Joe Biden Bakal Tarik Pasukan AS dari Afghanistan: Perang Terlama akan Berakhir

Kompas.com - 15/04/2021, 05:34 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menjawab pertanyaan dalam konferensi pers perdananya di Ruangan Timur Gedung Putih, Washington DC, pada 25 Maret 2021. AFP PHOTO/JIM WATSONPresiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden menjawab pertanyaan dalam konferensi pers perdananya di Ruangan Timur Gedung Putih, Washington DC, pada 25 Maret 2021.

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden mengatakan, sudah waktunya bagi AS untuk mengakhiri perang terlama.

Hal itu tertuang dalam pernyataan yang dilihat AFP dan bakal dibacakan Biden pada Selasa (14/4/2021) waktu setempat saat mengumumkan akan menarik pasukan AS dari Afghanistan.

Baca juga: Seluruh Tentara AS di Afghanistan Bakal Ditarik pada 11 September

“Negeri Paman Sam” mulai mengirim pasukannya ke Afghanistan setelah tragedi serangan 11 September 2001 yang menyerang menara kembar World Trade Center (WTC) atau lebih dikenal serangan 9/11.

“Kini saya adalah presiden Amerika keempat yang memimpin kehadiran pasukan AS di Afghanistan. Saya tidak akan menyerahkan tanggung jawab ini kepada yang kelima,” kata Biden menurut pernyataan yang telah disiapkan.

Meski demikian, Biden mengatakan bahwa Washington akan terus mendukung pemerintah Afghanistan sebagaimana dilansir AFP.

Dia menambahkan, pekerjaan diplomatik dan kemanusiaan AS masih akan terus berlanjut. Namun, sambung Biden, AS tidak akan terlibat di Afghanistan secara militer.

Baca juga: Setelah AS, Negara Sekutunya Bakal Meninggalkan Afghanistan

Sebelumnya, pada Selasa (13/4/2021), sejumlah pejabat mengatakan penarikan pasukan AD dari Afghanistan akan dilakukan pada 11 September, memeringati serangan 9/11.

"Kami tidak dapat melanjutkan siklus untuk memperpanjang atau memperluas kehadiran militer di Afghanistan dengan harapan dapat menciptakan kondisi yang ideal," imbuh Biden menurut pernyataan yang telah disiapkan.

AS menginvasi Afghanistan pada 2001 lalu menggulingkan rezim Taliban yang represif nan ultra-konservatif.

Kala itu, rezim Taliban di Afghanistan menjadi “tuan tumah” yang ramah bagi gerakan teroris Al-Qaeda menjelang serangan 9/11.

Baca juga: Intelijen AS Waspadai Afghanistan Akan Segera Dikuasai Milisi Taliban

Halaman:

Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Fasilitas Secret Service Anak-anak Trump Usai Akhir Jabatan Rp 2 Miliar per Bulan, Ditanggung Pajak Negara

Fasilitas Secret Service Anak-anak Trump Usai Akhir Jabatan Rp 2 Miliar per Bulan, Ditanggung Pajak Negara

Global
Cerita Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan dan Kelaparan, Kini Ikut Pemilu di Inggris

Cerita Pembelot Korut Lolos dari Perbudakan dan Kelaparan, Kini Ikut Pemilu di Inggris

Global
Temuan Langka Lampu Minyak Lengkap dengan Sumbu Berusia 2.000 Tahun di Israel

Temuan Langka Lampu Minyak Lengkap dengan Sumbu Berusia 2.000 Tahun di Israel

Global
AL AS Sita Ribuan Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China di Laut Arab

AL AS Sita Ribuan Senjata Ilegal Buatan Rusia dan China di Laut Arab

Global
Pemerintahan Trump Ketahuan Intip Telepon 3 Jurnalis Washington Post

Pemerintahan Trump Ketahuan Intip Telepon 3 Jurnalis Washington Post

Global
Kastil Drakula Jadi Tempat Vaksinasi Covid-19 untuk Turis

Kastil Drakula Jadi Tempat Vaksinasi Covid-19 untuk Turis

Global
Covid-19 India Makin Ganas, Pensiunan Tenaga Kesehatan Militer Direkrut

Covid-19 India Makin Ganas, Pensiunan Tenaga Kesehatan Militer Direkrut

Global
KBRI Moskwa Gelar Final Permira Saat Hari Pendidikan Nasional

KBRI Moskwa Gelar Final Permira Saat Hari Pendidikan Nasional

Global
Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Para Pemimpin Islam: Salahuddin Ayyubi dan Kisah Kepemimpinan Selama Perang Salib

Internasional
Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam 'Russophobia' dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Putin Bersumpah Bela Kepentingan Nasional dan Mengecam "Russophobia" dalam Perayaan Kemenangan Perang Dunia II

Global
Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Calon Tentara AS Bajak Bus Sekolah, Malah Pusing Anak-anak Banyak Tanya

Global
Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Dua Pria Lemparkan Kantong Penuh Kecoak ke Restoran, Bertepatan Perjamuan Polisi

Global
Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Robert H Goddard: Pencipta Roket Pertama AS, Diremehkan Hampir Sepanjang Hidupnya

Internasional
Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Diplomat AS, China, dan Rusia Desak Kerja Sama, tapi Masih Bertikai

Global
China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

China Angkat Suara Setelah Roketnya Jatuh di Samudra Hindia

Global
komentar
Close Ads X