Berakhirnya Era Castro Setelah 6 Dekade, Partai Komunis Kuba Tunjuk Pemimpin Baru

Kompas.com - 21/04/2021, 22:30 WIB
Presiden pertama Indonesia, Sukarno (tengah), berbincang dengan Presiden Kuba Osvaldo Dorticos (kiri) dan Perdana Menteri Kuba Fidel Castro (kanan) dalam kunjungan kenegaraan ke Kuba pada 1960. Fidel Castro dan adiknya, Raul, belakangan memimpin Kuba selama enam dekade. GETTY IMAGES via BBC INDONESIAPresiden pertama Indonesia, Sukarno (tengah), berbincang dengan Presiden Kuba Osvaldo Dorticos (kiri) dan Perdana Menteri Kuba Fidel Castro (kanan) dalam kunjungan kenegaraan ke Kuba pada 1960. Fidel Castro dan adiknya, Raul, belakangan memimpin Kuba selama enam dekade.

HAVANA, KOMPAS.com - Partai Komunis Kuba mengumumkan Miguel Diaz-Canel akan menggantikan Raul Castro sebagai pemimpin partai tersebut sekaligus menandai berakhirnya era Castro bersaudara.

Diaz-Canel, yang pada 2018 lalu menggantikan Raul Castro sebagai presiden Kuba, sudah sejak lama digadang-gadang bakal menyandang jabatan pemimpin partai.

Ketika hal itu terealisasi, untuk pertama kalinya sejak revolusi pada 1959, Kuba praktis tak lagi dipimpin Fidel atau Raul Castro.

Berbicara pada Jumat (16/4/20201), ketika Diaz-Canel belum secara resmi menjabat sekretaris pertama Partai Komunis Kuba, Raal Castro mengatakan bahwa dirinya akan menyerahkan tampuk kepemimpinan kepada generasi muda yang penuh hasrat dan semangat anti-imperialis.

Baca juga: Kekuasaan Fidel Castro dan Adiknya Berakhir, Warga Kuba di AS Gembira

Siapa Miguel Diaz-Canel?

Diaz-Canel, yang berusia 60 tahun, tak bisa dianggap muda. Namun, usianya 30 tahun di bawah usia Castro.

Meskipun dia dilahirkan setelah Revolusi Kuba, dia dipandang sebagai sosok yang setia kepada Castro bersaudara dan model ekonomi mereka.

Dia memulai karier politiknya pada usia 20 tahunan, sebagai anggota Liga Komunis Muda di Santa Clara—kota yang memiliki mausoleum Che Guevara, sahabat Castro bersaudara dalam Revolusi Kuba.

Diaz-Canel membangun kariernya sebagai kader Partai Komunis Kuba hingga menjadi Menteri Pendidikan Tinggi Kuba pada 2009.

Baca juga: Akhir Dinasti Castro, Raul Mengundurkan Diri dari Partai Komunis Kuba

Pada 2013, dia menjadi wakil ketua dewan negara yang punya pengaruh besar. Selang lima tahun kemudian, dia terpilih sebagai presiden Kuba oleh Majelis Nasional dengan perolehan 99,83 persen suara.

Di bawah kepemimpinan Diaz-Canel, Kuba mempertahankan hubungan dengan Korea Utara, China, Rusia, Bolivia, dan Venezuela.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X