Kompas.com - 17/04/2021, 14:58 WIB
Seorang bocah melintasi mural yang menggambarkan Zalmay Khalilzad (kiri), utusan damai dari Washington dan Mullah Abdul Ghani Barada (kanan) kepala delegasi Taliban, di Kabul (5/5/2020). AP PHOTO/R GUL via DW INDONESIASeorang bocah melintasi mural yang menggambarkan Zalmay Khalilzad (kiri), utusan damai dari Washington dan Mullah Abdul Ghani Barada (kanan) kepala delegasi Taliban, di Kabul (5/5/2020).

KABUL, KOMPAS.com - Setelah hampir dua dekade bertempur melawan Taliban di Afghanistan, Amerika Serikat bersiap hengkang untuk membuka jalan bagi terbentuknya pemerintahan bersatu.

Selambatnya 11 September Mei 2021, begitu kata Presiden Joe Biden, AS akan mulai menarik mundur semua pasukannya di Afghanistan.

Rencana penarikan mundur militer AS tidak digantungkan pada situasi di lapangan – kendati kekhawatiran yang menyeruak perihal kembalinya Taliban.

Baca juga: AS Tarik Pasukan dari Afghanistan, Taliban: Kami Menang Perang

"Presiden Biden menyimpulkan, pendekatan berbasis kondisi yang digunakan selama dua dekade ini, adalah resep untuk bertahan selamanya di Afghanistan,” kata seorang pejabat tinggi pemerintah di Washington yang minta namanya dirahasiakan, Selasa (13/4/2021).

Jerman akan mengikuti langkah AS dan memulangkan pasukannya dari Afghanistan, kata Menteri Pertahanan Annegret Kramp-Karrenbauer dalam sebuah wawancara, Rabu (14/4/2021).

"Kami selalu mengatakan bahwa kita masuk dan keluar sama-sama,” katanya kepada stasiun televisi ARD. "Saya mendukung penarikan mundur yang tertib.”

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bekas Presiden AS, Donald Trump, sedianya menegaskan tanggal 1 Mei sebagai tenggat penarikan mundur militer. Tapi Biden menunda selama lima bulan.

Keputusan total Biden mengejutkan banyak pengamat, yang berharap pemerintahan baru AS akan meralat kebijakan Trump di Afghanistan yang diyakini ikut membesarkan Taliban

Baca juga: Biden Akan Tarik Semua Pasukan AS, Banyak Masyarakat Afghanistan Merasa Terancam

Kemenangan bagi Taliban?

Intensitas serangan berdarah di Afghanistan menguat sejak ratifikasi perjanjian damai antara AS dan Taliban di Doha, Qatar, Februari 2020.

Taliban menepis tuduhan terlibat dalam serangan-serangan tersebut. Tapi keengganan mereka menyepakati gencatan senjata secara nasional mencuatkan keraguan.

Para talib yang saat ini kian berkuasa juga menolak menghadiri konferensi damai di Turki, sampai semua militer asing angkat kaki dari Afghanistan.

"Hasil konferensi Afghanistan di Turki nanti akan ditentukan oleh bagaimana penarikan mundur pasukan AS akan berdampak pada masa depan negara ini,” kata Mohammad Shafiq Hamdam, seorang pengamat keamanan di Kabul.

Menurutnya, jika Konferensi Istanbul berhasil menyepakati sebuah pemerintahan persatuan nasional, maka dampak buruk penarikan mundur militer AS akan lebih mudah ditanggulangi. "Tapi jika konferensi gagal, dan Taliban ngotot menolak damai, saya khawatir Afghanistan akan mengalami perang saudara besar-besaran.”

Baca juga: Joe Biden Bakal Tarik Pasukan AS dari Afghanistan: Perang Terlama akan Berakhir

Keputusan mundur AS juga akan menempatkan pemerintahan Presiden Ashraf Ghani di bawah ampunan Taliban. Belum lama ini dinas rahasia AS merilis laporan yang menyimpulkan militer Afghanistan akan "kewalahan” melawan Taliban yang kian "percaya diri.”

Laporan itu mencatat betapa Taliban "sepenuhnya yakin akan mampu membukukan kemenangan militer.”

"Pasukan Afghanistan masih menguasai kota-kota besar dan benteng pemerintah lain, tapi mereka semakin terdesak dan kesulitan mempertahankan wilayah yang direbut, atau mendirikan pos pertahanan di wilayah yang ditinggalkan pada 2020,” demikian laporan CIA.

Analis keamanan, Hamdam, mengatakan pasukan pemerintah Afghanistan "bergantung secara finansial dan militer kepada AS, dan tanpa dukungan ini, mereka akan berada dalam posisi sulit.”

Taliban bukan satu-satunya ancaman keamanan bagi pasukan Afghan. Kelompok militan lain, seperti Islamic State (ISIS), juga mulai melebarkan sayap.

"Taliban saat ini jauh lebih kuat ketimbang sebelumnya,” kata Raihana Azad, anggota parlemen Afghanistan.

"ISIS dan kelompok teroris lain juga sudah memperluas pengaruhnya di Afghanistan. Sebab itu konsekuensi dari penarikan mundur dari Afghanistan yang tergesa-gesa dan tidak bertanggungjawab, bisa sangat berbahaya tidak hanya bagi Afghanistan, tapi juga buat kawasan dan dunia,” imbuhnya kepada DW.

Baca juga: Intelijen AS Waspadai Afghanistan Akan Segera Dikuasai Milisi Taliban

"Bukan alasan untuk perang"

Saat ini kekhawatiran terbesar menyangkut pencapaian selama dua dekade, terutama dalam hak perempuan, yang terancam hilang ketika Taliban melancarkan gelombang baru pertumpahan darah. Tidak jelas bagaimana Taliban ingin menjamin perlindungan HAM dan kebebasan berpendapat di Afghanistan

"AS membuat terlampau banyak konsesi kepada Taliban. Warga Afghanistan akan harus membayar ongkosnya. Mereka merasa ditinggalkan oleh komunitas internasional,” tutur Azad, anggota dewan.

