Menlu Retno: Inggris Dukung ASEAN Dorong Resolusi Krisis di Myanmar

Kompas.com - 10/04/2021, 14:00 WIB
Menlu RI Retno Marsudi menyampaikan pidatonya saat jumpa pers dengan Menlu Jepang Toshimitsu Motegi di Jakarta (10/1/2020). REUTERS/AJENG DINAR UFIANA via ABC INDONESIAMenlu RI Retno Marsudi menyampaikan pidatonya saat jumpa pers dengan Menlu Jepang Toshimitsu Motegi di Jakarta (10/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi mengatakan, Inggris akan mendukung negara-negara Asia Tenggara dalam upaya menyelesaikan krisis di Myanmar.

Pernyataan ini disampaikan Menlu Retno setelah berbincang dengan Menteri Luar Negeri Inggris, Dominic Raab, dalam kunjungannya ke Indonesia.

Indonesia adalah salah satu dari beberapa negara yang mendesak pembicaraan tingkat tinggi antara para pemimpin Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) tentang Myanmar.

Baca juga: Inggris Beri Perlindungan Duta Besar Myanmar yang Diusir Junta Militer

Hampir 600 warga Myanmar tewas akibat kekerasan terhadap para demonstran yang menentang kudeta pada 1 Februari yang lalu.

"Kami membahas... bagaimana komunitas internasional, termasuk Inggris dapat mendukung upaya ASEAN untuk membantu Myanmar dalam menyelesaikan situasi ini," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam jumpa pers.

Sementara dalam pidatonya, Menlu Inggris, Dominic Raab menegaskan kembali komitmen Inggris untuk menegakkan hukum maritim internasional, menyuarakan lagi pernyataan dari Amerika Serikat, Australia, dan Uni Eropa.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Mereka prihatin dengan aktivitas militer China di Laut China Selatan, yang merupakan jalur vital bagi perdagangan global.

Vietnam, Filipina, Taiwan, Malaysia, Brunei, dan China masing-masing memiliki klaim di jalur perairan strategis itu.

Baca juga: Diusir dari Kedutaan, Dubes Myanmar untuk Inggris Tidur di Mobil

Di saat bersamaan, China telah banyak dikritik karena membangun fasilitas pertahanan di pulau-pulau buatan dan mengerahkan penjaga pantai dan ratusan kapal penangkap ikan di perairan yang disengketakan.

Menlu Dominic juga mengatakan Inggris berkomitmen untuk memastikan sistem yang didasarkan pada aturan ditegakkan, "Karena ini adalah pilar penting bagi keamanan regional dan global".

Kedua negara juga menandatangani nota kesepahaman ekonomi dan perdagangan dan kontra-terorisme.

Namun, rincian isinya belum diketahui dengan jelas.

Inggris, yang pernah menjajah Myanmar, termasuk di antara negara pengkritik paling keras atas penggulingan pemerintah Aung San Suu Kyi oleh militer.

Inggris juga merupakan salah satu di antara beberapa negara Barat yang telah menjatuhkan atau memperketat sanksi terhadap para jenderal Myanmar dan jaringan militer monopoli bisnis sebagai tanggapan atas kudeta tersebut.

Sementara Indonesia sedang mencari cara untuk mengakhiri krisis melalui ASEAN, di mana Myanmar adalah salah satu anggotanya.

Namun, kebijakan ASEAN untuk tidak mencampuri dan membuat keputusan berdasarkan konsensus telah menghambat kemampuannya untuk bertindak secara tegas.

Baca juga: Perusahaan Permata Sumber Dana Militer Myanmar Dijatuhi Sanksi AS Saat Korban Capai 600 Jiwa


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

2 WNI Selamat dari Kebakaran Rumah Australia yang Tewaskan 2 Orang

2 WNI Selamat dari Kebakaran Rumah Australia yang Tewaskan 2 Orang

Global
Telat Shalat Subuh, Arab Saudi Pecat Petugas Masjid Nabawi

Telat Shalat Subuh, Arab Saudi Pecat Petugas Masjid Nabawi

Global
Mata-mata China yang Ditahan Singapura Dulunya Mahasiswa AS

Mata-mata China yang Ditahan Singapura Dulunya Mahasiswa AS

Global
Duterte Tolak Penyelidikan Internasional soal Korban Tewas dalam Perang Anti-narkoba

Duterte Tolak Penyelidikan Internasional soal Korban Tewas dalam Perang Anti-narkoba

Global
Ketegangan Meningkat, AS Kirim Kapal Induk USS Ronald Reagan ke Laut China Selatan

Ketegangan Meningkat, AS Kirim Kapal Induk USS Ronald Reagan ke Laut China Selatan

Global
Jelang Pertemuan Biden-Putin, Rusia Luncurkan Rudal Hipersonik Kinzhal

Jelang Pertemuan Biden-Putin, Rusia Luncurkan Rudal Hipersonik Kinzhal

Global
Tragedi Konyol Pemimpin Klan Samurai Jepang Tewas Hanya karena Kentut

Tragedi Konyol Pemimpin Klan Samurai Jepang Tewas Hanya karena Kentut

Internasional
Mantan PM Israel Sebut Iran Bersukacita karena Pemerintah Sekarang Lemah

Mantan PM Israel Sebut Iran Bersukacita karena Pemerintah Sekarang Lemah

Global
Video Mobil Tenggelam dalam Lubang yang Muncul Saat Hujan Lebat di Mumbai

Video Mobil Tenggelam dalam Lubang yang Muncul Saat Hujan Lebat di Mumbai

Global
Viral Video 2016 Perlihatkan Perusahaan Jepang Minta Maaf karena Naikkan Harga Es Krim

Viral Video 2016 Perlihatkan Perusahaan Jepang Minta Maaf karena Naikkan Harga Es Krim

Global
Presiden Ukraina Ngotot Ingin Bertemu Biden, Bahas Keanggotaan NATO

Presiden Ukraina Ngotot Ingin Bertemu Biden, Bahas Keanggotaan NATO

Global
Tersangka Pembunuhan Keluarga Muslim Kanada Didakwa atas Aksi Terorisme

Tersangka Pembunuhan Keluarga Muslim Kanada Didakwa atas Aksi Terorisme

Global
Kuburan Massal Berisi 123 Korban ISIS Terungkap 2 Tahun setelah Kekalahan Kelompok Itu

Kuburan Massal Berisi 123 Korban ISIS Terungkap 2 Tahun setelah Kekalahan Kelompok Itu

Global
Hindari Lockdown, Pegawai Microsoft Sempat Harus Tidur di Pusat Data

Hindari Lockdown, Pegawai Microsoft Sempat Harus Tidur di Pusat Data

Global
Hamas Desak Warga Palestina “Lawan” Parade Bendera Israel di Yerusalem

Hamas Desak Warga Palestina “Lawan” Parade Bendera Israel di Yerusalem

Global
komentar
Close Ads X