KTT ASEAN di Jakarta, Saatnya Berkomuni-aksi dengan Myanmar

Kompas.com - 23/04/2021, 09:35 WIB
Presiden Joko Widodo (kanan) menyampaikan pandangannya dalam KTT ASEAN ke-36 yang digelar secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (26/6/2020). Dalam KTT dengan tuan rumah Vietnam tersebut, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya untuk memperkuat kerja sama antar negara anggota ASEAN dalam pemulihan ekonomi dampak pandemi COVID-19 serta mengusulkan perlunya pengaturan ASEAN Travel Corridor. ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWANPresiden Joko Widodo (kanan) menyampaikan pandangannya dalam KTT ASEAN ke-36 yang digelar secara virtual di Istana Bogor, Jawa Barat, Jumat (26/6/2020). Dalam KTT dengan tuan rumah Vietnam tersebut, Presiden Joko Widodo menekankan pentingnya untuk memperkuat kerja sama antar negara anggota ASEAN dalam pemulihan ekonomi dampak pandemi COVID-19 serta mengusulkan perlunya pengaturan ASEAN Travel Corridor.

Oleh: Roswita Oktavianti

"Minggu, 11 Mei 2014. Jam menunjukkan pukul 08.00, masih terlalu pagi untuk ukuran hari Minggu. Namun hari itu, saya dan teman-teman wartawan, sudah memadati Jade Hall Gedung Myanmar International Convention Centre, di Nay Pyi Taw, Myanmar. Di sinilah lokasi Konferensi Tingkat Tinggi Perhimpunan Negara-Negara Asia Tenggara (KTT ASEAN) ke-24.

Yang menarik, ini kali pertama Myanmar dipercaya menjadi tuan rumah KTT ASEAN sejak bergabung dalam perhimpunan ini, tahun 1997. Presiden Republik Uni Myanmar otomatis menjadi Ketua Bersama ASEAN 2014. Beberapa bulan sebelumnya atau akhir 2013, Myanmar juga baru saja menjadi penyelenggara SEA Games ke-27, dan Word Economic Forum on East Asia. Myanmar mulai terbuka pada dunia luar, sebaliknya dunia internasional juga sudah mulai membuka diri dengan kehadiran Myanmar."

ITULAH sepenggal pengalaman yang saya tulis hampir tujuh tahun lalu, kala mendapat kesempatan menjadi peliput KTT ASEAN ke-24 di Nay Pyi Taw, Myanmar.

Siapa pun yang hadir saat itu merasakan betapa "ramahnya" negara ini dengan dunia internasional. Internet di ruang media yang berada di lantai satu gedung tersebut, berjalan dengan lancar.

Koneksi internet menjadi salah satu isu yang tentu saja membuat pewarta berdebar-debar. Dari seluruh negara anggota ASEAN, Myanmar bisa dibilang paling tertutup.

Negara tersebut dikuasai sepenuhnya oleh otoritas militer dari kepala negara hingga parlemen. Perilaku masyarakat dibatasi dari mulai penggunaan ponsel, internet, dan media massa.

Sebuah iklan tentang Myanmar di majalah maskapai yang saya baca saat penerbangan, menggambarkan Myanmar dengan, "Daratan yang indah dan misterius, lima puluh tahun lebih tidak terkoneksi internet dan tidak terakses dunia luar."

Sebelum demonstrasi dan tindakan kekerasan yang terjadi awal tahun 2021 ini, demonstrasi besar mendorong demokrasi pernah terjadi di Negeri Seribu Pagoda tersebut tahun 1988, namun tidak digubris.

Dari sisi perekonomian, Myanmar juga dikenal tertutup. Negara ini mendapat sanksi embargo, diisolasi, ditekan dunia barat bahkan pernah dijauhi negara anggota ASEAN lainnya. Ini yang kemudian membuat Myanmar lamban berkembang.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X