Meski begitu, sebagian pakar meyakini penarikan mundur militer AS turut menempatkan Taliban dalam posisi sulit.

"Dengan mengumumkan penarikan mundur tanpa syarat, AS menerima tuntutan utama Taliban. Sekarang dunia internasional menunggu Taliban bergabung dalam proses politik. Tidak ada lagi alasan mengobarkan perang,” kata Asadullah Nadim, pakar militer di Kabul kepada DW.

Peran yang lebih besar bagi Pakistan?

Keputusan Biden juga menguntungkan kekuatan regional lain, yang mengincar pengaruh yang lebih besar di Afghanistan. Pakistan, India, China dan Rusia memiliki kepentingan strategisnya sendiri, yang akan lebih mudah dipertahankan tanpa keberadaan pasukan AS di Afghanistan.

Menteri Luar Negeri Pakistan, Shah Mahmodd Qureshi, mengatakan kepada DW bahwa Islamabad tetap memainkan peranan penting dalam proses perdamaian di negara jiran. "Pakistan akan diuntungkan oleh perdamaian di Afghanistan,” kata dia.

"Perdamaian ini akan membuka perdagangan yang lebih deras dengan Kabul, dan banyak proyek pembangunan yang ditunda kini bisa dilanjutkan kembali,” imbuhnya.

Pakistan berebut pengaruh dengan India di Afghanistan, terutama sejak invasi AS pada 2001 silam.

Pakar mengatakan, perjanjian damai 2020 antara Taliban dan AS mustahil terwujud tanpa dukungan Pakistan. Pemerintah Islamabad memiliki pengaruh yang luas di kalangan Taliban, dan memainkan peran besar dalam membujuk pemberontak Islamis itu ke meja perundingan.

Pakistan menginginkan peran yang lebih besar bagi Taliban di dalam pemerintahan baru Afghanistan. Kepentingan nasionalnya akan lebih terjamin dengan kekuasaan Taliban di negara jiran. Tapi hal ini tidak menjamin perdamaian di Afghanistan.

Baca juga: Pengakuan JK Undang Taliban Makan ke Rumahnya: Dalam Rangka Perdamaian Afghanistan


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gara-gara Tersenyum, Pria Ini Gagal Selundupkan Emas yang Dicetak Jadi Gigi Palsu

Gara-gara Tersenyum, Pria Ini Gagal Selundupkan Emas yang Dicetak Jadi Gigi Palsu

Global
Unit Kedua PLTN Barakah Tersambung Jaringan Listik UEA

Unit Kedua PLTN Barakah Tersambung Jaringan Listik UEA

Global
Video Penembakan di Universitas Rusia, Mahasiswa Panik Lompat dari Jendela

Video Penembakan di Universitas Rusia, Mahasiswa Panik Lompat dari Jendela

Global
Saat Wanita Afghanistan Marah dan Kecewa Dilarang Taliban Bekerja...

Saat Wanita Afghanistan Marah dan Kecewa Dilarang Taliban Bekerja...

Global
Penembakan di Kampus Rusia, Mahasiswa Bersenjata Tewaskan 8 Orang

Penembakan di Kampus Rusia, Mahasiswa Bersenjata Tewaskan 8 Orang

Global
Korut Sebut Pakta Keamanan AS-Inggris-Australia Picu Perlombaan Senjata Nuklir

Korut Sebut Pakta Keamanan AS-Inggris-Australia Picu Perlombaan Senjata Nuklir

Global
Partai Putin Klaim Raih Suara Mayoritas 2/3 di Pemilu Parlemen Rusia

Partai Putin Klaim Raih Suara Mayoritas 2/3 di Pemilu Parlemen Rusia

Global
Ada Jenazah Ditemukan, Diduga Gadis Bernama Gabby Petito yang Menghilang

Ada Jenazah Ditemukan, Diduga Gadis Bernama Gabby Petito yang Menghilang

Global
Kerap Disebut Tertinggi di Dunia, Orang-orang Negara Ini Kini Semakin Pendek

Kerap Disebut Tertinggi di Dunia, Orang-orang Negara Ini Kini Semakin Pendek

Global
Jalalabad Diguncang Ledakan Kelima, Targetkan Kendaraan Taliban

Jalalabad Diguncang Ledakan Kelima, Targetkan Kendaraan Taliban

Global
Australia, Inggris dan Amerika Serikat – Di mana Indonesia?

Australia, Inggris dan Amerika Serikat – Di mana Indonesia?

Global
Korut Ejek Uji Coba Rudal Balistik Kapal Selam Korsel, Disebut Kikuk dan Belum Sempurna

Korut Ejek Uji Coba Rudal Balistik Kapal Selam Korsel, Disebut Kikuk dan Belum Sempurna

Global
Momen Menegangkan Berjalan di Seutas Tali Sepanjang 600 Meter dari Menara Eiffel

Momen Menegangkan Berjalan di Seutas Tali Sepanjang 600 Meter dari Menara Eiffel

Global
Hari Terakhir Kampanye Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Sindir Pesaingnya

Hari Terakhir Kampanye Pemilu Kanada, PM Justin Trudeau Sindir Pesaingnya

Global
TNI AL Bakal Punya Dua Fregat Arrowhead 140 Baru, Dibangun PT PAL

TNI AL Bakal Punya Dua Fregat Arrowhead 140 Baru, Dibangun PT PAL

Global
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.