Inilah Kampung Swiss yang Ditinggalkan Warganya

Kompas.com - 15/04/2021, 15:11 WIB
Kampung Linescio, Provinsi Tessin, Swiss Selatan, yang dari tahun ke tahun kehilangan penduduknya. Mereka pergi karena di desa ini sulit untuk berkembang dan memilih hijrah hingga ke Amerika dan Australia. KOMPAS.com/KRISNA DIANTHAKampung Linescio, Provinsi Tessin, Swiss Selatan, yang dari tahun ke tahun kehilangan penduduknya. Mereka pergi karena di desa ini sulit untuk berkembang dan memilih hijrah hingga ke Amerika dan Australia.

ZURICH, KOMPAS.com - Musim mulai berganti di Eropa, juga di Swiss. Tidak terkecuali di Linescio, Kampung terpencil di Swiss Selatan ini mulai menggeliat dari tidur panjangnya. Hangat datang, dingin mulai menghilang. Salju meleleh dan bunga bermekaran.

Tanda kehidupan itu makin nampak ketika kami menemukan sebuah cafe yang mulai membuka pintunya. "Untuk menyambut turis liburan Paskah,“ tutur Andrea, pengelolanya. Jika musim panas hilang, kafe itu juga menghilang. "Kembali tidur panjang,“ imbuh Andrea.

Musim dingin, desa ini menjadi desa mati. Turis pergi, dan penduduk lokal hanya keluar rumah seperlunya saja. Selebihnya, menghangatkan diri di depan perapian, sambil sesekali memandang perbukitan yang dialiri sungai Rovana.

Baca juga: 4 Destinasi Wisata di Swiss yang Memiliki Suasana Tenang

Musim dingin tidak banyak yang bisa dilihat di kampung ini. Bukan hanya turis yang enggan datang. Orang lokal, khususnya generasi muda, juga tidak kerasan. "Di Tessin, salah satunya desa ini, terkenal menjadi desa mati. Penduduknya sudah pergi,“ kata Andrea.

Menempel di lereng bukit Lombardia, berada di ketinggian 668 mdpl, tidak begitu mudah untuk menjangkaunya. Meskipun beraspal mulus, namun harus melewati jalur berliku liku. Di parkiran, plat mobil sebagian besar dari luar Linescio.

150 tahun silam, Linescio berpenduduk 243 jiwa. Kini, tinggal 20 orang. Sebagian besar hijrah ke kota kota besar lainnya, bahkan sampai Amerika dan Australia.

Menemukan orang yang ingin menjadi kepala desa, bukan pekerjaan muda. "Itulah ciri khas desa yang ditinggalkan penduduknya. Mau apalagi,“ kata Andrea.

Jika Linescio tidak ditinggalkan semua penduduknya, semua karena jasa Umberdo Floreo Hollenwerger. Pria asal Lucerne, Swiss Tengah ini, mendirikan hostelleria, penginapan murah meriah untuk turis massal pada 2016.

Turis diajak memotong rumput atau menata bebatuan untuk dinding rumah, arsitektur khas Tessin, Swiss Selatan.

Baca juga: Dijuluki Kota Separatis, Daerah di Swiss Ini Pilih Pindah Provinsi

Atau hanya bermalas malasan di tepi sungai Rovana. Ceruk bukit yang menjadi aliran Sungai Rovana, pada titik tertentu, mirip sungai berair hijau kebiruan di lembah Valle Verzasca, tetangga desa ini. Sungai di Valle Verzasca menjadi viral di dunia maya berkat airnya yang hijau kebiruan.

Halaman:

Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ledakan Bom di Sekolah Afghanistan, 40 Tewas termasuk Anak-anak

Ledakan Bom di Sekolah Afghanistan, 40 Tewas termasuk Anak-anak

Global
Unik Global: Wanita Berkali-kali Hamil, Hindari Hukuman Penjara | Emas dan Segepok Uang Ditemukan di Sofa Buangan

Unik Global: Wanita Berkali-kali Hamil, Hindari Hukuman Penjara | Emas dan Segepok Uang Ditemukan di Sofa Buangan

Global
Hotel Bioskop Semakin Populer di China

Hotel Bioskop Semakin Populer di China

Global
Warga Muslim India Padati Pasar untuk Persiapan Idul Fitri, Abaikan Prokes

Warga Muslim India Padati Pasar untuk Persiapan Idul Fitri, Abaikan Prokes

Global
Wisata Luar Angkasa Siap Diuji Coba, Harga Tiket Hampir Rp 3 Miliar

Wisata Luar Angkasa Siap Diuji Coba, Harga Tiket Hampir Rp 3 Miliar

Global
Kota Kecil di Brasil Sukses Turunkan Kasus Covid-19 dengan 95 Persen Vaksinasi

Kota Kecil di Brasil Sukses Turunkan Kasus Covid-19 dengan 95 Persen Vaksinasi

Global
Potret Kuburan Sepeda di China, Hamparan Sampah Bekas Fasilitas Umum

Potret Kuburan Sepeda di China, Hamparan Sampah Bekas Fasilitas Umum

Global
Kisah Desa yang Tolak Proyek Internet Elon Musk, Khawatir Sinyal Ganggu Ternak

Kisah Desa yang Tolak Proyek Internet Elon Musk, Khawatir Sinyal Ganggu Ternak

Global
Uganda Buat UU Larang Tumbal Anak agar Orangtua Cepat Kaya, Pelanggar Dihukum Mati

Uganda Buat UU Larang Tumbal Anak agar Orangtua Cepat Kaya, Pelanggar Dihukum Mati

Global
China Remehkan Prediksi Roketnya Jatuh Tanpa Kendali ke Bumi

China Remehkan Prediksi Roketnya Jatuh Tanpa Kendali ke Bumi

Global
Trauma Diperkosa Sejak Kecil, Wanita di Singapura Berupaya Bunuh Putra Kandungnya

Trauma Diperkosa Sejak Kecil, Wanita di Singapura Berupaya Bunuh Putra Kandungnya

Global
Dubai Buka Restoran Tanpa Tirai Penutup Selama Ramadhan

Dubai Buka Restoran Tanpa Tirai Penutup Selama Ramadhan

Global
Wanita Ini 5 Kali Hamil dan Melahirkan Supaya Tidak Masuk Penjara

Wanita Ini 5 Kali Hamil dan Melahirkan Supaya Tidak Masuk Penjara

Global
Penerima Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Vietnam Meninggal Sehari setelah Disuntik

Penerima Vaksin Covid-19 AstraZeneca di Vietnam Meninggal Sehari setelah Disuntik

Global
Tembus Pandang, Inilah Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia, Berani Coba?

Tembus Pandang, Inilah Jembatan Gantung Terpanjang di Dunia, Berani Coba?

Global
komentar
Close Ads X