Petani Kecil Lebanon Ramai-ramai Beralih Tanam Ganja di Tengah Krisis Ekonomi

Kompas.com - 22/04/2021, 22:58 WIB
Wanita menyaring ganja kering untuk menyiapkan ganja di Lembah Bekaa Lebanon timur, pada 6 Maret 2021. Ketika nilai mata uang Lebanon jatuh di pasar gelap, harga bahan bakar impor, benih, pupuk, dan pestisida yang dihargai dalam dolar meroket. (Via AFP) Via AFPWanita menyaring ganja kering untuk menyiapkan ganja di Lembah Bekaa Lebanon timur, pada 6 Maret 2021. Ketika nilai mata uang Lebanon jatuh di pasar gelap, harga bahan bakar impor, benih, pupuk, dan pestisida yang dihargai dalam dolar meroket. (Via AFP)

BEIRUT, KOMPAS.com - Lebanon sedang dalam pergolakan krisis ekonomi yang meningkat yang diperparah oleh pandemi virus corona.

Ketika nilai mata uang lokal jatuh di pasar gelap, harga bahan bakar impor, benih, pupuk dan pestisida dalam dolar meroket.

Semakin banyak petani kecil, yang sudah dalam kesulitan sebelum krisis, memutuskan untuk menanam ganja sebagai gantinya, seperti yang dilansir dari AFP pada Selasa (20/4/2021).

Baca juga: Kebun Ganja Terbesar Segera Dibuka di Australia, Bermodal Rp 4,5 Triliun

Abbu Ali, yang meminta untuk menggunakan nama samaran karena masalah keamanan, selama 3 dekade menanam kentang untuk menafkahi keluarganya, tetapi krisis ekonomi Lebanon memaksanya untuk beralih menanam ganja.

"Ini bukan karena cinta ganja," kata pria berusia 57 tahun itu kepada AFP di wilayah Baalbek timur, jantung industri ganja yang terlarang di Lebanon.

"Itu (ganja) hanya lebih murah (biaya produksi) dari pada tanaman lain...dengan memungkinkan Anda untuk hidup dengan bermartabat," lanjutnya.

"Dengan pertanian, kami selalu merugi," kata Abu Ali.

Baca juga: Dulu Dijuluki Ratu Ganja, Schapelle Corby Jadi Bintang TV Australia

Setelah beberapa dekade diabaikan oleh negara, banyak rekan Abu Ali sekarang berhutang kepada bank atau lintah darat dan harus menjual tanah atau properti untuk membayar cicilan.

Untuk menghindari nasib yang sama, Abu Ali pada 2019 mulai menanam ganja, atau getah ganja, yang biaya produksinya 4 kali lebih murah dari pada kentang atau kacang hijau.

Ganja juga membutuhkan lebih sedikit air dan pupuk, sementara permintaan pasar yang kuat berarti dia dapat memperoleh pendapatan yang stabil untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun.

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X