Kompas.com - 30/04/2021, 15:28 WIB
Pengunjuk rasa anti-kudeta mengangkat tangan mereka dengan tangan terkepal selama demonstrasi di dekat Stasiun Kereta Api Mandalay di Mandalay, Myanmar, Senin (22/2/2021). APPengunjuk rasa anti-kudeta mengangkat tangan mereka dengan tangan terkepal selama demonstrasi di dekat Stasiun Kereta Api Mandalay di Mandalay, Myanmar, Senin (22/2/2021).

NAYPYIDAW, KOMPAS.com – 1 Mei mendatang, tepatnya pada Sabtu, kudeta militer Myanmar akan berusia tiga bulan.

Sejak militer menangkap pemimpin sipil Aung San suu Kyi dan mengambil alih kekuasaan pada 1 Februari kala fajar, 54 juta rakyat Myanmar jatuh ke dalam ketidakpastian, keputusasaan, penindasan, pertumpahan darah, dan kekacauan.

Militer melegitimasi pengambilalihan kekuasaannya dengan tuduhan kecurangan dalam pemilu 2020 yang dimenangi oleh Partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) yang dipimpin Suu Kyi.

Baca juga: Militer Myanmar Klaim Dua Pangkalan Angkatan Udara Ditembak Roket

Rakyat marah dengan kudeta militer. Jutaan orang turun ke jalan di seluruh negeri untuk menuntut militer menghormati hasil pemilu.

Para demonstran dengan suara bulat menolak junta militer dan menyerukan pemulihan demokrasi mereka yang dicuri sebagaimana dilansir The Irrawaddy, Jumat (30/4/2021).

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka membaptis gerakan perlawanan mereka sebagai "Revolusi Musim Semi" yang terjadi pada Februari, ketika cuaca mulai menghangat di Myanmar. "

Rakyat Myanmar juga menggelorakan gerakan pembangkangan sipil (CDM) yang dikampanyekan melalui berbagai macam platform untuk menolak kudeta militer.

Aksi yang dilakukan massa kali ini menyaksikan persatuan di antara rakyat Myanmar yang terakhir kali dialami negara itu 33 tahun yang lalu saat aksi 8888 pada 8 Agustus 1988.

Baca juga: Kelompok Etnis Bersenjata Myanmar Rebut Pangkalan Militer di Dekat Perbatasan Thailand

Sejak pekan pertama Februari, jalan-jalan di kota-kota besar di Myanmar bergema dengan slogan-slogan anti-junta militer.

Pada saat yang sama, dokter di rumah sakit pemerintah berhenti bekerja, teller bank tetap tinggal di rumah, dan kereta api berhenti beroperasi karena sebagian besar pegawainya menolak bekerja di bawah rezim.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X