Buang-buang Waktu

Global
Sepak Terjang John McAfee, Raja Antivirus Penuh Kontroversi yang Tewas Mengenaskan

Sepak Terjang John McAfee, Raja Antivirus Penuh Kontroversi yang Tewas Mengenaskan

Global
Baru Dibentuk, Milisi Anti-junta Bentrok dengan Tentara Myanmar

Baru Dibentuk, Milisi Anti-junta Bentrok dengan Tentara Myanmar

Global
Pendiri Antivirus McAfee Tewas Bunuh Diri di Penjara

Pendiri Antivirus McAfee Tewas Bunuh Diri di Penjara

Global
Perempuan Berdaya: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Bernilai 1.000 Prajurit

Perempuan Berdaya: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Bernilai 1.000 Prajurit

Internasional
Iran Gagal Luncurkan Satelit ke Ruang Angkasa

Iran Gagal Luncurkan Satelit ke Ruang Angkasa

Global
POPULER GLOBAL: India Laporkan Varian Covid-19 Delta Plus | China Murka Kapal Perusak AS Berlayar di Selat Taiwan

POPULER GLOBAL: India Laporkan Varian Covid-19 Delta Plus | China Murka Kapal Perusak AS Berlayar di Selat Taiwan

Global
Iran Klaim Gagalkan “Serangan Sabotase” pada Fasilitas Nuklirnya

Iran Klaim Gagalkan “Serangan Sabotase” pada Fasilitas Nuklirnya

Global
Ngobrol Langsung dengan Awak China di Luar Angkasa, Xi Jinping Puja-puji Astronotnya

Ngobrol Langsung dengan Awak China di Luar Angkasa, Xi Jinping Puja-puji Astronotnya

Global
Bintang TikTok Mesir Ini Divonis Penjara 10 Tahun, Dituding Memperdagangkan Manusia

Bintang TikTok Mesir Ini Divonis Penjara 10 Tahun, Dituding Memperdagangkan Manusia

Global
Faksi Gaza Ancam Israel: Tunda Bantuan Bisa Nyalakan Lagi Pertempuran

Faksi Gaza Ancam Israel: Tunda Bantuan Bisa Nyalakan Lagi Pertempuran

Global
komentar
Close Ads X