Penembakan Indianapolis: Gedung Putih Kibarkan Bendera Setengah Tiang

Kompas.com - 17/04/2021, 07:02 WIB
Bendera Amerika berkibar setengah tiang di atas Gedung Putih di Washington DC, Jumat, 16 April 2021. AP PHOTO/SUSAN WALSHBendera Amerika berkibar setengah tiang di atas Gedung Putih di Washington DC, Jumat, 16 April 2021.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden perintahkan pengibaran bendera setengah tiang di Gedung Putih, setelah mendapat kabar tentang penembakan massal di fasilitas gedung FedEx di Indianapolis, Indiana.

"Tadi malam hingga pagi hari di Indianapolis, lagi-lagi keluarga harus menunggu untuk mendengar kabar tentang nasib orang yang mereka cintai. Betapa kejamnya penantian dan takdir yang telah menjadi terlalu normal dan terjadi setiap hari di suatu tempat di negara kita," kata Biden dalam sebuah pernyataan melansir CNN pada pada Sabtu (17/4/2021).

Menurutnya kekerasan senjata sudah menjadi epidemi di Amerika Serikat. Dia menuntut agar semua pihak tidak menerima hal ini dengan remeh dan segera bertindak.

Baca juga: Penembakan Indianapolis 8 Tewas, Pelaku Teridentifikasi Berusia 19 Tahun

Sementara menunggu detail kritis tentang penembakan itu, motivasinya, dan informasi penting lainnya, Biden memerintahkan untuk menurunkan bendera setengah staf di Gedung Putih, gedung pemerintah dan pekarangan umum, serta pos militer dan kedutaan.

Ini adalah penembakan massal yang terjadi hanya selang seminggu dari kunjungan Joe di Rose Garden, dengan keluarga yang kehilangan anak-anak dan teman-teman tersayang dalam indiden pebembakan.

“Minggu lalu, saya meminta Departemen Kehakiman untuk lebih melindungi orang Amerika dari kekerasan senjata.” kata Biden.

"Saya juga mendesak Kongres untuk mendengarkan seruan rakyat Amerika, termasuk sebagian besar pemilik senjata, untuk memberlakukan undang-undang pencegahan kekerasan senjata yang masuk akal, seperti pemeriksaan latar belakang universal dan larangan senjata perang dan majalah berkapasitas tinggi.

Baca juga: Saksi Penembakan Indianapolis: Penembak Bawa Senapan Mesin, Senjata Otomatis

Seorang pria bersenjata membunuh delapan orang dan melukai beberapa lainnya di kegelapan malam.

Insiden ini hanyalah yang terbaru dari serangkaian tragedi penembakan di “Negeri Paman Sam.”

Belum lama, orang-orang bersenjata menembakkan peluru di siang hari bolong di spa di dan sekitar Atlanta, Georgia, toko bahan makanan di Boulder, Colorado, sebuah rumah di Rock Hill, Carolina Selatan, dan banyak penembakan lainnya.

Setidaknya ada 147 penembakan massal di AS pada 2021, menurut data dari The Gun Violence Archive (CVA).

The Gun Violence Archive (GVA), sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Washington DC, adalah kelompok penelitian independen yang tidak berafiliasi dengan organisasi advokasi mana pun, menurut situs webnya.

Baca juga: Penembakan di Indianapolis AS: Korban Beberapa Orang, Pelaku Tewas Bunuh Diri

CNN dan GVA menganggap sebuah insiden sebagai penembakan massal jika empat orang atau lebih ditembak, terluka, atau dibunuh, tidak termasuk pria bersenjata itu.

Sejak 16 Maret, setidaknya ada 45 penembakan massal di seluruh negeri, CNN melaporkan.


Sumber CNN
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Masjid Al-Aqsa, Titik Pertikaian Panjang Palestina-Israel

Masjid Al-Aqsa, Titik Pertikaian Panjang Palestina-Israel

Global
Tuduhan Trump Bayar Uang Tutup Mulut ke Bintang Porno di Pilpres AS 2016 Ditutup

Tuduhan Trump Bayar Uang Tutup Mulut ke Bintang Porno di Pilpres AS 2016 Ditutup

Global
Bayi di Filipina Diberi Nama Ghlynnyl Hylhyr Yzzyghyl, Ini Alasannya

Bayi di Filipina Diberi Nama Ghlynnyl Hylhyr Yzzyghyl, Ini Alasannya

Global
Panjang Daftar Tunggu Tempat Tidur Setiap RS India Capai 75 Nama, Dokter Mengaku Hancur

Panjang Daftar Tunggu Tempat Tidur Setiap RS India Capai 75 Nama, Dokter Mengaku Hancur

Global
Warga Palestina Bentrok dengan Polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, 136 Orang Terluka

Warga Palestina Bentrok dengan Polisi Israel di Masjid Al-Aqsa, 136 Orang Terluka

Global
Vaksin Covid-19 Sinopharm Asal China Dapat Persetujuan WHO

Vaksin Covid-19 Sinopharm Asal China Dapat Persetujuan WHO

Global
Populer Global: Nenek Menang Lotre Rp 400 Miliar | Penyebab Buruknya Tsunami Covid-19 di India

Populer Global: Nenek Menang Lotre Rp 400 Miliar | Penyebab Buruknya Tsunami Covid-19 di India

Global
Blue Book Uni Eropa-ASEAN 2021 Tandai Kerja Sama 44 Tahun

Blue Book Uni Eropa-ASEAN 2021 Tandai Kerja Sama 44 Tahun

Global
Biografi Tokoh Dunia: Abu Nawas, Penyair Tersohor Arab yang Kontroversial

Biografi Tokoh Dunia: Abu Nawas, Penyair Tersohor Arab yang Kontroversial

Internasional
Koran Perancis Ungkap Perusahaan Energi Total “Danai” Junta Militer Myanmar

Koran Perancis Ungkap Perusahaan Energi Total “Danai” Junta Militer Myanmar

Global
Afrika Berpotensi Jadi Medan Perang AS-China, Kenapa?

Afrika Berpotensi Jadi Medan Perang AS-China, Kenapa?

Global
Korea Utara Disebut Mau Melucuti Senjata Nuklirnya, Asalkan…

Korea Utara Disebut Mau Melucuti Senjata Nuklirnya, Asalkan…

Global
3 Teka-teki Kematian Misterius yang Masih Belum Terpecahkan

3 Teka-teki Kematian Misterius yang Masih Belum Terpecahkan

Global
Baru Berusia 10 Tahun, Gadis Ini Hafal Ibu Kota dan Mata Uang 196 Negara

Baru Berusia 10 Tahun, Gadis Ini Hafal Ibu Kota dan Mata Uang 196 Negara

Global
25 Tewas saat Polisi Brasil Gerebek Pengedar Narkoba, PBB Prihatin

25 Tewas saat Polisi Brasil Gerebek Pengedar Narkoba, PBB Prihatin

Global
komentar
Close Ads X