Pemerintah Vietnam Hukum Penjara Ibu dan Anak gara-gara Sebar Berita Sengketa Tanah yang Telan Korban

Kompas.com - 06/05/2021, 05:39 WIB
Ilustrasi penjara Kompas.comIlustrasi penjara

HANOI, KOMPAS.com - Seorang ibu dan anak dijatuhi hukuman penjara 8 tahun oleh pengadilan Vietnam pada Rabu (5/5/2021) karena menyebarkan berita online tentang sengketa tanah yang menewaskan 4 orang.

Pemerintah Vietnam yang otoriter biasanya bergerak cepat untuk memberangus kritik dan pembangkang yang mengunggah pendapat mereka di media sosial sebagai bentuk kebebasan berekspresi, seperti yang dilansir dari AFP pada Rabu (5/5/2021).

Baca juga: Sosok di Balik Kesuksesan Vietnam Tangani Wabah Covid-19 Dilantik Jadi Presiden

Can Thi Theu, dan putranya diyakini menjadi orang pertama yang menyebarkan berita di media sosial tentang bentrokan antara polisi dan penduduk setempat di sebuah desa di pinggiran Hanoi, pada Januari 2020, di mana tiga polisi dan seorang penduduk tewas.

Penduduk desa di sana telah menolak upaya militer untuk membangun bandara di tanah mereka.

Pada persidangan di suatu hari di provinsi Hoa Binh utara, Theu dan putranya yang berusia 32 tahun, Trinh Ba Tu, dihukum penjara selama 8 tahun, karena "menyebarkan informasi melawan negara komunis," kata .

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Video Viral Autopilot Tesla Menyerah Hadapi Macet di Vietnam

"Kedua terdakwa kuat pada persidangan hari ini dan meskipun mereka mengakui tindakan yang mereka lakukan, mereka tidak berpikir apa yang mereka lakukan itu salah," kata Dinh Manh dan menambahkan bahwa kedua terdakwa akan mengajukan banding.

Putra tertua Theu, Trinh Ba Phuong, dan kerabat lainnya, yang ditangkap pada Juni 2020 bersama dengan anggota keluarga lainnya, akan diadili di lain hari.

Sengketa tanah adalah hal biasa di Vietnam, di mana individu dan perusahaan yang berkuasa sering membuat klaim atas properti.

Baca juga: Di Vietnam, Karaoke Keras-keras Menjadi Wabah, Bisa Didenda Rp 100 Juta

"Keyakinan ini adalah parodi keadilan," kata Emerlynne Gil, wakil direktur regional untuk penelitian Amnesty International.

"Mereka jelas dihukum sebagai pembalasan atas aktivisme damai mereka untuk mengungkap ketidakadilan dan pelanggaran hak asasi manusia," ungkap Gil.

Pemerintah Vietnam, yang dipimpin oleh Perdana Menteri Pham Minh Chinh, mantan wakil kepala Kementerian Keamanan Publik, secara ketat mengontrol kebebasan berekspresi dan hak untuk memprotes.

Baca juga: Thailand dan Vietnam Bersiap Evakuasi Warga Negaranya dari Myanmar

Seorang mantan reporter surat kabar yang dikelola pemerintah Vietnam, dipenjara selama 8 tahun atas tuduhan yang sama pada persidangan pada April di provinsi tenggara Phu Yen.

Tran Thi Tuyet Dieu dinyatakan bersalah karena mengunggah cerita dan video di Facebook dan YouTube tentang topik-topik, seperti korupsi, pencemaran lingkungan, dan hak asasi manusia.

Menurut Reporters Without Borders, Vietnam berada di peringkat 175 dari 180 negara dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2021.

Baca juga: Aktivis Tuntut Keadilan Warga Lokal yang Terpapar Agen Oranye Semasa Perang Vietnam


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ilmuwan: China Tutupi Pasien Nol dengan Hapus Data Covid-19

Ilmuwan: China Tutupi Pasien Nol dengan Hapus Data Covid-19

Global
Tokoh Oposisi AS Sebut Kartel Narkoba dan Taliban 'Menang' Saat Biden Menjabat

Tokoh Oposisi AS Sebut Kartel Narkoba dan Taliban "Menang" Saat Biden Menjabat

Global
Covid-19 Varian Delta Bisa Sebabkan 90 Persen Kasus di Eropa

Covid-19 Varian Delta Bisa Sebabkan 90 Persen Kasus di Eropa

Global
Korea Utara Enggan Berkontak dengan AS, Dianggap Buang-buang Waktu

Korea Utara Enggan Berkontak dengan AS, Dianggap Buang-buang Waktu

Global
Sepak Terjang John McAfee, Raja Antivirus Penuh Kontroversi yang Tewas Mengenaskan

Sepak Terjang John McAfee, Raja Antivirus Penuh Kontroversi yang Tewas Mengenaskan

Global
Baru Dibentuk, Milisi Anti-junta Bentrok dengan Tentara Myanmar

Baru Dibentuk, Milisi Anti-junta Bentrok dengan Tentara Myanmar

Global
Pendiri Antivirus McAfee Tewas Bunuh Diri di Penjara

Pendiri Antivirus McAfee Tewas Bunuh Diri di Penjara

Global
Perempuan Berdaya: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Bernilai 1.000 Prajurit

Perempuan Berdaya: Tomoe Gozen, Samurai Wanita Bernilai 1.000 Prajurit

Internasional
Iran Gagal Luncurkan Satelit ke Ruang Angkasa

Iran Gagal Luncurkan Satelit ke Ruang Angkasa

Global
POPULER GLOBAL: India Laporkan Varian Covid-19 Delta Plus | China Murka Kapal Perusak AS Berlayar di Selat Taiwan

POPULER GLOBAL: India Laporkan Varian Covid-19 Delta Plus | China Murka Kapal Perusak AS Berlayar di Selat Taiwan

Global
Iran Klaim Gagalkan “Serangan Sabotase” pada Fasilitas Nuklirnya

Iran Klaim Gagalkan “Serangan Sabotase” pada Fasilitas Nuklirnya

Global
Ngobrol Langsung dengan Awak China di Luar Angkasa, Xi Jinping Puja-puji Astronotnya

Ngobrol Langsung dengan Awak China di Luar Angkasa, Xi Jinping Puja-puji Astronotnya

Global
Bintang TikTok Mesir Ini Divonis Penjara 10 Tahun, Dituding Memperdagangkan Manusia

Bintang TikTok Mesir Ini Divonis Penjara 10 Tahun, Dituding Memperdagangkan Manusia

Global
Faksi Gaza Ancam Israel: Tunda Bantuan Bisa Nyalakan Lagi Pertempuran

Faksi Gaza Ancam Israel: Tunda Bantuan Bisa Nyalakan Lagi Pertempuran

Global
Rusia Jatuhkan Bom dan Tembakan Peringatan ke Kapal Perang Inggris

Rusia Jatuhkan Bom dan Tembakan Peringatan ke Kapal Perang Inggris

Global
komentar
Close Ads X