Rusia Ancam Balas Sanksi yang "Tak Bisa Dihindari" AS

Kompas.com - 16/04/2021, 08:09 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin sedang mendengarkan selama pertemuan di Kremlin, di Moskow, Rusia, Kamis, 19 November 2020. AP/Alexei NikolskyPresiden Rusia Vladimir Putin sedang mendengarkan selama pertemuan di Kremlin, di Moskow, Rusia, Kamis, 19 November 2020.

MOSKWA, KOMPAS.com - Juru bicara kementerian luar negeri Maria Zakharova mengatakan pada Kamis (15/4/2021) bahwa Rusia akan memberi balasan yang "tak bisa dihindari" Amerika Serikat (AS) atas sanksi yang diberikan.

Rusia juga sudah memanggil duta besar AS untuk Moskwa, John Sullivan, seperti yang dilansir dari AFP pada Kamis (15/4/2021).

AS pada Kamis pagi waktu setempat, mengumumkan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan pengusiran 10 diplomatnya sebagai pembalasan atas dugaan campur tangan pemilu AS, serangan siber besar-besaran, dan aktivitas permusuhan.

Baca juga: Tegang dengan Ukraina, Rusia Tank Catnya dengan Garis Invasi

"AS tidak belum siap untuk menerima kenyataan secara obyektif bahwa ada dunia multipolar yang menolak hegemoni Amerika," ujar Zakharova dalam siaran televisi.

"Kami telah berulang kali memperingatkan AS tentang konsekuensi langkah permusuhan, yang secara berbahaya meningkatkan tingkat konfrontasi antara negara kita," ungkapnya.

"Tanggapan terhadap sanksi (Rusia) tidak bisa dihindari," tambahnya.

Baca juga: AS Bakal Sanksi Rusia atas Tuduhan Peretasan dan Intervensi Pilpres

Zakharova juga mengatakan Kementerian Luar Negeri Rusia telah memanggil Duta Besar AS Sullivan untuk pembicaraan yang katanya "akan sulit untuk pihak Amerika".

Sanksi AS muncul setelah ketegangan meningkat dalam beberapa pekan terakhir, dengan pasukan Rusia mengerumuni perbatasannya dengan Ukraina dan sekutu Barat, Kiev, meminta Moskwa untuk mundur.

Baca juga: Biden Ajak Putin Bertemu, Rusia Menganggapnya Sebagai Kemenangan

Hubungan kedua negara ini sudah jatuh sejak bulan lalu, ketika Presiden AS Joe Biden setuju untuk mendeskripsikan Presiden Rusia Vladimir Putin sebagai "pembunuh".

"Washington harus menyadari bahwa ia harus membayar untuk degradasi hubungan bilateral," kata Zakharova, Kamis (15/4/2021).

"Tanggung jawab atas apa yang terjadi sepenuhnya terletak pada Amerika Serikat," ucapnya.

Baca juga: Terungkap, Rusia Sebenarnya Enggan Berkonflik Langsung dengan AS

Hubungan telah jatuh bebas sejak 2014, ketika Rusia mencaplok Krimea dari Ukraina dan pertempuran meletus antara pasukan Kiev dan separatis pro-Rusia di timur.

Amerika Serikat selama bertahun-tahun sejak itu menyerang Rusia dengan serangkaian sanksi termasuk atas dugaan peretasan pemilihan presiden 2016 dan pemenjaraan kritikus Kremlin Alexei Navalny baru-baru ini.

Baca juga: NATO Minta Rusia Hentikan Eskalasi Militer di Ukraina untuk Cegah Konflik Meluas


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Hotel Bioskop Semakin Populer di China

Hotel Bioskop Semakin Populer di China

Global
Warga Muslim India Padati Pasar untuk Persiapan Idul Fitri, Abaikan Prokes

Warga Muslim India Padati Pasar untuk Persiapan Idul Fitri, Abaikan Prokes

Global
Wisata Luar Angkasa Siap Diuji Coba, Harga Tiket Hampir Rp 3 Miliar

Wisata Luar Angkasa Siap Diuji Coba, Harga Tiket Hampir Rp 3 Miliar

Global
Kota Kecil di Brasil Sukses Turunkan Kasus Covid-19 dengan 95 Persen Vaksinasi

Kota Kecil di Brasil Sukses Turunkan Kasus Covid-19 dengan 95 Persen Vaksinasi

Global
Potret Kuburan Sepeda di China, Hamparan Sampah Bekas Fasilitas Umum

Potret Kuburan Sepeda di China, Hamparan Sampah Bekas Fasilitas Umum

Global
Kisah Desa yang Tolak Proyek Internet Elon Musk, Khawatir Sinyal Ganggu Ternak

Kisah Desa yang Tolak Proyek Internet Elon Musk, Khawatir Sinyal Ganggu Ternak

Global
Uganda Buat UU Larang Tumbal Anak agar Orangtua Cepat Kaya, Pelanggar Dihukum Mati

Uganda Buat UU Larang Tumbal Anak agar Orangtua Cepat Kaya, Pelanggar Dihukum Mati

Global
China Remehkan Prediksi Roketnya Jatuh Tanpa Kendali ke Bumi

China Remehkan Prediksi Roketnya Jatuh Tanpa Kendali ke Bumi

Global
Trauma Diperkosa Sejak Kecil, Wanita di Singapura Berupaya Bunuh Putra Kandungnya

Trauma Diperkosa Sejak Kecil, Wanita di Singapura Berupaya Bunuh Putra Kandungnya

Global
Dubai Buka Restoran Tanpa Tirai Penutup Selama Ramadhan

Dubai Buka Restoran Tanpa Tirai Penutup Selama Ramadhan

Global
Wanita Ini 5 Kali Hamil dan Melahirkan Supaya Tidak Masuk Penjara

Wanita Ini 5 Kali Hamil dan Melahirkan Supaya Tidak Masuk Penjara

Global
Penerima Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Vietnam Meninggal Sehari setelah Disuntik

Penerima Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Vietnam Meninggal Sehari setelah Disuntik

Global
Tembus Pandang, Inilah Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia, Berani Coba?

Tembus Pandang, Inilah Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia, Berani Coba?

Global
156 Kotak Misteri Disita di China, Berisi Anak Anjing dan Kucing dengan Kondisi Memprihatinkan

156 Kotak Misteri Disita di China, Berisi Anak Anjing dan Kucing dengan Kondisi Memprihatinkan

Global
Agar Anaknya Aman, Wanita Bangun Jembatan Penyeberangan dari Uang Sendiri, Habis Rp 2,1 Miliar

Agar Anaknya Aman, Wanita Bangun Jembatan Penyeberangan dari Uang Sendiri, Habis Rp 2,1 Miliar

Global
komentar
Close Ads X