India Lengah, Tidak Gencar Vaksinasi Saat Kasus Covid-19 Turun

Kompas.com - 24/04/2021, 17:38 WIB
Beberapa tumpukan kayu pemakaman pasien yang meninggal karena penyakit COVID-19 terlihat terbakar di tanah yang telah diubah menjadi krematorium kremasi massal korban virus corona, di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021). APBeberapa tumpukan kayu pemakaman pasien yang meninggal karena penyakit COVID-19 terlihat terbakar di tanah yang telah diubah menjadi krematorium kremasi massal korban virus corona, di New Delhi, India, Rabu (21/4/2021).

NEW DELHI, KOMPAS.com - Infeksi Covid-19 di India dikhawatirkan bisa naik menjadi 500.000 per hari bahkan sebelum mencapai puncak gelombang kedua.

Sebanyak 2.263 kematian dan 332.730 kasus baru Covid-19 lainnya dilaporkan di India kemarin. Tapi pengujian Covid-19 yang dilakukan secara terbatas meragukan total tersebut sesuai dengan fakta di lapangan.

Baca juga: Bersenjatakan Obor, Warga di India Ramai-ramai Usir Covid-19

Saat ini India mencatat satu dari tiga kasus Covid-19 di seluruh dunia.

Padahal Perdana Menteri India Narendra Modi mengatakan pada Februari bahwa negara itu 'menginspirasi dunia' dengan perang Covid-nya. Mereka mengumumkan kemenangan ketika ada sekitar 11.000 kasus sehari.

Lonjakan tersebut dipicu oleh varian “mutan ganda”, yang dianggap lebih menular. Tetapi Namun, ahli virologi terkemuka India, Shahid Jameel mengatakan “terlalu banyak” mutasi telah tercipta.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Dia mengklaim tingkat infeksi spiral dipengaruhi oleh kurangnya pesan bagi orang untuk mengambil vaksinasi pada Januari dan Februari ketika jumlah kasus turun.

"Jadi, jika ada pelajaran yang harus dipelajari di sini, Anda harus berjaga-jaga. Anda harus bersiap.”

“Kami seharusnya menyampaikan pesan dengan jelas kepada orang-orang untuk mengambil vaksin pada bulan Januari dan Februari ketika kasusnya menurun.”

“Jika itu (vaksinasi) terjadi dalam skala besar pada waktu itu, maka kita tidak akan menghadapi situasi ini hari ini.”

“Banyak hal yang tidak beres, tetapi alih-alih ‘menangisi susu yang tumpah’, saya pikir penting untuk mempelajari beberapa pelajaran, mendapatkan beberapa data yang baik, dan merencanakan masa depan karena ini bukanlah akhir dari semuanya.

Orang-orang menunggu untuk menerima vaksin COVID-19 di luar pusat vaksinasi Di Mumbai, India, Sabtu, 24 April 2021. Rajanish Kakade Orang-orang menunggu untuk menerima vaksin COVID-19 di luar pusat vaksinasi Di Mumbai, India, Sabtu, 24 April 2021.

Baca juga: Covid-19 di India Kembali Catatkan Rekor Korban Meninggal Harian

Bisa capai 500.000 kasus

Total infeksi menandai penghitungan satu hari tertinggi di antara negara mana pun sejak dimulainya pandemi. Sementara bagi India itu adalah jumlah terbanyak kedua kalinya dalam beberapa hari.

Namun, ahli virologi terkemuka Shahid Jameel memperingatkan bahwa India masih belum mencapai puncak gelombang kedua. Penelitian menunjukkan infeksi mungkin akan mencapai 500.000 kasus per hari pada minggu pertama Mei.

“Orang-orang yang melakukan studi kasus memperkirakan India akan mencapai puncaknya menjelang akhir minggu pertama Mei, dan kami mungkin naik hingga sekitar 500.000 kasus per hari, mungkin lebih,” katanya kepada Radio 4.

Tingkat kematian India saat ini per 100.000 kasus adalah 1,14 persen. Artinya jika negara tersebut mencapai puncak yang diantisipasi itu, ada potensi 5.700 kematian per hari.

Rumah sakit di seluruh India tertekan dalam gelombang kedua yang ganas. Beberapa kehabisan oksigen dan menolak pasien karena terlalu penuh.

Dr Jameel, yang juga menjabat sebagai Direktur Trivedi School of Biosciences di Ashoka University, mengatakan negara berpenduduk sekitar 1,4 miliar orang itu perlu menahan lonjakan dengan “merawat sebanyak mungkin orang di rumah.”

Dia menambahkan, pemerintah perlu melakukan segala cara yang mungkin untuk mempercepat pasokan oksigen dan obat-obatan bagi mereka yang membutuhkan.

