Kompas.com - 06/04/2021, 19:54 WIB
Polisi bergerak maju untuk membubarkan massa anti-kudeta di Mandalay, Myanmar, pada Sabtu (20/2/2021). Aparat keamanan bertindak lebh keras dengan menggunakan peluru tajam, setelah meriam air dan peluru karet tidak berhasil menghalau demonstran. AP PHOTOSPolisi bergerak maju untuk membubarkan massa anti-kudeta di Mandalay, Myanmar, pada Sabtu (20/2/2021). Aparat keamanan bertindak lebh keras dengan menggunakan peluru tajam, setelah meriam air dan peluru karet tidak berhasil menghalau demonstran.

MOSKWA, KOMPAS.com - Rusia menyatakan, mereka menentang jika junta militer Myanmar mendapatkan sanksi, karena bisa memperburuk situasi.

Juru bicara kementerian luar negeri menuturkan, menghukum Tatmadaw, nama resmi junta, bisa makin memperbesar ancaman perang saudara.

"Langkah seperti ancaman, tekanan, hingga penggunaan sanksi terhadap otoritas Myanmar saat ini sangatlah berbahaya," jelas Kremlin dikutip Interfax.

Baca juga: Ketika Ratu Kecantikan Myanmar Berani Menentang Junta Militer

Menurut Rusia, menghukum junta militer dengan keras bakal mengeskalasi krisis hingga ke skala perang saudara.

Burma, nama lama Myanmar, berada dalam krisis sejak Tatmadaw melakukan kudeta yang menggulingkan pemerintahan sipil pada 1 Februari.

Berdasarkan keterangan grup pemantau lokal, lebih dari 500 demonstran yang turun ke jalan tewas menjadi korban kebrutalan aparat.

Negara kuat mencoba menekan junta dengan meluncurkan hukuman yang menyasar bisnis penting mereka, seperti perdagangan batu giok.

Dilansir AFP Selasa (6/4/2021), baik sanksi maupun seruan dunia dianggap tidak berhasil mendinginkan situasi di sana.

Pekan lalu, Dewan Keamanan PBB menyatakan mereka sangat khawatir dengan situasi yang semakin panas di Myanmar.

Adapun Rusia berusaha menjalin relasi dengan junta, di mana Wakil Menteri Pertahanan Alexander Fomin datang ke parade bulan lalu.

Peringatan Hari Angkatan Bersenjata tersebut dianggap hari paling berdarah, dengan ratusan orang terbunuh.

Adapun dalam parade itu, Kremlin menunjukkan persenjataan mereka seperti tank T-72, jet tempur MiG-29, hingga helikopter Mi-24.

Baca juga: Para Pemimpin ASEAN Bakal Bertemu Bahas Myanmar


Sumber AFP
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X