Kompas.com - 29/04/2021, 05:46 WIB
Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov. AFP/FABRICE COFFRINIMenteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov.

MOSKWA, KOMPAS.com – Rusia disebut mengusulkan pemulihan hubungan dengan Amerika Serikat (AS) sesegera mungkin setelah Joe Biden dilantik menjadi presiden AS.

Namun, usulan tersebut ditolak oleh Washington. Klaim tersebut diutarakan oleh Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov kepada jurnalis asal Rusia Dmitry Kiselyov pada Selasa (27/4/2021).

Lavrov menjelaskan bahwa Rusia sebenarnya ingin menjalin hubungan yang sehat dengan AS setelah hubungan antara kedua negara sempat menengang sebagaimana dilansir Russian Today.

Baca juga: Cegah Insiden KRI Nanggala-402 Berulang, Rusia Tawarkan Bantuan

Menurut Lavrov, krisis antara Moskwa dan Washington dimulai ketika mantan Presiden AS Barack Obama mengambil tindakan terhadap Rusia sebelum meninggalkan jabatannya.

Setelah Donald Trump menjadi presiden, Lavrov menyatakan, Moskwa masih bersabar dan menunggu AS memperbaiki hubungan dengan Rusia.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, Lavrov menuturkan penantian tersebut tidak pernah terbalaskan.

“Saya sangat berharap Washington, seperti yang kami lakukan, mengakui tanggung jawab mereka atas stabilitas dunia,” lanjut Lavrov.

Baca juga: Dubes Rusia: Sputnik V Masih Proses di BPOM, Berharap Segera Masuk Program Vaksinasi Gotong Royong

"Tidak hanya masalah antara Rusia dan AS yang memperumit kehidupan warga kami, tetapi juga ketidaksepakatan yang menempatkan keamanan internasional pada risiko serius, dalam arti kata yang paling luas,” imbuh Lavrov.

Dalam beberapa pekan terakhir, hubungan antara Kremlin dan Gedung Putih menjadi semakin tegang.

Pada 15 April, Biden menandatangani perintah eksekutif yang memberlakukan sanksi lebih lanjut terhadap Rusia.

Sanksi tersebut menargetkan lebih dari 30 individu dan organisasi asar “Negeri Beruang Putih”.

Baca juga: Regulator Brasil Tolak Impor 30 Juta Dosis Vaksin Sputnik, Rusia Protes

Sanksi itu dijatuhkan sebagai hukuman atas dugaan campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden AS serta kasus serangan siber yang menargetkan sejumlah lembaga AS.

Washington menuduh Moskwa ada di balik serangan siber yang sempat menggegerkan “Negeri Paman Sam” tersebut.

Lebih lanjut, Biden juga mengusir 10 staf diplomatik Rusia karena menuduh mereka terlibat aktivitas mata-mata.

Moskwa lantas membalas pengusiran tersebut dengan mengusir 10 diplomat AS angkat kaki dari Rusia.

Baca juga: Rusia Juga Usir Diplomat Italia sebagai Aksi Balas Dendam


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X