Dia mengungkapkan keadaan sekarang menyedihkan, dengan keluarga mati-matian mencari persediaan medis.

Baca juga: Kasus Covid-19 di India Terus Melejit, Kampanye Politik Justru Digelar Tanpa Protokol Kesehatan

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ABC News (@abcnews)

 

Daily Mail pada Sabtu (24/4/2021) melaporkan, orang-orang telah mengemis oksigen atau bantuan medis di media sosial, dan kerumunan orang berkumpul di luar rumah sakit, dengan beberapa meninggal di tandu saat mereka menunggu.

Pada Rabu (21/4/2021), sebanyak 22 pasien meninggal di sebuah rumah sakit di Maharashtra, ketika pasokan oksigen mereka habis setelah tangki bocor. Kemarin 13 pasien Covid-19 lainnya meninggal ketika kebakaran terjadi di rumah sakit Mumbai.

"Keluarga saya telah melalui pengalaman yang mengerikan dalam seminggu terakhir, kami memiliki sepupu di rumah sakit yang meninggal dua hari yang lalu dan setiap 24 jam ada ancaman pemutusan oksigen," kata Dr Jameel.

“Pada akhirnya dia tidak berhasil (diselamatkan), tetapi penyiksaan mental terhadap kerabat yang mencari oksigen tidak tertahankan. Sayangnya situasinya sangat buruk, kami lengah dan itulah mengapa kami berada dalam situasi ini.”

Baca tentang

Sumber Daily Mail
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Anggota Tim Sepak Bola Nasional Myanmar Tak Mau Pulang, Cari Suaka di Jepang

Anggota Tim Sepak Bola Nasional Myanmar Tak Mau Pulang, Cari Suaka di Jepang

Global
Kisah Misteri: 5 Fakta Mengerikan Perang Waterloo yang Akhiri Kekuasaan Napoleon Bonaparte

Kisah Misteri: 5 Fakta Mengerikan Perang Waterloo yang Akhiri Kekuasaan Napoleon Bonaparte

Internasional
Kenapa Pemain Italia Suka Teriak Saat Nyanyi Lagu Kebangsaan? Ini Sejarahnya...

Kenapa Pemain Italia Suka Teriak Saat Nyanyi Lagu Kebangsaan? Ini Sejarahnya...

Global
1000 Lebih Pengungsi Rohingya di Bangladesh Terserang Wabah Diare, 4 Orang Tewas

1000 Lebih Pengungsi Rohingya di Bangladesh Terserang Wabah Diare, 4 Orang Tewas

Global
Remaja Palestina Tewas Ditembak oleh Militer Israel dalam Bentrokan di Tepi Barat

Remaja Palestina Tewas Ditembak oleh Militer Israel dalam Bentrokan di Tepi Barat

Global
'Batu Permata' Misterius Ditemukan di Afrika Selatan, 1.000 Lebih Orang Berburu Harta

"Batu Permata" Misterius Ditemukan di Afrika Selatan, 1.000 Lebih Orang Berburu Harta

Global
Pakar: Biden dan Putin Tidak Akan Berteman meski Pertemuan 'Sangat Konstruktif'

Pakar: Biden dan Putin Tidak Akan Berteman meski Pertemuan "Sangat Konstruktif"

Global
AS Vs China, dari Pandemi Covid-19 ke Ideologi

AS Vs China, dari Pandemi Covid-19 ke Ideologi

Global
Sopir Truk Tewas Ditikam akibat Melerai Perkelahian Istri Tetangga

Sopir Truk Tewas Ditikam akibat Melerai Perkelahian Istri Tetangga

Global
Merasa Tidak Bahagia dan Ingin Dipenjara, Seorang Pria Bunuh Orang Lain

Merasa Tidak Bahagia dan Ingin Dipenjara, Seorang Pria Bunuh Orang Lain

Global
China Mengaku Ada Kerusakan di Pembangkit Nuklir Taishan

China Mengaku Ada Kerusakan di Pembangkit Nuklir Taishan

Global
Einstein Prediksi Bagaimana Israel Bakal Jatuh, Begini Ramalannya...

Einstein Prediksi Bagaimana Israel Bakal Jatuh, Begini Ramalannya...

Global
Kebakaran di Sebuah Desa di Myanmar, 200-an Rumah Jadi Abu

Kebakaran di Sebuah Desa di Myanmar, 200-an Rumah Jadi Abu

Global
Lebih Memihak Amerika, Ini Perbedaan antara Biden dan Trump Setelah Bertemu Putin

Lebih Memihak Amerika, Ini Perbedaan antara Biden dan Trump Setelah Bertemu Putin

Global
Pengacara Perawat Maradona: Dokter yang Membunuh Sang Legenda

Pengacara Perawat Maradona: Dokter yang Membunuh Sang Legenda

Global
komentar
Close Ads X