Kasus Penipuan Jual-Beli Obat Muncul di Tengah Lonjakan Covid-19 di India

Kompas.com - 27/04/2021, 14:12 WIB
Seorang pasien dengan gangguan pernapasan berbaring di dalam mobil sambil menunggu untuk masuk rumah sakit Covid-19 untuk perawatan, di tengah penyebaran penyakit virus corona (Covid-19), di Ahmedabad, India, Kamis (22/4/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/AMIT DAVESeorang pasien dengan gangguan pernapasan berbaring di dalam mobil sambil menunggu untuk masuk rumah sakit Covid-19 untuk perawatan, di tengah penyebaran penyakit virus corona (Covid-19), di Ahmedabad, India, Kamis (22/4/2021).

NEW DELHI, KOMPAS.com - Muncul kasus penipuan jual-beli obat di pasar gelap, saat Covid-19 di India semakin menginfeksi parah di seluruh negeri.

Pada Senin (26/4/2021), kasus harian Covid-19 di India mencapai 352.991, menandai kasus tertinggi dalam lima hari berturut-turut, seperti yang dilansir dari BBC pada Selasa (27/4/2021).

Di tengah kasus Covid-19 di India melonjak tinggi, sejumlah barang kebutuhan medis banyak dicari, tapi menjadi sangat sulit atau mahal di dapat, di antaranya adalah tabung oksigen dan obat remdesivir.

Baca juga: Pria Bunuh Diri dan Istri Dipenggal, Potret Tsunami Covid-19 di India

Obat remdesivir ini pada awalnya dikembangkan untuk mengobati Ebola, tapi kini digunakana juga untuk merawat pasien Covid-19, meski manfaatnya masih diperdebatkan di seluruh dunia.

Banyak masyarakat India mencari sendiri kebutuhan tabung oksigen dan obat remdesivir untuk merawat kerabatnya yang terinfeksi Covid-19 di rumah, karena rumah sakit sudah kewalahan menampung dan kehabisan stok kebutuhan medis.

Saat itulah, masyarakat India banyak yang terjebak di pasar gelap dan menjadi korban kasus penipuan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Menurut laporan BBC, muncul remdesivir palsu di pasar gelap.

BBC menemukan obat remdesivir yang terlihat palsi dan dengan nama perusahaan produksi yang tidak terdaftar memiliki izin memproduksi di India.

Ketika BBC menanyai seorang pengedarnya, dia hanya meyakinkan bahwa obatnya itu "100 persen asli".

Baca juga: Kebutuhan Medis Terbatas Saat Kasus Covid-19 India Makin Tinggi, Masyarakat Beralih ke Pasar Gelap

Kemasan obat tersebut juga penuh dengan kesalahan ejaan. Nama perusahaannya juga tidak ditemukan di internet.

Namun, sang pengedar hanya mengangkaat bahu, mengelak menjawab dan menantang untuk mengeceknya di laboratorium.

Lantaran terjepit kebutuhan, sehingga orang-orang bersedia membeli bahkan obat-obatan yang meragukan.

Beberapa orang telah ditipu juga dalam transaksi jual-beli obat Covid-19. 

Dalam krisis kesehatan, orang-orang di India terus berbagi nomor telepon pemasok yang dapat memberikan kebutuhan medis apa saja, mulai dari tabung oksigen hingga obat-obatan. Namun, tidak semua nomor itu diverifikasi benar.

Seorang pekerja IT, yang tidak mau disebutkan namanya, mengatakan bahwa dia sangat butuh membeli tabung oksigen dan remdesivir. Kemudian, ia mendapatkan petunjuk dari Twitter.

Baca juga: Bantuan Inggris untuk Covid-19 India Sudah Datang, Ada 100 Ventilator

Ketika dia menghubungi orang tersebut, dia diberitahu untuk menyetor uang 10.000 rupee (Rp 1,9 juta) sebagai pembayaran di muka.

"Saat saya mengirim uang, orang tersebut memblokir nomor saya," ungkapnya. 

Keputusasaan mendorong orang untuk mempercayai apa pun pada saat dibutuhkan dan itu memicu munculnya kasus penipuan di pasar gelap.

Beberapa pemerintah negara bagian telah berjanji untuk menindak pasar gelap remdesivir dan beberapa penangkapan juga telah dilakukan.

Namun, pasar gelap sepertinya tetap beroperasi, melanggengkan usahanya.

Anuj Tiwari yang membantu perawatan saudara laki-lakinya yang terinfeksi Covid-19.

Baca juga: 117 Kematian Korban Covid-19 Per Jam, India Tebang Pohon-pohon di Taman Kota untuk Kremasi

Tiwari menyewa seorang perawat untuk membantu perawatan saudara laki-lakinya di rumah, setelah dia ditolak masuk ke banyak rumah sakit.

Kondisi saudara laki-lakinya terus menjadi kritis dan dokter yang merawat mengatakan dia mungkin segera membutuhkan remdesivir.

Namun, ia tidak dapat menemukan obat itu di toko obat mana pun, dan akhirnya ia beralih ke pasar gelap.

Harga obat remdesivir (100 mg) normalnya dijual sekitar 12-53 dollar AS (sekitar Rp 173.854 - Rp 768.028), tapi di pasar gelap dibandrol dengan harga sekitar 330-1.000 dollar AS (sekitar Rp 4,8 juta - Rp 14,5 juta).

Tiwari mengatakan orang-orang seperti dia tidak punya pilihan, selain membayar lebih mahal di pasar gelap, di tengah Covid-19 di India.

"Sepertinya Anda tidak bisa dirawat di rumah sakit, dan sekarang Anda tidak bisa menyelamatkan orang yang Anda cintai bahkan di rumah."

Baca juga: Calon Suami Positif Covid-19, Pengantin India Ini Menikah Pakai APD

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.


Video Pilihan

Sumber BBC
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Video Pilihan

komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.