Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 10/04/2021, 14:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan, Inggris akan mendukung negara-negara Asia Tenggara dalam upaya menyelesaikan krisis di Myanmar.

Pernyataan ini disampaikan Menlu Retno setelah berbincang dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, dalam kunjungannya ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara yang mendesak pembicaraan tingkat tinggi antara para pemimpin Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) tentang Myanmar.

Baca juga: Inggris Beri Perlindungan Duta Besar Myanmar yang Diusir Junta Militer

Hampir 600 warga Myanmar tewas akibat kekerasan terhadap para demonstran yang menentang kudeta pada 1 Februari yang lalu.

"Kami membahas... bagaimana komunitas internasional, termasuk Inggris dapat mendukung upaya ASEAN untuk membantu Myanmar dalam menyelesaikan situasi ini," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam jumpa pers.

Sementara dalam pidatonya, Menlu Inggris, Dominic Raab menegaskan kembali komitmen Inggris untuk menegakkan hukum maritim internasional, menyuarakan lagi pernyataan dari Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa.

Mereka prihatin dengan aktivitas militer China di Laut China Selatan, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan global.

Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, Brunei, dan China masing-masing memiliki klaim di jalur perairan strategis itu.

Baca juga: Diusir dari Kedutaan, Dubes Myanmar untuk Inggris Tidur di Mobil

Di saat bersamaan, China telah banyak dikritik karena membangun fasilitas pertahanan di pulau-pulau buatan dan mengerahkan penjaga pantai dan ratusan kapal penangkap ikan di perairan yang disengketakan.

Menlu Dominic juga mengatakan Inggris berkomitmen untuk memastikan sistem yang didasarkan pada aturan ditegakkan, "Karena ini adalah pilar penting bagi keamanan regional dan global".

Kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman ekonomi dan perdagangan dan kontra-terorisme.

Namun, rincian isinya belum diketahui dengan jelas.

Inggris, yang pernah menjajah Myanmar, termasuk di antara negara pengkritik paling keras atas penggulingan pemerintah Aung San Suu Kyi oleh militer.

Inggris juga merupakan salah satu di antara beberapa negara Barat yang telah menjatuhkan atau memperketat sanksi terhadap para jenderal Myanmar dan jaringan militer monopoli bisnis sebagai tanggapan atas kudeta tersebut.

Sementara Indonesia sedang mencari cara untuk mengakhiri krisis melalui ASEAN, di mana Myanmar adalah salah satu anggotanya.

Namun, kebijakan ASEAN untuk tidak mencampuri dan membuat keputusan berdasarkan konsensus telah menghambat kemampuannya untuk bertindak secara tegas.

Baca juga: Perusahaan Permata Sumber Dana Militer Myanmar Dijatuhi Sanksi AS Saat Korban Capai 600 Jiwa

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya

Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com