Perancis Imbau Semua Warganya Tinggalkan Pakistan, Ada Apa?

Kompas.com - 15/04/2021, 19:08 WIB
Polisi berjaga di dekat gedung Konsulat Perancis, menyusul maraknya demo anti-Perancis oleh massa pendukung partai ekstremis Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP), di Karachi pada Kamis (15/4/2021). AFP PHOTO/RIZWAN TABASSUMPolisi berjaga di dekat gedung Konsulat Perancis, menyusul maraknya demo anti-Perancis oleh massa pendukung partai ekstremis Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP), di Karachi pada Kamis (15/4/2021).

ISLAMABAD, KOMPAS.com - Kedutaan Besar Perancis di Pakistan pada Kamis (15/4/2021) mengimbau semua warga negara dan perusahaan asal negara tersebut untuk sementara meninggalkan Pakistan.

Alasannya adalah protes anti-Perancis yang sedang melanda Pakistan hingga melumpuhkan sebagian besar wilayah negara pekan ini.

"Karena ancaman serius terhadap kepentingan Perancis di Pakistan, warga negara Perancis dan perusahaan Perancis disarankan meninggalkan negara itu untuk sementara," tulis Kedubes Perancis kepada para warganya melalui e-mail.

Baca juga: Setelah Disuruh Squat, Kelamin Pria Pakistan Dipotong Sekelompok Orang

"Keberangkatan akan dilakukan oleh maskapai penerbangan komersial yang ada," tambahnya yang dikutip AFP.

Sentimen anti-Perancis membara selama berbulan-bulan di Pakistan, sejak pemerintahan Presiden Emmanuel Macron menyatakan dukungannya terhadap penerbitan ulang kartun Nabi Muhammad.

Pada Rabu (14/4/2021) Pemerintah Pakistan menutup partai politik ekstremis Tehreek-e-Labbaik Pakistan (TLP) yang pemimpinnya, Saad Rizvi, menyerukan pengusiran Duta Besar Perancis.

Rizvi ditahan beberapa jam setelah membuat tuntutannya, dan membawa ribuan pendukungnya ke jalan-jalan di kota-kota seantero Pakistan.

Baca juga: Perusahaan Pakistan Mulai Jual Vaksin Covid-19, Langsung Ludes dalam Hitungan Hari

Sebanyak dua polisi tewas dalam bentrokan itu. Aparat keamanan menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk membubarkan massa.

Pendukung TLP melumpuhkan ibu kota Islamabad pada November 2020 selama tiga hari, dengan serangkaian unjuk rasa anti-Perancis.

Penistaan agama adalah masalah yang sangat sensitif di Pakistan yang konservatif.

UU setempat mengizinkan hukuman mati dijatuhkan pada siapa pun yang dianggap menghina Islam atau tokoh agama tersebut.

Baca juga: Di Pakistan, Ada Madrasah Khusus Transgender Pertama yang Didirikan


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X